2 years into motherhood

/ 3:24:00 PM



Hello everyone!

Udah lama engga meluapkan pikiran di sini. I blame Twitter tho, berhubung dia sifatnya microblogging jadi kebiasaan nulis uneg2 di sana dalam bentuk tret. Tapi akhir-akhir ini buka timeline Twitter kok rasa engap. Kayak banyak hal di luar nurul nalar, jadi akhirnya kepengen balik ke platform ini lagi deh sekejap.



alasan betah di twitter


Mungkin banyak temen-temen daku yang ngga notice (well siapa eloh isma wkwk), tapi daku beberapa bulan terakhir memutuskan ga nongkrong di instagram lama-lama. Jadi udah jarang banget ngepost, nimbrung, atau nyimak entah apa-apa yang lagi hype di sana.

WhHyyyYY?? So I've been reading this book yang ditulis oleh Puty Puar judulnya "Empowered ME (Mother Empowers)". Daku udah lamaaa banget punya bukunya, probably around 2021 dihadiahin sama kak Yulisa, tapi baru bisa bener2 dibaca akhir2 ini setelah ga sibuk dikit2 diteriakin "IBOOOOK" ama bocil wkwk.

lecek karna dibawa kemana2


DAN KUMENYESAL BARU BACA SEKARANG.

Ngga menyesal2 banget sih, karna probably this is the best time to really digest anything written there anyway. Dan I dont really believe in regrets.

Sooo intinyaaa buku itu menjelaskan problematika emak2 jaman sekarang yang seringkali mengalami ((((masalah mental)))) (ini ril yah ges), beserta cara gimana pelan-pelan bangkit dan jadi ibu yang "berdaya".

Di sini sempat juga dibahas kenapa jaman dulu itu emak-emak punya 10 anak dengan jarak deketan mentalnya masih baik-baik aja sementara sekarang anak satu dah megap2 (true story bro). Jadi, menurut dia, salah satu alasannya adalah emak-emak di jaman sekarang itu terlalu banyak ekspektasi karena it's easier right now to peek at somebody's life. Hence it's easier for us too to compare keadaan kita sama orang lain dan merasa we're no better than them. Apalagi ya namanya sosmed pasti ya keliatan yang indah2nya aja (walau yg ngeluh lewat status WA juga ada), contohnya:


gw doain yg nulis status ini mentalnya bekbek aja


Oke itu satu alasan. Alasan lain adalah karena kalo dulu itu kita susahhh banget dapat informasi, jaman sekarang malah sebaliknya. Arus informasi terlalu deras dan justru kadang bikin kita overwhelmed. Dan itu yang hamba rasakan gaes. Kek, 5 detik sekali akyu menemukan "TIPS PARENTING TERBAIQQ", atau "JANGAN LAKUKAN INI PADA ANAKMU", dan tiap 5 detik itu daku membanjiri DM bapaija dengan postingan2 tersebut, yang akhirnya membuat daku mental breakdance sendiri alias kewalahannnn.

So, I decided to open IG less often (daku ga punya tiktok), yang ternyata berujung keenakan karena ternyata webtoon dan netflix lebih seru daripada liat orang joget-joget sambil kasi tips kehidupan (not that I'm against it yhaaaa) atau ngesave-save-in resep makanan ntahapa-apa yang kaga juga daku buat-buat.


aq pasca menuliskan kalimat di atas

Ok, back to the topic I wanted to deliver.

Nyatanya memang setelah jadi emak-emak, daku tuh merasakan ternyata ADA HAL YG LEBIH BERAT DARI KOASS GENGS.

Dulu daku rasa koass stase anak tuh udah sesak tiap hari kek mo pingsan, ternyata 2 tahun motherhood daku terasa lebih berat. Well, disclaimer dulu ya, ini bukan berarti daku engga bersyukur punya anak. NOT AT ALL. Tapi daku ibaratnya baru ditabok kenyataan bahwa ternyata punya anak itu engga selalu sehepi postingan2 ig-nya Mamajen. There are lotsss of hardwork, lots of wet diapers, cries (both the babies and their mothers wkwk), sleepless nights, countless overthinking thoughts, lots of worries, lots of "duh banyak ternyata yang aku ga tahu". BANYAK GES.

Daku bahkan sempat ngejoke (because that's my coping mechanism alright), bahwa "harusnya ucapan selamat menempuh hidup baru itu diucapin bukan pas baru nikah, tapi pas baru pertama kali punya anak." karna emang se-menempuh hidup baru- ituh. 

Awal-awal daku punya anak, daku merasa my life as ismarestii is over right now, dan mulai sekarang I would always be labeled as "bunda Cikal" or "Mamak Kal" whatsoever. And I hated it. Because I hate the feeling of losing myself, and I thought it would always be that way. And I'm 100% sure, bukan cuma daku yang merasakan ini karna segenap mamak-mamak di mutual IG daku seringkali merepost postingan dengan caption "Bundaa... kuatkan langkahmu..." atau "Pak suami, ini tanda istrimu sedang lelah batin" di tahun pertama pasca lahir anaknya (another true story bro) wkwk.

But the good news is... bundah-bundah... don't worry, you will find yourself again.

The first 2 years are surely hard, dan yaa di depannya juga ga serta merta jadi 'mudah', but it's definitely easier and we're getting better at what we're doing too. We're getting better at handling our child, or to communicate our feelings to our spouses, or to not worrying every little things way too much. We'll get used to it, and the sleepless nights willl be over too, we'll get our good nights back. Everything will be okay.

And soon, you'll find your path again. We'll rebuild and rebrand ourselves again in a way we could probably never imagined. Jadi bersabarlah, dan probably stop thinking that somebody out there has it easier or better, karna everybody's actually struggling dengan masalahnya masing2 dan mungkin di balik postingan penuh tawa juga ada postingan penuh air mata, dan anyway at certain things, comparison kills

Soo inti dari postingan ini adalah... apa ya. HAHAHA. Bingung juga. Tapi yang jelas, buat para mamak2 out there, I just want to say, we've done our best. Be proud of yourself for that. We can do it. Sama agak kurang-kurangi kali ya banjirin DM pak suami dengan what we should or should not do as parents (ini aslinya curahan hati bapaija wkwkwk). BUKAN BERARTI melarang lho ya plis jangan dipelintir wkwk, tapi kamsudnya, mungkin biar ga sengep banget sama informasi yang tiada habisnya, ada baiknya kita scroll dan berkirim meme dulu barang sejenak dua jenak yekhan. 





This is for every mothers out there. Tarik napas perlahan 4 detik, tahan 4 detik, hembuskan 4 detik. Okay, we're good. We rock!

That's it. See you later!


ps. daku sangat merekomendasikan baca bukunya!

and this is one of the reason why


















Hello everyone!

