"to love or to be loved, to hate or to be hated, life is truly a choice"
oh, hi! always, always enjoy your visit :)


Sembilan menit tiga puluh lima detik

/

Saturday, June 24, 2017

Serendipity. Akhir-akhir ini Anya sering sekali mendengar istilah itu digaungkan di mana-mana; judul novel, twitter, blog, artikel, tumblr. Many people think that word is somehow romantic. Finding something good without actually looking. An unexpected beautiful meeting.
Seperti sebuah pertemuan yang tidak direncanakan.. How romantic.
Bah.
Menurut Anya, si hopeless romantic yang ujung-ujungnya cuma hopeless ini, the word 'Serendipity' is overrated. Terlalu diagung-agungkan. Alasannya jelas. Karena menurutnya:
Pertama, kita nyaris setiap hari bertemu orang baru di dalam hidup kita, dan berani taruhan, lebih dari 80% tidak ada yang direncanakan. Most of meetings are unexpected. Emangnya kita bangun tidur berencana gitu buat ketemu mamang sate di simpang jalan? Atau dengan sengaja punya plan untuk ketemu sama temen SMP di salah satu booth di mall? Kecuali reunian, ngedate, meeting sesungguhnya alias rapat, all meetings count as 'unexpected'.
Jadi apanya yang romantis sih?
Dua, serendipity is a word that gives a false hope to hopeless people who haven't meet 'the one'. That someday, they will unexpectedly meet the love of their life beautifully. Ini yang menurut dia paling ngga bener. Sama ngga benernya dengan fairy tales ala disney princess bahwa suatu saat that prince charming would actually show up. Well, sejujurnya, dia sendiri adalah korban. All her life, she always wonder on how she's gonna meet that 'person'. Itu juga alasan dulu ia sering sekali mengikuti feeds Instagram '@thewaywemet; because she believes on that 'special meeting'. Tapi sekarang, ia yakin bahwa hanya sebagian kecil orang di dunia ini bakalan mengalami those kind of cute-meets. Sisanya...ya standar. Ketemu dan menikah karna udah waktunya, dikenalin temen, dijodohin lah, atau yang lagi ngetrend..ketemu via dating apps.
Well, she believes she bears no such lucks.
Tiga, ini alasan yang sebenarnya Anya tambah-tambahin. Bahwa ada 'pity' dalam Serendipity. And she just doesnt like the word. 
Intinya, dia merasa, Serendipity itu ngga seindah kedengarannya.

Until she met Satrio.

Pertemuan pertama dan keduanya dengan Satrio adalah sesuatu yang di luar perencanaan. Tidak ada dalam planning hidupnya..saat ini. But they meet anyway. Not once, but twice. And both of them are unexpected as ever. At least for her.

Dan tau, apa hal paling menyebalkan dari itu semua? The fact that now she wants more. It's been happening twice, siapa tau dewi keberuntungan berbaik hati padanya dan memberi mereka pertemuan ketiga, kan?

Anya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hush. Apa-apaan sih.

"Haloo. Ini kepencet apa gimana ya, Nya?" Suara di seberang telepon membuyarkan pikirannya.

Oh no.
No way.
What have I done?? 

Anya mengernyitkan dahinya. Tertegun tak percaya melihat layar tabnya yang menampilkan whatssap call dengan wajah dan nama Satrio terpampang di depan matanya.

Gue abis ngapain???? Paniknya

"Halooooo...aku matiin ya?"

"Eh. Sat. Halo. Sorry-sorry. Tadi kepencet."

"Oh. Udah kuduga. Padahal aku seneng banget akhirnya kamu nelponin aku juga."

"Hahaha... Maunya. Tunggu...ini gimana kok bisa-bisanya ada kontak kamu sih di tab aku?"

"Hahaha oke, aku ngaku..abang-abang counter tempat kamu ganti tempered glass itu Nya.. He's a friend of mine. Trus pas dia pasang-pasang itu aku suruh diem-diem save-in nomer aku ke tab kamu hahaha."

Buset.
Speechless gueh.....Batin Anya

"Nya? Kamu ga marah kan ya? Maaf ya jadinya lancang. I was just trying on my luck. Siapa tau suatu saat kamu liat trus kepikiran untuk ngajak ketemu gitu."

"Ngg..."

"Kok diem Nya?"

"Gimana ya... Aku..speechless aja bisa-bisanya kamu kepikiran buat kayak gitu."

Kalo aja Satrio tau betapa kagetnya Anya waktu ujug-ujug di kontak whatssap tab nya tertera nama "Tri Satrio Arsitek". Dari 6 kontak whatssapnya. Karena kontak whatssap tabnya itu memang khusus hanya berisikan keluarganya saja.

Ketambahan satu orang tentu saja terlihat jelas di matanya.

" I just dont know whether I'll meet you again or not Nya."

"Dan kenapa gitu kita harus ketemu banget?"

"Hahaha gini Nya. Aku ngga lagi memuji atau ngomong manis atau yaa ngegombalin kamu ya. I'm just trying to be honest. Aku suka mengamati orang-orang. Dan dengan mengamati, aku jadi tau mana yang ke depannya aku bakal senangi dan mana yang nggak."

"Lalu?"

"Sebutlah kamu termasuk orang yang menarik buat aku. Menurut aku, menarik itu menyenangkan. Jadi ya, begitu."

Gila ni manusia, dalam hati Anya.
Sadar ga sih ngomong kayak gitu bisa bikin hati cewe normal kebat-kebit ngga karuan? Untung gue ngga baperan, batinnya lagi.

"Oke..... Menurut aku itu creepy, Sat."

"Tri, please."

"Iya whatever. Yaudahlah ya, sori tadi kepencet."

"Loh, ga jadi nongkrong ngopi di manaa gitu?"

"Loh, ada ya aku ngajakin?"

"Nggak ada sih hahaha."

Ketawanya, plis dikontrol, nggak usah ngebass betul... batin Anya.

"Well, kalo dibalik, kalo aku yang ajak, gimana? Tonight?"

Anya mengeluarkan 'hmmm' panjang sebelum akhirnya menjawab, "Okay, tonight."

"Great. Ketemu atau aku jemput?"

"Hmmmmmmmm......jemput? Deket kan ya?"

"Okay."

"Okay."
Hening sesaat, hampir saja Anya mematikan panggilannya.

"Eh.. Alamat lengkap kamu, Nya?"

"Oh...hahaha. Tadinya kukira kamu tau. Siapa tau sekalian kamu minta temen kamu itu buat ngotak-atik tab aku buat nyari alamat akuu gituuu...." Ejek Anya.

"Nya. THAT, would be creepy. Ya aku ngga gitulah hahah."

"Aku whatssap aja ya. Nanti lewat nomer whatssap aku satunya lagi aja. Nomer ini jarang kubuka."

"Oke."

"Oke."

Anya mematikan whatssap callnya. 09 menit 35 detik.

Lama ia terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Ia tertawa, pipinya tanpa sadar merona.
Ia memasukkan tabnya ke tas, mengemaskan barang-barangnya, bersiap keluar kelas untuk pulang.
Ia berjalan di lorong dengan dada berdegup agak terburu hinnga tak sengaja hampir menabrak seorang wanita yang membawa setumpuk berkas di dalam sebuah map.

"Eh. Maaf." Ia menundukkan wajahnya tanda tak enak, tak sengaja melihat map yang bercorak tulisan-tulisan semacam doodles. Ia memicingkan matanya, tersenyum sendiri saat membaca salah satu kata di situ.

Serendipity.

Ah, that overrated word. Still overrated tho. Pikirnya.

Ia kemudian mengetik sesuatu di layar handphonenya,

"Rumahku di jalan Samudra nomer 33 ya. Atap cokelat, lantai teras warna kuning tua. Ada lampu tamannya. I expect to see you by 7 ;)"

Dua centang biru.

"Ay ay captain ('o')7."

Anya berjalan ke parkiran. Senyum dikulum. Hatinya bermonolog.

Empat, batinnya
Serendipity is overrated because, well.. Why expect the unexpected? Kalau memang bisa direncanakan, kenapa sih harus mengharapkan yang tidak direncanakan? Supaya kesannya romantis gitu, tau-tau ketemu karena takdir?

Percakapannya dengan Satrio via whatssap tadi terulang kembali di kepalanya bak film pendek.

...And talking about romantic, well, itu cuma masalah cara. Ngga musti kan ya selalu bergantung rencana semesta?

Senyumnya melebar sembari ia berkendara pulang.

being 20 something-ish

/

Sunday, February 05, 2017

Disclaimer: I might not the first one to write about this topic, but I need to get them out of my chest, so here it is.

When I was seventeen (or any age during highschool), I used to think that being 20 means glory. A golden period of someone's life that I really waited for. I though it would be the time of my life, when I would be able to go out and do everything, achieve everything, and also be able to make decision freely about everything.

Now I am 23-ish, 2 year more into my quarter life something. I think back about those thoughts, and ask myself the questions.

Can I go out and do everything? Yes, but until 10 p.m. only or my Dad will flood my inbox with "Dek, pulang. Dek, udah jam berapa nih?" etc. I still haven't be able to go on solo trip to Kuching (SO VERY SAD) even when I already prepared for the trip like a month before (including the bus, hotels, cullinary plan and all). So, nothing like freedom especially if you are the only daughter your parents have. You will be restricted still.

Do I achieve everything? Well I did finish my school and get 'S.Ked' title, but I haven't officially finished my study (because lol, doctors). I haven't reached my dream whatsoever to study abroad. I haven't started any business, haven't made any money (well I made some by being translator but it's still a part time job), and sometime I feel like I am stuck between kos-kosan bed --- hospital --- kos-kosan bed (that's koass life, will tell ya later). I am nothing close to my dream, let alone get married and have kids while people around me are planning to have second child (MY EX HAS 2 CHILDREN ALREADY MY LORD). So yeah, this is reality and it hits me hard at times.

Can I make decision freely about everything? This, somehow, is the only truest thing that finally come true. YES, I am free to make (almost) any decision that I need to keep my life going. But, there is always a 'but', the 'free decision' also comes with a bag full of responsibility tagging along the decision. And I am bad with making one. If you made one, you have to also be ready with the consequences, and most time, we are not ready for them.