Udah lama engga meluapkan pikiran di sini. I blame Twitter tho, berhubung dia sifatnya microblogging jadi kebiasaan nulis uneg2 di sana dalam bentuk tret. Tapi akhir-akhir ini buka timeline Twitter kok rasa engap. Kayak banyak hal di luar nurul nalar, jadi akhirnya kepengen balik ke platform ini lagi deh sekejap.



alasan betah di twitter


Mungkin banyak temen-temen daku yang ngga notice (well siapa eloh isma wkwk), tapi daku beberapa bulan terakhir memutuskan ga nongkrong di instagram lama-lama. Jadi udah jarang banget ngepost, nimbrung, atau nyimak entah apa-apa yang lagi hype di sana.

WhHyyyYY?? So I've been reading this book yang ditulis oleh Puty Puar judulnya "Empowered ME (Mother Empowers)". Daku udah lamaaa banget punya bukunya, probably around 2021 dihadiahin sama kak Yulisa, tapi baru bisa bener2 dibaca akhir2 ini setelah ga sibuk dikit2 diteriakin "IBOOOOK" ama bocil wkwk.

lecek karna dibawa kemana2


DAN KUMENYESAL BARU BACA SEKARANG.

Ngga menyesal2 banget sih, karna probably this is the best time to really digest anything written there anyway. Dan I dont really believe in regrets.

Sooo intinyaaa buku itu menjelaskan problematika emak2 jaman sekarang yang seringkali mengalami ((((masalah mental)))) (ini ril yah ges), beserta cara gimana pelan-pelan bangkit dan jadi ibu yang "berdaya".

Di sini sempat juga dibahas kenapa jaman dulu itu emak-emak punya 10 anak dengan jarak deketan mentalnya masih baik-baik aja sementara sekarang anak satu dah megap2 (true story bro). Jadi, menurut dia, salah satu alasannya adalah emak-emak di jaman sekarang itu terlalu banyak ekspektasi karena it's easier right now to peek at somebody's life. Hence it's easier for us too to compare keadaan kita sama orang lain dan merasa we're no better than them. Apalagi ya namanya sosmed pasti ya keliatan yang indah2nya aja (walau yg ngeluh lewat status WA juga ada), contohnya:


gw doain yg nulis status ini mentalnya bekbek aja


Oke itu satu alasan. Alasan lain adalah karena kalo dulu itu kita susahhh banget dapat informasi, jaman sekarang malah sebaliknya. Arus informasi terlalu deras dan justru kadang bikin kita overwhelmed. Dan itu yang hamba rasakan gaes. Kek, 5 detik sekali akyu menemukan "TIPS PARENTING TERBAIQQ", atau "JANGAN LAKUKAN INI PADA ANAKMU", dan tiap 5 detik itu daku membanjiri DM bapaija dengan postingan2 tersebut, yang akhirnya membuat daku mental breakdance sendiri alias kewalahannnn.

So, I decided to open IG less often (daku ga punya tiktok), yang ternyata berujung keenakan karena ternyata webtoon dan netflix lebih seru daripada liat orang joget-joget sambil kasi tips kehidupan (not that I'm against it yhaaaa) atau ngesave-save-in resep makanan ntahapa-apa yang kaga juga daku buat-buat.


aq pasca menuliskan kalimat di atas

Ok, back to the topic I wanted to deliver.

Nyatanya memang setelah jadi emak-emak, daku tuh merasakan ternyata ADA HAL YG LEBIH BERAT DARI KOASS GENGS.

Dulu daku rasa koass stase anak tuh udah sesak tiap hari kek mo pingsan, ternyata 2 tahun motherhood daku terasa lebih berat. Well, disclaimer dulu ya, ini bukan berarti daku engga bersyukur punya anak. NOT AT ALL. Tapi daku ibaratnya baru ditabok kenyataan bahwa ternyata punya anak itu engga selalu sehepi postingan2 ig-nya Mamajen. There are lotsss of hardwork, lots of wet diapers, cries (both the babies and their mothers wkwk), sleepless nights, countless overthinking thoughts, lots of worries, lots of "duh banyak ternyata yang aku ga tahu". BANYAK GES.

Daku bahkan sempat ngejoke (because that's my coping mechanism alright), bahwa "harusnya ucapan selamat menempuh hidup baru itu diucapin bukan pas baru nikah, tapi pas baru pertama kali punya anak." karna emang se-menempuh hidup baru- ituh. 

Awal-awal daku punya anak, daku merasa my life as ismarestii is over right now, dan mulai sekarang I would always be labeled as "bunda Cikal" or "Mamak Kal" whatsoever. And I hated it. Because I hate the feeling of losing myself, and I thought it would always be that way. And I'm 100% sure, bukan cuma daku yang merasakan ini karna segenap mamak-mamak di mutual IG daku seringkali merepost postingan dengan caption "Bundaa... kuatkan langkahmu..." atau "Pak suami, ini tanda istrimu sedang lelah batin" di tahun pertama pasca lahir anaknya (another true story bro) wkwk.

But the good news is... bundah-bundah... don't worry, you will find yourself again.

The first 2 years are surely hard, dan yaa di depannya juga ga serta merta jadi 'mudah', but it's definitely easier and we're getting better at what we're doing too. We're getting better at handling our child, or to communicate our feelings to our spouses, or to not worrying every little things way too much. We'll get used to it, and the sleepless nights willl be over too, we'll get our good nights back. Everything will be okay.

And soon, you'll find your path again. We'll rebuild and rebrand ourselves again in a way we could probably never imagined. Jadi bersabarlah, dan probably stop thinking that somebody out there has it easier or better, karna everybody's actually struggling dengan masalahnya masing2 dan mungkin di balik postingan penuh tawa juga ada postingan penuh air mata, dan anyway at certain things, comparison kills

Soo inti dari postingan ini adalah... apa ya. HAHAHA. Bingung juga. Tapi yang jelas, buat para mamak2 out there, I just want to say, we've done our best. Be proud of yourself for that. We can do it. Sama agak kurang-kurangi kali ya banjirin DM pak suami dengan what we should or should not do as parents (ini aslinya curahan hati bapaija wkwkwk). BUKAN BERARTI melarang lho ya plis jangan dipelintir wkwk, tapi kamsudnya, mungkin biar ga sengep banget sama informasi yang tiada habisnya, ada baiknya kita scroll dan berkirim meme dulu barang sejenak dua jenak yekhan. 





This is for every mothers out there. Tarik napas perlahan 4 detik, tahan 4 detik, hembuskan 4 detik. Okay, we're good. We rock!

That's it. See you later!


ps. daku sangat merekomendasikan baca bukunya!

and this is one of the reason why
















Continue Reading


The (not so) epic story about a tinder love comes true.