So, yes, being 20 something is not as glory as I thought it was. Being 20 something means you are getting into several time of losing and finding your true self. Of getting know too much, and also so little of everything that going around the world. It also means standing in the bridge of uncertainty, to enjoy life the most so there won't be any regret or to get everything right seriously so we will hold the future tightly. For example, I sometimes feel like I deserve to just lay in bed during weekend, but when weekdays come I always feel like I am wasting my time and it actually haunts me a lot. The cycle repeats on and on, which makes me think, why do I feel this way?

Then I looked back to my old diaries where I wrote about all the goals and plans to have the best and brightest future, the ones I should pursue in this very age. Now I get why I, and maybe most people my age, feel like 20 something becomes a heavy burden on a shoulder. I sort it into some points, so here they are:


  • It is because we already have expectations that 20 something is the age of having it all. While in the fact, well, you may and also may not have it all. Yes, maybe some people already get a firm and sustainable career, maybe some people already have a fairy tale marriage whatsoever, maybe some people already meet their goals to travel around the world. BUT, that does not mean if you are not achieving those, it means you are a pathetic losers. Well we, people, have our own timeline, we run in our tracks. We sometimes jog or do a little walk, and that's okay. The point is that we should keep moving forward (now this sounds like quote from motivators, but damn those right) despite what people achieve. Because it is their timeline. We should really stop comparing somebody's pages with ours. But, that does not mean you are allowed to just be laid back about everything. My point is, just because somebody is succeed at your age, does not mean those who have not are the losers.
  • It is because we try so hard to fulfill people's expectations of us. Well, we do live in a place where people 'care' so much about what we have done. People around us will constantly have expectations about what we should be. We should go to college after highschool. We should graduate on time. We should have job right after graduate. We should be married once we make money. We should have kids right after the wedding. Etc etc. It won't stop. And maybe not many people understand, or even realize, that those expectations are the ones that burden us a lot. And the weight will slowly become something that stand between us and our true goals. So believe me, just close your ears tightly when they start to blab about what you should be. You owe nothing to them, so they are not the ones who should decide what and when you should be. If what you are doing are making you happy, then carry on.
  • It is because we think our life is only about goals. I recently see a video about why people often feel frustated about not reaching their goals. In that video, he explains that it is mostly because we often become too obsessed with the goals that we are getting stressed over the obstacles that we cannot control. Yes, goals are made so we can be focused to our destination. Goals are made so we are kept in the 'right' line. But once we already on the path, why we care so much about the goals that we forget to enjoy the journey? Life itself is a 'trip' that we take, so I think what's important is that we always, always enjoy the ride


Okay, I think those three points are enough. I myself often feel like I am lost and useless (especially during pms, because.. hormones) but trust me, if we are in constant worries of not having it all together, we might actually waste our time. We ARE in the best time of our life, make a use of it. Be happy about it, and most importantly, be present in every moment.
And someday, maybe soon, you will finally arrive at your destination. Safe and sound :)

See ya!



Patah Hati itu Sederhana [a Flashfiction]

/

Sunday, December 11, 2016

"A' halooo."
"Ya teh? Pesen apa?"
"Duh A', meja counternya tinggi banget ini, susah baca tulisan menunya."
"Hahaha, ini sok atuh diambil leafletnya, liat di sini aja, mau minum apa teh?"
"Hmmm.....cappuccino aja deh ya A' yang anget. Jangan panas-panas atuh, nanti keburu subuh diminum nungguin jadi dingin."
"Huahaha, siyap teh, ntar tunggu aja ya ambil nomernya sok."
"Iya A'." *lompat-lompat* "Duh, ga nyampe A', kumaha iyeu counternya ngga ramah sama orang mungil kayak saya. Kasih semen aja apa ih di depan sini biar tinggian dikit."
*Ketawa lagi* *Ngambilin* "Ini teh, lain kali kalo ke sini lagi pake heels atuh teh hihihi."

***

"Eh masbru, ini kayaknya di depan counter perlu kita tambah semen deh."
"Wah, kumaha. Kayaknya dari dulu-dulu banyak yang complain tapi katanya ngga usah buang-buang uang?"
"Iya, dipikir-pikir kasian juga yah kalo ada yang badannya kecil mungil susah liat menunya."
"Yaudah, oke nanti saya urus deh. Asal ada aja biayanya."
"Okeh."

***seminggu setelah disemen***

"Loh A', ini kok tetiba ada semennya? Akhirnyaah, saya bisa liat menunya di meja counter hihi."
"Hehe, iya atuh neng, saya kan menampung aspirasi kastemer. Sok dipilih minumannya neng, mau minum apa? Cappuccino nggaa pake susu lagi?"
"Wah, Aa mah perhatian pisan. Jadi terharu. Hmm padahal tadi saya ajak kakang, biar bisa liatin menunya." *Liat belakang* "Kang, sinih. Pesan apa? Ini ngga ada menu lemonti kesukaan kakang, apa mau disamain aja ama eneng?"
"Oh, ada kakangnya ya teh? Hehehe hehe hehe..."

***

3 months after

/

Friday, February 26, 2016

When we are apart from the ones we love, we could use doing little things they used to do just to make us feel like they are close to us. As easy as listening to the same radio station they used to listen every morning while being stuck on the traffic: reading the same book they used to read before sleep, using coin as its bookmark; watching the same series they have been following even when you’re not really into them. We do those things over and over until we really meet them, just because we need to feel their presence in our live.
Itulah yang sedang Anya lakukan seminggu belakangan. Menghadirkan Banyu dalam kesehariannya melalui hal-hal kecil yang biasa dilakukannya. Jika tertarik pada satu lagu, Banyu senang sekali memutar lagu tersebut di handphonenya berulang-ulang sampai muak, untuk kemudian akhirnya menyukai satu lagu lain dan mengulang siklus yang sama. Itu sebab seminggu ini Ellie Goulding – On My Mind jadi satu-satunya lagu yang menggema dari speaker ponsel Anya, dan ia belum muak. Banyu senang sekali memotong makanan kecil-kecil sebelum dimakan, apapun itu bentuk makanannya –kecuali nasi- maka Anya pun memotong kecil-kecil pisang goreng susunya sebelum memakan, walau sebetulnya Anya lebih suka menggigit dan mengunyahnya langsung. Banyu selalu menjentikkan jari sebelum mulai menulis sesuatu, maka Anya pun melakukan hal yang sama hingga akhirnya kebiasaan itu melekat padanya. Atau mengulang kata yang sering Banyu katakan semacam ‘santailaah’, dengan nada tertentu yang Anya hapal betul. Anya melakukan itu semua.
Tapi tentu saja ada beberapa hal yang Banyu biasa lakukan, yang tak bisa ia lakukan. Seperti mengedikkan kepala ke bahu –memberikan tanda buat Anya untuk bersandar di bahunya- tiap kali Anya merasa lelah dan buntu. Atau mencium rokok sebelum membakarnya, menghisapnya dua kali lalu mematikan dan membuangnya. Satu-satunya kebiasaan Banyu yang ditentang Anya. Banyu butuh nikotin sama seperti Anya butuh kafein. 
Bukan bendanya, tapi isinya. Kamu suka kopi walau kamu tau itu nggak baik buat kamu, karna kamu butuh kafeinnya bukan ngopi-nya. Ya apa bedanya sama aku, Nya?
Kalimat Banyu itu mengiang di kepala Anya; kalimat yang membuat Anya selalu kalah suara perkara kebiasaan merokok-dua-hisap itu.
Kadang Anya membalas dengan, “That is so freakin bullshit Nyu. Nikotin nggak baik buat kamu.” Yang dibantah Banyu dengan, “Kafein juga nggak baik Nya. Apalagi kalo udah addict kayak kamu.”
“Ya tapi kafein secara ilmiah udah terbukti ada efeknya ke otak. Ningkatin konsentrasi, ya wajarlah aku butuh.”
“Nikotin bikin aku tenang, Nya.”
“Itu sugesti kamu, Nyu.”
“Anyaku…,” panggilan yang tak pernah tidak membuat Anya tersenyum, omong-omong. “…kalau memang ningkatin konsentrasi cuma bisa pake kafein, mungkin hampir semua orang di dunia ini ngopi kayak minum air putih. Tapi mereka nggak, dan kamu iya. Itu bukan sugesti namanya?”
“Ya…”
“Udah ya ceramah rokok nggak baiknya. Aku tau kamu peduli sama aku, tapi cuma dua hisap bukan dua bungkus…what would probably happen to my lung, Nya? Mereka kuat kok napas buat aku sampai kita menua berdua jadi ompong sama-sama.”
Cheesy, tapi selalu berhasil menggantikan sesi debat dengan yang tawa lepas yang hangat.
Hal itulah yang tak bisa Anya lakukan, karena hanya Banyu yang bisa. Dan itu membuat Anya rindu.
Anya tidak tahu apakah ia merindukan orangnya, atau momennya.
Atau, justru rindu perasaan merindukannya.