Haii semuanya, wow ternyata sudah bertahun-tahun ku tidak pernah menulis lagi di blog yha. Terakhir 2017.. ya ampun itu kayaknya Ahok masih baru-baru turun jadi gubernur DKI, sekarang doi udah jadi dirut Pertamina aja... (cuy, harus Ahok banget patokannya) (biar traffic naek).

Well..it's just... way too many things happened in past few years, dan spirit menulis hilang begitu saja akibat kelamaan diabaikan ahahaha. But now I'm back!

Ok, quick review about what happened for these 4-5 years, 


First, this happened. ALHAMDULILLAH YA ALLAH, setelah menjalani 6 tahun yang panjang penuh denial, keluhan, dan air mata.. akhirnya hamba lulus dari Fakultas Kedokteran :') :') :')



Then, this happened. Nah, kelar kuliah perjuangan masih berlanjut.... yaitu fase internship dan kumemutuskan untuk iship di sebuah daerah sejauh 2x tiket pesawat + 6 jam perjalanan darat (padahal masih sepulau) di Balangan, Kalimantan Selatan.
Was it a right decision? TURNED OUT IT WAS, because....


THIS HAPPENED


SETELAH MELALUI DRAMA PERCINTAAN YANG NGALAHIN TERSANJUNG 1-6, HAMBA NIKAH CUY. 
*cries in relief and disbelief* wk



*simulasi nangis terharu*



Baik, jadi postingan kali ini akan specifically bercerita tentang "how we met" dan gimana ceritanya bisa sampe naik pelaminan because I've promised my teenage self I would write myself one. LAGIAN YA LAGIAN, ini menurut hamba ceritanya terlalu sayang untuk tidak diabadikan.

JADI, kalo ditarik jauuuuuuh ke belakang, semua ini berawal dari hamba batal UKMPPD (ujian kompetensi dokter gitulah sebelum lulus). Ceritanya ribet panjang dan penuh air mata, jadi skip ajalah ya soal itu. Intinya, hamba yang tadinya bisa UKMPPD bulan Agusutus 2017, terpaksa mundur ke November 2017. Ada idle sekitar 3 bulan kan ya? Tentu saja sebagai manusia berakhlak, daku memutuskan untuk melakukan kegiatan bermanfaat yaitu download tinder ☺️☺️☺️  

Niatnya pada saat itu adalah selain berusaha move on karena abis patah hati luar biasa, juga adalah murni mau nyari temen jalan-jalan ama makan doang karena daku memutuskan sebulan trip sendirian ke Jogja-Bandung-Jakarta-Derawan (ga murni sendirian sih, di kota-kota tsb ada ketemu temen/keluarga juga). And by that time, I used tinder on-offly for the similar purpose. MURNI CUY BUAT ITU DOANG PADA SAAT ITU, LAGIPULA--
Image


Aq pada diriQ saat itu
 



Oke, setelah make tinder cukup lama, ternyata sabi juga lah ya nih apps buat nambah-nambah temen, cuma emang ini HARUS HATI-HATI BANGET YHA MAKENYA. Kalo daku personally ga mau pindah ke personal chat (wa, line, dll) apalagi ketemuan sebelum melakukan bekgron cek yang lumayan panjang. Karena banyak banget, daku ulangi, banyak baaaangeeeeet korban oknum2 mesum tinder di luar sana. 

Balik lagi ke cerita, karena UKMPPD yang mundur, akhirnya terpaksalah jadwal iship jadi mundur juga. Daku yang tadinya udah plan mau iship di Kalbar aja, akhirnya jadi mikir-mikir gegara pas batch daku itu banyak banget yg mau iship dan kuota Kalbar cuma dikit. Lalu, tak dinyana-nyana (tsailah bahasanya), eh daku diajak Luthfi ma Anes (temen seangkatan) buat nyoba iship bareng di sebuah kota nun jauh di Balangan, Kalsel.

Karna my life is my adventure (pada saat itu lho ya, saat ini mah my life is netflix n chill jan diganggu), daku iyain. Trus kebagian pula kami bertiga kuota di sana. Berangkatlah ya.

Nah, selama di sana.. karna jujur ya walaupun daku senengg banget sama lingkungan dan orang-orangnya, tapi tentu agak membosankan mengingat 'mall' terdekat hanyalah Alfamart & Indomaret, serta aktivitas yang bisa dilakukan hanyalah bersepeda dan bercengkrama dengan acil-acil pasar, ku akhirnya decide buat download tinder lagi. Which, of course, I used on-offly still..

MESKIPUN BEGITU, ada periode di mana tiba-tiba ada sodara dari temen deket hamba yang minta kenalan, lalu ngajak taarufan....for real..... DI SITULAH HAMBA AKHIRNYA BERHENTI TINDERAN. Jadi kami ngobrol intens, bikin rencana buat ketemu, kenalan keluarga dll dan if all went well mau langsung lamaran dll gitu kan ya.... (what were you thinking, hey ismaresti)... CUMA karna posisinya dia ini di Jabodetabek (gausa spesifik amat lah ya), jadi rencananya mau ketemuannya pas kelar iship bulan Mei 2019. Dah pokoknya wa intinya ngerasa senang mengingat alhamdulillah bentar lagi laku, tanpa berpikir panjang pada saat itu hehehehehehhehe💆

Image

Aq dalam hatiQ tiap mengingat memori tsb


APAKAH DIA YANG KEMUDIAN MENJADI LAKI-LAKI DI FOTO TSB? Tentu tidak sobat. Lu liat muka laki w, apa ada muka-muka taaruf? Kaga pan...

So.... pada bulan April, sekitar sebulan menjelang ketemuan, ni wa inget banget kaga bisa lupa.. tiba-tiba dia ilang kabar...
....dan tiba-tiba wa dapet kabar dari temen wa bahwa dia....
JENGJET
(harus heboh ini)
.....LAMARAN AMA ORANG LAEN. LAMARAN CUY. PAKE BAJU COUPLE-AN. PUSING NGGA NGANA.............

Apakah daku shock? YA GILA KALI JIKA TIDAK.
Syok bener w.... sampe akhirnya karna kesel, wa mencari pelarian... alias...

yak betul, download tinder lagi
:) :) :) 
ga bener emang :) untung hepi ending :)

Jadi, di tengah sakit hati tsb main tinderlah hamba, dengan ogah-ogahan sebenernya. Trus matchlah ama ni laki..... (kita sebut saja dia Mas).
(aduh ga ada skrinsutannya) Pokoknya ini dah chat awal-awalnya:


Trus yaudah ngobrol-ngobrol gitu kan, tapi bukan yang bikin kepengen pindah ke personal chat juga....

Isi chat kala itu 🙂🙂🙂

Aq saat baca ulang chatnya sekarang


SAMPAI AKHIRNYA, kita ngebahas soal....Audrey. Iya, Audrey yang 'ngeprank' sejuta umat Indonesia itu. Ntah kenapa ni laki kepikiran buat ngelempar tu topik dan kebetulan daku juga gemes ama si Audrey ini karna dari awal udah suspicious, jadi bak gayung bersambut akhirnya kita bahas dah trus jadi jauh....