***

Stuck ya? Kamu mikirnya pendek sih. Main solitaire jangan buru-buru. Nya.”
Komentar itu membuat Anya terkesiap. Ia menoleh ke arah belakang, sumber suara itu datang. Suara yang nyaris tak pernah didengarnya lagi sama sekali, dan yang ia kira tak akan pernah didengarnya lagi.
“Kok bengong? Itu loh, coba kamu pindahin jack nya ke atas dulu. Terus kamu pindahin delapan jambunya ke sembilan wajik. Nah, tujuh keriting turunin deh. Habis itu..”
Wait wait,” Anya menarik handphonenya, “Kok jadi nyelak aku gini sih? Aku kan lagi main. Kok jadi nimbrung?” repetnya sok galak.
Yang diomel malah tertawa, “Hahaha.. Nya, aku gemes liatnya. Restart game berkali-kali tapi langkah yang diambil itu-itu lagi. Coba sini aku mau liat game statsnya, pasti kamu banyakan kalahnya daripada menang.”
“Sori yeee,” secara spontan Anya menunjukkan game statsnya, menampilkan Score: 72, Wins: 76, Losses: 52, Rate: 59%, Win streaks: 13., “Ini 56 kali kalah semuanya karna aku nggak konsen. Sama kayak sekarang, lagi ga konsen makanya kalah terus.”
“Hmm iya..iya percaya. Pasti 76 kali menang bukan kamu yang main.”
Anya baru saja akan menjawab, lelaki itu buru-buru mengacungkan 2 jari membentuk tanda peace, “Becanda, Anya. Hahaha.. kayak nggak kenal aku aja.”
We barely know each other, please deh. Anya membatin.
“Ngapain di sini Nya?”
“Ganti tempered glass tab. Tau tuh lama banget mbak-mbaknya. Ampe bosen, yaudah maenan solitaire.”
“Hahaha.. segitu serius main sampe nggak sadar ya aku daritadi ngeliatin?”
Gila ni orang gombalnya. Anya membatin lagi. “Kamu ngapain emangnya?”
“Aku ke sini nyinggah beli pulsa, eh ada kamu lagi khusyuk kan jadi pengen gangguin.”
“Hahaha.. iya makasih ya udah ganggu, aku seneng banget.”
“Hahaha.. so, why solitaire, Nya?”
“Maksudnya?”
“Ada banyak yang bisa dilakukan kalo lagi nunggu sesuatu, tapi baru kali ini aku ngeliat orang nunggu sambil main solitaire.”
“Oh…” Anya menaikkan alisnya. Karna ini kebiasaannya si Banyu. Dan iya sih yang biasanya mainin solitairenya juga dia, hence the win streaks…
Tapi tentu saja itu tak keluar dari mulut Anya, “Adanya ini doang di handphone.”
 “I was expecting a wiser answer tadinya hahahaha, ternyata..”
“Hahaha what wiser answer?”
“Misalnya, karna kamu tau filosofinya gitu.”
“Loh ada filosofinya emang?”
“Loh kamu ga tau?”
Anya menggeleng kuat, penasaran.
“Aku juga nggak tau. Nyebut aja tadi.”
Anya hampir saja melayangkan tinjunya; lelaki di depannya membuat tameng menggunakan kedua lengannya kemudian tertawa.
“Hahaha.. becanda, Nya becanda. Iya itu ada filosofinya. Jadi game solitaire itu dulunya disebut patience. Karena mainnya butuh kesabaran. Sama kayak nunggu, jadi yaa aku pikir gitulah. Nunggu, solitaire, sama-sama butuh sabar. Begitu.”
“Ini kamu becanda?”
Do I look like joking?” Ia tertawa, “Gila ini aku serius aja kamu bilang becanda Nya..”
“Ya abisnya… tapi serius itu gitu filosofinya?”
“Iya, ya ampun ga percaya banget deh. Cek deh di internet kalo nggak percaya.”
“Iya iya aku percaya.”
“Jadi..gimana kedokteran, Nya? Seru?”
Anya otomatis menghela nafas berat, “Haaah…seru kalo kamu rela masa muda kamu diisi dengan ujian tiap dua minggu sekali. Dan otak kamu diisi sama hapalan sebanyak ratusan, eh, ribuan materi kuliah.”
“Tapi nanti kalo udah jadi dokter kan enak Nya.”
“Iya, naaaantiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.” Jawab Anya, membuka tangannya lebar-lebar, menunjukkan bahwa waktu nanti itu masih sangat lama.
“Hahaha, berarti sekolah kedokteran itu kurang lebih main solitaire ya? Butuh sabar.”
“Ya, bisa bisa hahaha. Kamu gimana? Udah puas begadang selama kuliah arsitek?”
“Yaaa…begitulah. Udah nggak tidur bikin project trus pas dipresentasiin eh disuruh ulang. Nggak tidur lagi, nggak tidur terus. Siklus hidup lagi gitu aja.”
“Ckckckck, nasib kamu deh ya.”
“Nggak papa sih. Nya. I like it, tho. Biar ada yang dikerjain di rumah. Lagian yang namanya tugas mah, enak nggak enak harus dilakuin. Dibawa enjoy aja sih jadi ga berasa.”
Anya memberi applause kecil, “Wiih.. hebat ya bapak, speech yang luar biasa.”
Mereka berdua tertawa.
“Eh Nya, itu kayaknya tabletnya udah selesai deh.”
Anya menoleh ke belakang, melihat ke arah mbak-mbak memberi kode bahwa tabletnya sudah selesai dikerjakan.
“Eh iya, bentar ya.”
Anya mengecek tabletnya, mengusap-usap layar tabletnya yang kini terlihat bersih, membayar dan memberi ucapan terima kasih.
“Mau cabut nih. Kamu nggak balik? Mau kerja di sini apa gimana?”
Lelaki tersebut tertawa, “Ya nggaklah, hahaha. Ini mau balik juga. Duluan aja Nya, aku nyari earphone dulu.” Katanya sembari mengorek isi tas punggung berwarna abu-abu hitamnya.
“Oke deh, byee.”
“Byee.”
Anya melambaikan tangan, berjalan menuju pintu luar, membuka pintunya..
“Nya..”
Ia sontak berbalik, “Yaa?”
Long time no see ya? Padahal rumah deket.”
Err…what does that mean?
“Hahaha iya… mungkin itu filosofinya.” Jawab Anya.
“Maksudnya?”
“Nggak kerasa udah tiga bulan dari kita ketemu pas daftar ulang. Rumah deket, satu universitas. Mungkin emang disuruh nunggu buat bisa ketemu lagi.”
“Iya.. filosofinya?”
 “Patience, grasshopper.” Anya tertawa kecil. Good things come to those who wait. Sambungnya dalam hati, mengutip quotes Cassandra Clare dalam buku City of Glass; buku yang akhir-akhir ini dibacanya berkali-kali sampai kumal saking senangnya ia dengan buku ketiga dari serial The Mortal Instrument tersebut.
“Bye, Nya.”
“Bye.”
“Lain kali mainnya jangan buru-buru ya Nya, bebasin dulu AS sama angka yang kecil-kecil. Jangan main pindah-pindahin aja.”
“Iya makasih ya nasihatnya. Berguna banget.” Sahutnya dengan nada menyindir.
“Hahaha….daah.”
“Daah.” Anya menarik nafas, “Kali ini terakhir, daah.” Ia melambaikan tangannya, berbalik, membuka pintu dan tak lagi melihat ke belakang.
Senyumnya mengembang. Sebetulnya ia sungguh ingin.

***

“Nunggu.., solitaire...., sama-sama butuh sabar.” Kata-kata Satrio masih menggaung di kepala Anya beberapa hari setelah pertemuan mereka. Ia tercenung memandangi pisang goreng susu yang dipotong-potongnya untuk sarapan pagi ini, melayangkankan pikirannya pada Banyu. Mengingat cintanya itu.
Menunggu, solitaire – keduanya sama-sama tak mungkin tidak membuatnya teringat akan lelaki yang dicintainya bertahun-tahun itu. Lelaki pecinta solitaire yang ia cintai sampai mau mati, yang dengan seenaknya pergi dari kehidupannya. Tanpa tedeng aling-aling.  Lelaki yang minggu-minggu ini memenuhi segenap sel otaknya, yang tak menyediakan sehela napas pun tanpa membuatnya merindu.
Atau, yang ia pikir begitu.
Pertemuannya dengan Satrio tempo lalu membuatnya berpikir, jika ia perlu ‘menghadirkan Banyu’ dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan kecilnya, bukankah itu berarti sebetulnya Banyu sudah ‘pergi’? Sudah ‘tidak ada lagi’?
Dan cara terbaik untuk mengetahui seseorang telah terusir dalam hati adalah ketika ada orang lain masuk dengan atau tanpa permisi.
Bagi Anya, Satrio adalah orangnya. Si kurang ajar yang sudah ‘kulonuwun’ tanpa ia sadari.
Good things come to those people who wait. Selama ini Anya selalu berpikir, Banyu adalah ‘good things’ yang pantas ia tunggu. Karena itu ia menunggu.
Namun kesabarannya, ternyata membuahkan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang jauh lebih baik.
Koreksi, seseorang.

mengumpulkan kata (menceritakan kita)

/

Tuesday, November 17, 2015

petasanku kedap di dadamu*
dan rasaku hinggap di matamu
sebab matamu, bak lampion merah terang
di situlah hatiku melenggang pulang
kembang api tumpah ruah, rasaku pun meledak pecah
apakah yang demikian mesti kutanggung sendiri atau kubagi?
abu-abu kembang api berserak
layak cinta yang urung menjejak
aku dan kamu -yang lantas menjadi kita-
mengawal cinta di akhir sajak

januari 2014 | tentang kembang api dalam kepala kita di festival tahun baru cina  | *bait pertama oleh mardian sagiant dalam tweetnya di januari 2014
--

berlarilah dan terjatuh, terbang yang jauh
kembali jika kau peluh dan kapalmu butuh sauh
ada lenganku, siap merengkuh

maret, 2014 | tentang menunggumu
--

jika hatimu adalah rumah, beritahu, ke manakah langkahku ini mengarah?
jika hatimu adalah tempat berlabuh, beritahu, berapa jauh jarak yang mesti kutempuh?

maret, 2014 | tentang menjadikanmu tujuan
--

perkara rindu, aku amatlah tamak
menumpuknya, tanpa sedikitpun merasa muak

--

semestinya seseorang menasihatiku tentang 'jika'
yang mampu mendera segenap batinku, sebab
jika saja kita mampu berjalan tanpa melepas genggaman
jika saja kepalaku sanggup berhenti berangan-angan
jika saja kau sudi melihatku lebih dalam, sebab dalam diriku telah kau jumpai rasa nyaman
dan padamu, kucecapi lebih dahulu rasa aman
dan jika saja segala jika ini bukanlah hanya setumpuk jika
yang carut-marut membusuk di dalam pikiranku saja

oktober, 2014 | tentang setumpuk jika
 --

tiba-tiba aku memimpikanmu lebih sering
dan air mata ini mengenangmu hingga tak kering

november 2014 | tentang melupakan
--

kau adalah jatuh yang tak bosan kurayakan
menepilah
menetaplah

november, 2015 | tentang permintaan


--

Oh, hi folks, long time no see! I'ts been a long time eh? I barely have time to write because I am pretty much occupied by my study. Saya sudah koass soalnya, hore!
But I've got plenty free time, so, these are some poems or words that I've been collecting -from tweets, diary, halaman belakang catatan kuliah, whatever haha- they are cheesy of course, but it's nice to know I once wrote poetic things. It feels like long time, I've stopped write poetic since January this year, and I dont know why. haha.
Catch up later, see ya!