Apparently, the conversation was worth moving to personal chat that he finally asked me my wasap number 😏😏😏. Dan di sinilah semuanya bermula.....



Pembaca di detik ini be like:


Begitu pindah ke wassap... baru dah kerasa WAH TERNYATA ENAK JUGA NI ORANG DIAJAK NGOBROL. Ga nyampe seminggu wassapan, kita pindah telponan..... dan itu kayaknya 2-3 jam gitu sekali telponan (bahkan pernah 6 jam) HAHAHAH MARUK MEMANG. 

Sneak peek isi obrolan begitu pindah personal chat


Dari intens chat dan telponan tsb, akhirnya ku mengetahui bahwasanya doi ini asalnya dari Samarinda (Kaltim), tapi lagi kerja di Kalteng (mepet Kalsel). SEMENTARA hamba ini asalnya dari Pontianak (Kalbar), dan lagi kerja di Kalsel.

Ternyata ini yang dinamakan, ikan di laut, sayur di kebun, ketemunya di rumah makan padang 🙂
Tampaknya memang seru namun sebetulnya RUMIT YA SEMUA INI :_) :_) :_)

Well, semua-semua berjalan baik-baik saja SAMPAI tiba waktunya bulan Mei pas mau selesai iship. Trus adalah yaa plan buat ketemuan di Banjarmasin (karna daku bakalan ke Banjarmasin juga, dan jarak dia ke Banjar cuma 2 jam). Seperti biasa, tiap ada plan ketemuan ma laki-laki tinder selama di Kalsel, wa selalu lapor Anes/Luthi (or both).

Di sinilah turning pointnya....

Anes langsung blak-blakan bilang, "Ma, coba kau pikir-pikir. Kau di mana, dia tuh di mana? Ini kalo abis ketemuan ternyata oke, mau ngapain? Kalian sejauh 2 tiket pesawat. Mau berharap dia ke Pontianak? Yakin? Mau kau yang ke sini? Emang mungkin?"

IYA JUGA YA. YA ALLAH KEMAREN KEBANYAKAN BUCIN SIH JADINYA GA MIKIR KAN.


Aq, menyadari kendala geografis ini

 



Obrolan ma Anes tersebut sangat membuka otak hamba yang terlampau berkabut ini, sehingga sekitar seminggu sebelum pemulangan Iship, ku akhirnya bilang ke Mas (yang intinya), "Keknya kita stop aja deh, soalnya ini bisa lead to me liking you, while it's geographically difficult, and I cant afford another heartbreak for now". 
To the point banget pokoknya wakakakk.
Trus, ditanggepin dia (separo bingung karena kok tiba-tiba) dengan, "Well silakan lakukan apa yg logic buat kamu, I'll do what's logical for me."
Begitu.

Yang ternyata adalah.... dia kaga menyerah bung 😂 alias lanjut aja masih ngontak, tapi emang kita decide buat ga ketemuan dulu demi kemaslahatan bersama.



Aq setiap kali menerima chat darinya kala itu


Sampailah hamba di Pontianak, kembali ke kota tercinta. Ternyata despite the distance n all, komunikasi alhamdulillah masih lancar aja. Masih telponan dll, cumaaaaa syukurnya karna dah ditampar Anes pake kenyataan pas dulu itu, ekspektasi wa jadi udah rendah banget kayak ekspektasi kita terhadap pemerintah nilai fisika hamba jaman SMA, wk. Jadi kayak yaudah sih let's see aja gitu.

Ga kerasa udah sekitar 7-8 bulanan gitu kan ya, nah menjelang akhir tahun, hamba sama bestie hamba si Devya, bikin plan trip tahunan dan kali ini kepengen ke Makassar trus ke Tanjung Bira. KEBETULAN YA KEBETULAN, si Mas ini dulunya kuliah di Makassar jadi doi pas denger plan tsb tertarik buat ikut sekaligus ketemuan di sana gitu. HAHAHA sa ae. 

JADI KAMI PERTAMA KALI KETEMUAN DI MANA?
Di bandara Hasanuddin itu. Literally pertama kali. HAHAHA. Dalam keadaan doi udah kucel banget karena flightnya lebih awal 8-10 jam dari daku. Agak terharu sih pada saat itu :') :')


Aq dalam hati saat melihatnya capek2 tapi tetap tersenyum saat bertemu:
 


APAKAH SETELAH KETEMUAN ITU LANGSUNG ADA ADEGAN KYUT DITEMBAK DI TEPI PANTAI???

Tentu tidak.
Tidak ada sama sekali tolong jangan ketinggian dalam berharap 😊🙂 Si Devya (sama Kiku, bestie hamba yang memantau dari Pontianak) aja ampe gemes setengah mati karena tiap ditinggal berdua kami malah bahas soal...........
.....kerjaan.....


🙂🙂🙂



Tiba-tiba hari berlalu begitu saja, sampe akhirnya udah saatnya hamba pulang. Nah, dianter tuh ama dia kan ya ke bandara, flight jam 6 jadi kami berangkat dari hotel jam 3 subuh. Harapan daku dah anyep seanyep kerupuk mamang lupa dikresekin pokoknya.

Trus pas di perjalanan (kurang lebih sejam), tau-tau ada percakapan kayak gini:

Mas: "Nanti salam ya buat ortu kamu."

Me: (dalam ati: yaelah basi bat), "Oh hahah iya. Tapi kayaknya kusampein ke Ibu aja deh. Ke Babeh engga."

Mas: "Kenapa gitu?"

Me: "Soalnya aku dah ga pernah lagi cerita ke Babeh soal laki-laki kecuali dah yakin banget ada niatan buat ke next step gitu yang serius."

Mas: "Oalah, yaudah iya sampein ya ke mereka kalo gitu. Nanti kita atur aja kapan aku bisa ke Pontianak, maybe soon."


HA GIMANA?

HA GIMANA?

GIMANA?

Aq di sepertiga kantukku:



Reaksi hamba pada saat itu?? Jujur masih ga ngeh................HAHAHAHAHA. Lagian apa yang anda sekalian harapkan dari orang yang kurang tidur, jam 3 subuh, belom ngopi. TENTU SAJA SAYA KIRA DIA CUMA BASA-BASI.
Sadarnya pas kapan? Pas udah nyampe Pontianak, trus ditelpon ma dia, yang intinya mengabarkan bahwa ibunya dia sangat excited denger soal plan kami dan bahkan udah semacam ngabarin ke keluarga besar.


Gambaran keadaanQ saat mendengar kabar tersebut



Image





My parents be like:


YAK JADI BEGITULAH KIRA-KIRA CERITANYA SOBAT. Kaga yang uwu-uwu sosweet begimaneh emang.... hanyalah salah satu tinder success story yang ternyata kejadian dalam hidup hamba 😂

Nah, perjalanan setelah kejadian ini juga agak-agak sesuatu karena kami menjalani THE PREPARATION OF PANDEMIC WEDDING. Tapi ntarlah ya kita bahasnya kapan-kapan di post selanjutnya, yang ini dah kepanjangan WAKAKAK.


Sekian cerita nirfaedahnya, makasih banget yang udah baca ampe ke tahap ini. KALIAN LUAR BIASA!




Serendipity. Akhir-akhir ini Anya sering sekali mendengar istilah itu digaungkan di mana-mana; judul novel, twitter, blog, artikel, tumblr. Many people think that word is somehow romantic. Finding something good without actually looking. An unexpected beautiful meeting.
Seperti sebuah pertemuan yang tidak direncanakan.. How romantic.
Bah.
Menurut Anya, si hopeless romantic yang ujung-ujungnya cuma hopeless ini, the word 'Serendipity' is overrated. Terlalu diagung-agungkan. Alasannya jelas. Karena menurutnya:
Pertama, kita nyaris setiap hari bertemu orang baru di dalam hidup kita, dan berani taruhan, lebih dari 80% tidak ada yang direncanakan. Most of meetings are unexpected. Emangnya kita bangun tidur berencana gitu buat ketemu mamang sate di simpang jalan? Atau dengan sengaja punya plan untuk ketemu sama temen SMP di salah satu booth di mall? Kecuali reunian, ngedate, meeting sesungguhnya alias rapat, all meetings count as 'unexpected'.
Jadi apanya yang romantis sih?
Dua, serendipity is a word that gives a false hope to hopeless people who haven't meet 'the one'. That someday, they will unexpectedly meet the love of their life beautifully. Ini yang menurut dia paling ngga bener. Sama ngga benernya dengan fairy tales ala disney princess bahwa suatu saat that prince charming would actually show up. Well, sejujurnya, dia sendiri adalah korban. All her life, she always wonder on how she's gonna meet that 'person'. Itu juga alasan dulu ia sering sekali mengikuti feeds Instagram '@thewaywemet; because she believes on that 'special meeting'. Tapi sekarang, ia yakin bahwa hanya sebagian kecil orang di dunia ini bakalan mengalami those kind of cute-meets. Sisanya...ya standar. Ketemu dan menikah karna udah waktunya, dikenalin temen, dijodohin lah, atau yang lagi ngetrend..ketemu via dating apps.
Well, she believes she bears no such lucks.
Tiga, ini alasan yang sebenarnya Anya tambah-tambahin. Bahwa ada 'pity' dalam Serendipity. And she just doesnt like the word. 
Intinya, dia merasa, Serendipity itu ngga seindah kedengarannya.

Until she met Satrio.

Pertemuan pertama dan keduanya dengan Satrio adalah sesuatu yang di luar perencanaan. Tidak ada dalam planning hidupnya..saat ini. But they meet anyway. Not once, but twice. And both of them are unexpected as ever. At least for her.

Dan tau, apa hal paling menyebalkan dari itu semua? The fact that now she wants more. It's been happening twice, siapa tau dewi keberuntungan berbaik hati padanya dan memberi mereka pertemuan ketiga, kan?

Anya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hush. Apa-apaan sih.

"Haloo. Ini kepencet apa gimana ya, Nya?" Suara di seberang telepon membuyarkan pikirannya.

Oh no.
No way.
What have I done?? 

Anya mengernyitkan dahinya. Tertegun tak percaya melihat layar tabnya yang menampilkan whatssap call dengan wajah dan nama Satrio terpampang di depan matanya.

Gue abis ngapain???? Paniknya

"Halooooo...aku matiin ya?"

"Eh. Sat. Halo. Sorry-sorry. Tadi kepencet."

"Oh. Udah kuduga. Padahal aku seneng banget akhirnya kamu nelponin aku juga."

"Hahaha... Maunya. Tunggu...ini gimana kok bisa-bisanya ada kontak kamu sih di tab aku?"

"Hahaha oke, aku ngaku..abang-abang counter tempat kamu ganti tempered glass itu Nya.. He's a friend of mine. Trus pas dia pasang-pasang itu aku suruh diem-diem save-in nomer aku ke tab kamu hahaha."

Buset.
Speechless gueh.....Batin Anya

"Nya? Kamu ga marah kan ya? Maaf ya jadinya lancang. I was just trying on my luck. Siapa tau suatu saat kamu liat trus kepikiran untuk ngajak ketemu gitu."

"Ngg..."

"Kok diem Nya?"

"Gimana ya... Aku..speechless aja bisa-bisanya kamu kepikiran buat kayak gitu."

Kalo aja Satrio tau betapa kagetnya Anya waktu ujug-ujug di kontak whatssap tab nya tertera nama "Tri Satrio Arsitek". Dari 6 kontak whatssapnya. Karena kontak whatssap tabnya itu memang khusus hanya berisikan keluarganya saja.

Ketambahan satu orang tentu saja terlihat jelas di matanya.

" I just dont know whether I'll meet you again or not Nya."

"Dan kenapa gitu kita harus ketemu banget?"

"Hahaha gini Nya. Aku ngga lagi memuji atau ngomong manis atau yaa ngegombalin kamu ya. I'm just trying to be honest. Aku suka mengamati orang-orang. Dan dengan mengamati, aku jadi tau mana yang ke depannya aku bakal senangi dan mana yang nggak."

"Lalu?"

"Sebutlah kamu termasuk orang yang menarik buat aku. Menurut aku, menarik itu menyenangkan. Jadi ya, begitu."

Gila ni manusia, dalam hati Anya.
Sadar ga sih ngomong kayak gitu bisa bikin hati cewe normal kebat-kebit ngga karuan? Untung gue ngga baperan, batinnya lagi.

"Oke..... Menurut aku itu creepy, Sat."

"Tri, please."

"Iya whatever. Yaudahlah ya, sori tadi kepencet."

"Loh, ga jadi nongkrong ngopi di manaa gitu?"

"Loh, ada ya aku ngajakin?"

"Nggak ada sih hahaha."

Ketawanya, plis dikontrol, nggak usah ngebass betul... batin Anya.

"Well, kalo dibalik, kalo aku yang ajak, gimana? Tonight?"

Anya mengeluarkan 'hmmm' panjang sebelum akhirnya menjawab, "Okay, tonight."

"Great. Ketemu atau aku jemput?"

"Hmmmmmmmm......jemput? Deket kan ya?"

"Okay."

"Okay."
Hening sesaat, hampir saja Anya mematikan panggilannya.

"Eh.. Alamat lengkap kamu, Nya?"