hanya beberapa detik

/

Monday, August 24, 2015

"Nya, kok melamun?"
Anya tersentak, menoleh ke arah Tasha yang memergokinya terbengong, entah sudah berapa lama.
"Iya nih, aku lagi mikir."
"Mikir apaan?"
"Tiap liat pasien tua, suami istri, aku mikir, hebat juga ya cinta. Kadang suaminya udah nggak gagah, sakit parah nggak bisa apa-apa, tapi istrinya setia ngerawat dan ngejaga. Atau kalau liat nenek-nenek tua keriput udah nggak cantik lagi, tapi suaminya masih setia duduk nunggu di sebelah."
"Haha, iya.. aku juga kadang terharu liatnya. Itu cinta apa karna udah terbiasa sama-sama ya? Semacam manisfestasi dari komitmen gitu?"
"Nggak tau juga sih, Sha. Tapi yang jelas apapun itu, aku takjub. Bisa juga ya dua orang yang sebetulnya ga punya hubungan apa-apa, dua orang yang dulunya asing, lalu mutusin buat bersama. Sampe tua, sampe sakit, senang susah, sama-sama. For better for worse.
Tasha tersenyum.
Anya melanjutkan, "Aku jadi kepikiran aja kadang, apa nanti ada yang bisa kayak gitu sama aku? Hahaha."
"Duh, kamu tuh ya Nya. Apa-apa selalu dibawa perasaan pribadi hahahaha."
Anya tertawa, pipinya menyemburat dadu.
"Abisnya gimana ya Sha.. kadang aku mikir, aku ini banyak kurangnya. Pinter nggak juga, tinggi nggak juga, cantik nggak juga. Serba pas-pasan hahaha."
"Hahaha...mulai deh pesimis. Duh Nya, kamu tuh lucu ya. Biasanya optimis banget tapi kalo lagi kambuh pesimisnya kayak idup kamu tuh susah banget hahaha." Tasha menggeleng-gelengkan kepala melihat Anya.
Anya memutar-mutar ujung stetoskopnya, pandangannya masih mengarah ke pasien tadi, "Soalnya Tasha, manusia itu pasti ada kurangnya. Aku banyak kurangnya."
Tasha tergelak, "Hahaha...Nya, inget ga, kamu pernah bilang sama aku, 'Sha, suatu saat nanti, bakalan ada orang yang menerima kita apa adanya. Dan kita terima dia apa adanya. Seseorang yang bikin kita ngerasa, waktu sama dia, kita punya kepercayaan diri. Yang bikin kita lupa kalau kita penuh kekurangan, karna apa adanya kita cukup untuk dia. Dan dia cukup untuk kita.' ...ya kan? Aku ngerasa omongan kamu bener, makanya aku inget banget. Kenapa tiba-tiba kamu jadi pesimis gini hahaha."
"Iya sih ya..." Anya memutar bola matanya, "Mungkin ini lagi masa-masanya aku jadi mikir, apa bakal beneran ada seseorang yang kayak gitu, hahaha."
"Mungkin.. emangnya nggak ada?" Tasha menjawil pipi Anya.
"Ngg.. nggak tau sih, emangnya ada?" Ia mengangkat alisnya.
Tasha tertawa, "Hahaha, yaudah deh nggak usah dipikirin. Ntar juga ada. Ayo dong, biasanya kamu yang optimis." Tasha beranjak dari duduknya, menepuk pundak Anya lantas berjalan ke arah pasien di bed seberang dari mereka duduk.

Anya menggigit bibir. Sebetulnya saat Tasha berkata tentang 'seseorang' itu, satu sosok manusia melintas di kepalanya.
Hanya beberapa detik saja.
Ia tertawa sejenak, membayangkan tawa Satrio setiap mereka bersama. Seolah-olah setiap yang ia lakukan, berharga. Seolah-olah ia tak memiliki cela. Seolah-olah kurang padanya, tak lagi ada.
Lelaki itu membuatnya merasa cukup.
Dan baginya, itu cukup.