"Oh...hahaha. Tadinya kukira kamu tau. Siapa tau sekalian kamu minta temen kamu itu buat ngotak-atik tab aku buat nyari alamat akuu gituuu...." Ejek Anya.

"Nya. THAT, would be creepy. Ya aku ngga gitulah hahah."

"Aku whatssap aja ya. Nanti lewat nomer whatssap aku satunya lagi aja. Nomer ini jarang kubuka."

"Oke."

"Oke."

Anya mematikan whatssap callnya. 09 menit 35 detik.

Lama ia terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Ia tertawa, pipinya tanpa sadar merona.
Ia memasukkan tabnya ke tas, mengemaskan barang-barangnya, bersiap keluar kelas untuk pulang.
Ia berjalan di lorong dengan dada berdegup agak terburu hinnga tak sengaja hampir menabrak seorang wanita yang membawa setumpuk berkas di dalam sebuah map.

"Eh. Maaf." Ia menundukkan wajahnya tanda tak enak, tak sengaja melihat map yang bercorak tulisan-tulisan semacam doodles. Ia memicingkan matanya, tersenyum sendiri saat membaca salah satu kata di situ.

Serendipity.

Ah, that overrated word. Still overrated tho. Pikirnya.

Ia kemudian mengetik sesuatu di layar handphonenya,

"Rumahku di jalan Samudra nomer 33 ya. Atap cokelat, lantai teras warna kuning tua. Ada lampu tamannya. I expect to see you by 7 ;)"

Dua centang biru.

"Ay ay captain ('o')7."

Anya berjalan ke parkiran. Senyum dikulum. Hatinya bermonolog.

Empat, batinnya
Serendipity is overrated because, well.. Why expect the unexpected? Kalau memang bisa direncanakan, kenapa sih harus mengharapkan yang tidak direncanakan? Supaya kesannya romantis gitu, tau-tau ketemu karena takdir?

Percakapannya dengan Satrio via whatssap tadi terulang kembali di kepalanya bak film pendek.

...And talking about romantic, well, itu cuma masalah cara. Ngga musti kan ya selalu bergantung rencana semesta?

Senyumnya melebar sembari ia berkendara pulang.

Disclaimer: I might not the first one to write about this topic, but I need to get them out of my chest, so here it is.

When I was seventeen (or any age during highschool), I used to think that being 20 means glory. A golden period of someone's life that I really waited for. I though it would be the time of my life, when I would be able to go out and do everything, achieve everything, and also be able to make decision freely about everything.

Now I am 23-ish, 2 year more into my quarter life something. I think back about those thoughts, and ask myself the questions.

Can I go out and do everything? Yes, but until 10 p.m. only or my Dad will flood my inbox with "Dek, pulang. Dek, udah jam berapa nih?" etc. I still haven't be able to go on solo trip to Kuching (SO VERY SAD) even when I already prepared for the trip like a month before (including the bus, hotels, cullinary plan and all). So, nothing like freedom especially if you are the only daughter your parents have. You will be restricted still.

Do I achieve everything? Well I did finish my school and get 'S.Ked' title, but I haven't officially finished my study (because lol, doctors). I haven't reached my dream whatsoever to study abroad. I haven't started any business, haven't made any money (well I made some by being translator but it's still a part time job), and sometime I feel like I am stuck between kos-kosan bed --- hospital --- kos-kosan bed (that's koass life, will tell ya later). I am nothing close to my dream, let alone get married and have kids while people around me are planning to have second child (MY EX HAS 2 CHILDREN ALREADY MY LORD). So yeah, this is reality and it hits me hard at times.

Can I make decision freely about everything? This, somehow, is the only truest thing that finally come true. YES, I am free to make (almost) any decision that I need to keep my life going. But, there is always a 'but', the 'free decision' also comes with a bag full of responsibility tagging along the decision. And I am bad with making one. If you made one, you have to also be ready with the consequences, and most time, we are not ready for them.

So, yes, being 20 something is not as glory as I thought it was. Being 20 something means you are getting into several time of losing and finding your true self. Of getting know too much, and also so little of everything that going around the world. It also means standing in the bridge of uncertainty, to enjoy life the most so there won't be any regret or to get everything right seriously so we will hold the future tightly. For example, I sometimes feel like I deserve to just lay in bed during weekend, but when weekdays come I always feel like I am wasting my time and it actually haunts me a lot. The cycle repeats on and on, which makes me think, why do I feel this way?

Then I looked back to my old diaries where I wrote about all the goals and plans to have the best and brightest future, the ones I should pursue in this very age. Now I get why I, and maybe most people my age, feel like 20 something becomes a heavy burden on a shoulder. I sort it into some points, so here they are:


  • It is because we already have expectations that 20 something is the age of having it all. While in the fact, well, you may and also may not have it all. Yes, maybe some people already get a firm and sustainable career, maybe some people already have a fairy tale marriage whatsoever, maybe some people already meet their goals to travel around the world. BUT, that does not mean if you are not achieving those, it means you are a pathetic losers. Well we, people, have our own timeline, we run in our tracks. We sometimes jog or do a little walk, and that's okay. The point is that we should keep moving forward (now this sounds like quote from motivators, but damn those right) despite what people achieve. Because it is their timeline. We should really stop comparing somebody's pages with ours. But, that does not mean you are allowed to just be laid back about everything. My point is, just because somebody is succeed at your age, does not mean those who have not are the losers.
  • It is because we try so hard to fulfill people's expectations of us. Well, we do live in a place where people 'care' so much about what we have done. People around us will constantly have expectations about what we should be. We should go to college after highschool. We should graduate on time. We should have job right after graduate. We should be married once we make money. We should have kids right after the wedding. Etc etc. It won't stop. And maybe not many people understand, or even realize, that those expectations are the ones that burden us a lot. And the weight will slowly become something that stand between us and our true goals. So believe me, just close your ears tightly when they start to blab about what you should be. You owe nothing to them, so they are not the ones who should decide what and when you should be. If what you are doing are making you happy, then carry on.
  • It is because we think our life is only about goals. I recently see a video about why people often feel frustated about not reaching their goals. In that video, he explains that it is mostly because we often become too obsessed with the goals that we are getting stressed over the obstacles that we cannot control. Yes, goals are made so we can be focused to our destination. Goals are made so we are kept in the 'right' line. But once we already on the path, why we care so much about the goals that we forget to enjoy the journey? Life itself is a 'trip' that we take, so I think what's important is that we always, always enjoy the ride


Okay, I think those three points are enough. I myself often feel like I am lost and useless (especially during pms, because.. hormones) but trust me, if we are in constant worries of not having it all together, we might actually waste our time. We ARE in the best time of our life, make a use of it. Be happy about it, and most importantly, be present in every moment.
And someday, maybe soon, you will finally arrive at your destination. Safe and sound :)

See ya!



"A' halooo."
"Ya teh? Pesen apa?"
"Duh A', meja counternya tinggi banget ini, susah baca tulisan menunya."
"Hahaha, ini sok atuh diambil leafletnya, liat di sini aja, mau minum apa teh?"
"Hmmm.....cappuccino aja deh ya A' yang anget. Jangan panas-panas atuh, nanti keburu subuh diminum nungguin jadi dingin."
"Huahaha, siyap teh, ntar tunggu aja ya ambil nomernya sok."
"Iya A'." *lompat-lompat* "Duh, ga nyampe A', kumaha iyeu counternya ngga ramah sama orang mungil kayak saya. Kasih semen aja apa ih di depan sini biar tinggian dikit."
*Ketawa lagi* *Ngambilin* "Ini teh, lain kali kalo ke sini lagi pake heels atuh teh hihihi."

***

"Eh masbru, ini kayaknya di depan counter perlu kita tambah semen deh."
"Wah, kumaha. Kayaknya dari dulu-dulu banyak yang complain tapi katanya ngga usah buang-buang uang?"
"Iya, dipikir-pikir kasian juga yah kalo ada yang badannya kecil mungil susah liat menunya."
"Yaudah, oke nanti saya urus deh. Asal ada aja biayanya."
"Okeh."

***seminggu setelah disemen***

"Loh A', ini kok tetiba ada semennya? Akhirnyaah, saya bisa liat menunya di meja counter hihi."
"Hehe, iya atuh neng, saya kan menampung aspirasi kastemer. Sok dipilih minumannya neng, mau minum apa? Cappuccino nggaa pake susu lagi?"
"Wah, Aa mah perhatian pisan. Jadi terharu. Hmm padahal tadi saya ajak kakang, biar bisa liatin menunya." *Liat belakang* "Kang, sinih. Pesan apa? Ini ngga ada menu lemonti kesukaan kakang, apa mau disamain aja ama eneng?"
"Oh, ada kakangnya ya teh? Hehehe hehe hehe..."

***
When we are apart from the ones we love, we could use doing little things they used to do just to make us feel like they are close to us. As easy as listening to the same radio station they used to listen every morning while being stuck on the traffic: reading the same book they used to read before sleep, using coin as its bookmark; watching the same series they have been following even when you’re not really into them. We do those things over and over until we really meet them, just because we need to feel their presence in our live.
Itulah yang sedang Anya lakukan seminggu belakangan. Menghadirkan Banyu dalam kesehariannya melalui hal-hal kecil yang biasa dilakukannya. Jika tertarik pada satu lagu, Banyu senang sekali memutar lagu tersebut di handphonenya berulang-ulang sampai muak, untuk kemudian akhirnya menyukai satu lagu lain dan mengulang siklus yang sama. Itu sebab seminggu ini Ellie Goulding – On My Mind jadi satu-satunya lagu yang menggema dari speaker ponsel Anya, dan ia belum muak. Banyu senang sekali memotong makanan kecil-kecil sebelum dimakan, apapun itu bentuk makanannya –kecuali nasi- maka Anya pun memotong kecil-kecil pisang goreng susunya sebelum memakan, walau sebetulnya Anya lebih suka menggigit dan mengunyahnya langsung. Banyu selalu menjentikkan jari sebelum mulai menulis sesuatu, maka Anya pun melakukan hal yang sama hingga akhirnya kebiasaan itu melekat padanya. Atau mengulang kata yang sering Banyu katakan semacam ‘santailaah’, dengan nada tertentu yang Anya hapal betul. Anya melakukan itu semua.
Tapi tentu saja ada beberapa hal yang Banyu biasa lakukan, yang tak bisa ia lakukan. Seperti mengedikkan kepala ke bahu –memberikan tanda buat Anya untuk bersandar di bahunya- tiap kali Anya merasa lelah dan buntu. Atau mencium rokok sebelum membakarnya, menghisapnya dua kali lalu mematikan dan membuangnya. Satu-satunya kebiasaan Banyu yang ditentang Anya. Banyu butuh nikotin sama seperti Anya butuh kafein. 
Bukan bendanya, tapi isinya. Kamu suka kopi walau kamu tau itu nggak baik buat kamu, karna kamu butuh kafeinnya bukan ngopi-nya. Ya apa bedanya sama aku, Nya?
Kalimat Banyu itu mengiang di kepala Anya; kalimat yang membuat Anya selalu kalah suara perkara kebiasaan merokok-dua-hisap itu.
Kadang Anya membalas dengan, “That is so freakin bullshit Nyu. Nikotin nggak baik buat kamu.” Yang dibantah Banyu dengan, “Kafein juga nggak baik Nya. Apalagi kalo udah addict kayak kamu.”
“Ya tapi kafein secara ilmiah udah terbukti ada efeknya ke otak. Ningkatin konsentrasi, ya wajarlah aku butuh.”
“Nikotin bikin aku tenang, Nya.”
“Itu sugesti kamu, Nyu.”
“Anyaku…,” panggilan yang tak pernah tidak membuat Anya tersenyum, omong-omong. “…kalau memang ningkatin konsentrasi cuma bisa pake kafein, mungkin hampir semua orang di dunia ini ngopi kayak minum air putih. Tapi mereka nggak, dan kamu iya. Itu bukan sugesti namanya?”
“Ya…”
“Udah ya ceramah rokok nggak baiknya. Aku tau kamu peduli sama aku, tapi cuma dua hisap bukan dua bungkus…what would probably happen to my lung, Nya? Mereka kuat kok napas buat aku sampai kita menua berdua jadi ompong sama-sama.”
Cheesy, tapi selalu berhasil menggantikan sesi debat dengan yang tawa lepas yang hangat.
Hal itulah yang tak bisa Anya lakukan, karena hanya Banyu yang bisa. Dan itu membuat Anya rindu.
Anya tidak tahu apakah ia merindukan orangnya, atau momennya.
Atau, justru rindu perasaan merindukannya.