seratus delapan puluh detik pertama

/

Tuesday, June 02, 2015



“Pulpennya kenapa macet sih.” Anya bersungut-sungut sembari menggoyangkan pulpennya, “Tetep aja macet. Heran deh, bawa pulpen banyak banget nggak ada yang bener.” Ia mengomel sendiri.
“Kamu nulisnya di dinding, harusnya alasnya meja. Posisi pulpen kamu itu bikin tintanya susah keluar.”
Anya menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berjongkok di sebelahnya, menyandar ke dinding tempatnya menulis. Anya menoleh sekeliling, mengambil kardus bekas air minum yang disediakan panitia, merobeknya dan kemudian duduk di atasnya. Ia kemudian mengobrak-abrik isi tasnya, mencari sesuatu yang dapat dipakai sebagai alas.
“Nulis di lantai aja deh.” Gumamnya sendiri, menyadari tak ada satupun barang datar di tasnya, “Eh iya, nggak macet nih. Horee.” Soraknya.
 “Fisika dasar, hehe. Nulis itu harus vertikal, jangan horizontal. Kecuali kalau kamu pake pensil.”
Anya melirik formulir yang sedang diisi oleh lelaki di sebelahnya itu.
Fakultas     : Teknik
Jurusan      : Arsitektur.
Oh, pantes.
“Wih, calon dokter.” Ternyata lelaki itu juga melirik formulir miliknya.
“Haha, iya. Nyasar nih.”
“Kok gitu?”
“Mustinya aku masuk Fakultas Keguruan, jadi guru. Cita-cita dari dulu itu. Tapi yaudah sih udah terlanjur masuk di Kedokteran.”
“Masih belom telat kok buat ngerubah jurusan. Mulai aja belom, baru daftar ulang. Belom bayar kan?”
“Iya sih… tapi yaudah deh, males tes lagi. Capek.”
“Yaa jangan aja setahun dua tahun lagi kamu malah ngeluh capek gara-gara kuliah kedokteran lama nggak lulus-lulus.”
“Bener juga…. Tapi yaudahlah, udah terlanjur. Ini duit pendaftaran udah di tangan, masa iya dibalikin lagi.” Anya memutar bola matanya, “..apa aku bawa kabur aja ya…ke luar kota, ga balik-balik. Lumayan nih duitnya..”
Lelaki tadi tergelak, “Bisa aja..”
“Ciyee arsitek. Nanti kalo aku mau bikin rumah bisa dong minta buatin kamu?”
“Bisa..tapi harga temen justru dua kali lipat ya..”
“Lah emang kita temen?”
“Oh iya, lupa.”
“Aku suka liat arsitek, kemana-mana bawa-bawa tabung. Kayaknya keren.”
“Kamu juga keren nanti kemana-mana bawa stetoskop.”
“Ya nggak kemana-mana juga kali. Masa iya jalan ke Mall bawa stetoskop, dikira sinting nanti.”
“Ya sama. Aku nggak kemana-mana bawa tabung juga kali, sinting apa. Hahahah.”
“Ergh iya. Kok omongan kamu bener semua gitu sih.”
“Nggak semuanya, tadi itu yang temen, aku salah. Kita kan nggak temenan.”
“Oh iya, yaudah kita temenan ya. Susah ya jaman sekarang apa-apa musti dikasih label.”
“Haha, biar jelas aja. Tadi kamu sendiri kan yang bilang kita bukan temenan.”
“Ya maksudnya kan..kita baru aja ketemu. Bukan udah lama kenal. Ibaratnya nih, kalo main sims, status relationshipnya masih ‘acquintances’ belom ‘friends’. Kalo ketemu cuma senyum, kalo udah friends kan dadah-dadah.”
Ia tertawa lagi, “Hahaha, tuh itu kamu barusan ngasih label.”
“Iya sih. Duh. Kemakan omongan sendiri. Susah ya ngomong sama kamu.”
“Nggak susah, buktinya daritadi kamu ngomong terus.”
Anya memandanginya dongkol.
“Persepktif, hehe.” Lelaki tersebut mengacungkan dua jarinya, membentuk simbol peace.
“Gila ini rame banget antriannya, masih urutan 160, aku urutan 198. Nyesel deh datengnya lama.”
“Ya nggak papalah. Dibawa ngobrol juga nggak berasa.”
“Kamu urutan berapa?”
“162. Bentar lagi nih.”
“Enak ih. Harusnya ya..daftar ulang pake online aja. Kenapalah musti dateng antri begini, nyusahin aja. Sekarang jaman kan udah canggih.”
“Iya, trus websitenya down gara-gara banyak yang buka, trus ada yang telat daftar trus ga jadi masuk trus ngomel-ngomel. Salah lagi..”
“Bener juga sih..”
“Manusia itu emang susah puas sih ya.”
“Itu nyindir?” Anya mendelik sok sebal.
“Cuma ngomong, perspektif, duh.”
“Hahaha, iya-iya. Kamu asal sini?”
“Iya. Kamu?”
“Sama..”
“Tinggal di mana?”
“Di Jalan Penjara, tengah kota.”
“Kok kita nggak pernah ketemu? Aku juga daerah situ. Ahmad Dahlan.”
“Lah ini ketemu.”
“Eh iya sih, maksudnya di situ…”
“Hahaha, persepktif.” Anya terkekeh membalas.
Ia terbahak, “Jago ngebalikin omongan orang ya kamu.”
“Biarin, emangnya cuma kamu aja yang bisa hahaha.”
Mereka tertawa berbarengan.
“Eh udah nomer 161 nih, aku ke sana ya?” Lelaki tersebut berdiri, mengemaskan barang-barangnya dan mengeluarkan berkas-berkas yang diperlukan dari dalam tasnya.
“Oke.”
“Bye, Anya.”
“Kok kamu tau nama aku?”
“Lah itu..” Ia menunjuk formulir yang dipegang Anya.
“Oh iya.” Anya menepuk dahinya.
“Yaudah, bye..”
“Eh, nama kamu siapa hoy? Aku nggak ngintip formulir kamu tadi.” Teriak Anya sebelum lelaki tersebut jauh dari pandangannya.
“Satrio.”
“Oke, bye Sat.”
“Jangan dipanggil Sat, kayak ‘bangsat’. Panggil Tri aja.”
Anya beranjak dari duduk, menepuk-nepuk celana jeansnya dan merapikan blousenya. “Oke, bye Tri.”
“Eh itu kardus yang kamu pake buat duduk, padahal bisa jadi alas buat nulis tadi.” Satrio menunjuk kardus yang sedari tadi diduduki Anya.
“Oh iya. Ya ampun, nggak sadar.”
“Kadang emang pas udah nggak nyari, kita justru menemukan. Ya kan, Nya?” Satrio tersenyum.
“Ng…Iya.”
“Bye, Anya..”
“Bye, Tri..”

Keduanya tersenyum, saling melambaikan tangan.

read these, have you?