***

Stuck ya? Kamu mikirnya pendek sih. Main solitaire jangan buru-buru. Nya.”
Komentar itu membuat Anya terkesiap. Ia menoleh ke arah belakang, sumber suara itu datang. Suara yang nyaris tak pernah didengarnya lagi sama sekali, dan yang ia kira tak akan pernah didengarnya lagi.
“Kok bengong? Itu loh, coba kamu pindahin jack nya ke atas dulu. Terus kamu pindahin delapan jambunya ke sembilan wajik. Nah, tujuh keriting turunin deh. Habis itu..”
Wait wait,” Anya menarik handphonenya, “Kok jadi nyelak aku gini sih? Aku kan lagi main. Kok jadi nimbrung?” repetnya sok galak.
Yang diomel malah tertawa, “Hahaha.. Nya, aku gemes liatnya. Restart game berkali-kali tapi langkah yang diambil itu-itu lagi. Coba sini aku mau liat game statsnya, pasti kamu banyakan kalahnya daripada menang.”
“Sori yeee,” secara spontan Anya menunjukkan game statsnya, menampilkan Score: 72, Wins: 76, Losses: 52, Rate: 59%, Win streaks: 13., “Ini 56 kali kalah semuanya karna aku nggak konsen. Sama kayak sekarang, lagi ga konsen makanya kalah terus.”
“Hmm iya..iya percaya. Pasti 76 kali menang bukan kamu yang main.”
Anya baru saja akan menjawab, lelaki itu buru-buru mengacungkan 2 jari membentuk tanda peace, “Becanda, Anya. Hahaha.. kayak nggak kenal aku aja.”
We barely know each other, please deh. Anya membatin.
“Ngapain di sini Nya?”
“Ganti tempered glass tab. Tau tuh lama banget mbak-mbaknya. Ampe bosen, yaudah maenan solitaire.”
“Hahaha.. segitu serius main sampe nggak sadar ya aku daritadi ngeliatin?”
Gila ni orang gombalnya. Anya membatin lagi. “Kamu ngapain emangnya?”
“Aku ke sini nyinggah beli pulsa, eh ada kamu lagi khusyuk kan jadi pengen gangguin.”
“Hahaha.. iya makasih ya udah ganggu, aku seneng banget.”
“Hahaha.. so, why solitaire, Nya?”
“Maksudnya?”
“Ada banyak yang bisa dilakukan kalo lagi nunggu sesuatu, tapi baru kali ini aku ngeliat orang nunggu sambil main solitaire.”
“Oh…” Anya menaikkan alisnya. Karna ini kebiasaannya si Banyu. Dan iya sih yang biasanya mainin solitairenya juga dia, hence the win streaks…
Tapi tentu saja itu tak keluar dari mulut Anya, “Adanya ini doang di handphone.”
 “I was expecting a wiser answer tadinya hahahaha, ternyata..”
“Hahaha what wiser answer?”
“Misalnya, karna kamu tau filosofinya gitu.”
“Loh ada filosofinya emang?”
“Loh kamu ga tau?”
Anya menggeleng kuat, penasaran.
“Aku juga nggak tau. Nyebut aja tadi.”
Anya hampir saja melayangkan tinjunya; lelaki di depannya membuat tameng menggunakan kedua lengannya kemudian tertawa.
“Hahaha.. becanda, Nya becanda. Iya itu ada filosofinya. Jadi game solitaire itu dulunya disebut patience. Karena mainnya butuh kesabaran. Sama kayak nunggu, jadi yaa aku pikir gitulah. Nunggu, solitaire, sama-sama butuh sabar. Begitu.”
“Ini kamu becanda?”
Do I look like joking?” Ia tertawa, “Gila ini aku serius aja kamu bilang becanda Nya..”
“Ya abisnya… tapi serius itu gitu filosofinya?”
“Iya, ya ampun ga percaya banget deh. Cek deh di internet kalo nggak percaya.”
“Iya iya aku percaya.”
“Jadi..gimana kedokteran, Nya? Seru?”
Anya otomatis menghela nafas berat, “Haaah…seru kalo kamu rela masa muda kamu diisi dengan ujian tiap dua minggu sekali. Dan otak kamu diisi sama hapalan sebanyak ratusan, eh, ribuan materi kuliah.”
“Tapi nanti kalo udah jadi dokter kan enak Nya.”
“Iya, naaaantiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.” Jawab Anya, membuka tangannya lebar-lebar, menunjukkan bahwa waktu nanti itu masih sangat lama.
“Hahaha, berarti sekolah kedokteran itu kurang lebih main solitaire ya? Butuh sabar.”
“Ya, bisa bisa hahaha. Kamu gimana? Udah puas begadang selama kuliah arsitek?”
“Yaaa…begitulah. Udah nggak tidur bikin project trus pas dipresentasiin eh disuruh ulang. Nggak tidur lagi, nggak tidur terus. Siklus hidup lagi gitu aja.”
“Ckckckck, nasib kamu deh ya.”
“Nggak papa sih. Nya. I like it, tho. Biar ada yang dikerjain di rumah. Lagian yang namanya tugas mah, enak nggak enak harus dilakuin. Dibawa enjoy aja sih jadi ga berasa.”
Anya memberi applause kecil, “Wiih.. hebat ya bapak, speech yang luar biasa.”
Mereka berdua tertawa.
“Eh Nya, itu kayaknya tabletnya udah selesai deh.”
Anya menoleh ke belakang, melihat ke arah mbak-mbak memberi kode bahwa tabletnya sudah selesai dikerjakan.
“Eh iya, bentar ya.”
Anya mengecek tabletnya, mengusap-usap layar tabletnya yang kini terlihat bersih, membayar dan memberi ucapan terima kasih.
“Mau cabut nih. Kamu nggak balik? Mau kerja di sini apa gimana?”
Lelaki tersebut tertawa, “Ya nggaklah, hahaha. Ini mau balik juga. Duluan aja Nya, aku nyari earphone dulu.” Katanya sembari mengorek isi tas punggung berwarna abu-abu hitamnya.
“Oke deh, byee.”
“Byee.”
Anya melambaikan tangan, berjalan menuju pintu luar, membuka pintunya..
“Nya..”
Ia sontak berbalik, “Yaa?”
Long time no see ya? Padahal rumah deket.”
Err…what does that mean?
“Hahaha iya… mungkin itu filosofinya.” Jawab Anya.
“Maksudnya?”
“Nggak kerasa udah tiga bulan dari kita ketemu pas daftar ulang. Rumah deket, satu universitas. Mungkin emang disuruh nunggu buat bisa ketemu lagi.”
“Iya.. filosofinya?”
 “Patience, grasshopper.” Anya tertawa kecil. Good things come to those who wait. Sambungnya dalam hati, mengutip quotes Cassandra Clare dalam buku City of Glass; buku yang akhir-akhir ini dibacanya berkali-kali sampai kumal saking senangnya ia dengan buku ketiga dari serial The Mortal Instrument tersebut.
“Bye, Nya.”
“Bye.”
“Lain kali mainnya jangan buru-buru ya Nya, bebasin dulu AS sama angka yang kecil-kecil. Jangan main pindah-pindahin aja.”
“Iya makasih ya nasihatnya. Berguna banget.” Sahutnya dengan nada menyindir.
“Hahaha….daah.”
“Daah.” Anya menarik nafas, “Kali ini terakhir, daah.” Ia melambaikan tangannya, berbalik, membuka pintu dan tak lagi melihat ke belakang.
Senyumnya mengembang. Sebetulnya ia sungguh ingin.

***

“Nunggu.., solitaire...., sama-sama butuh sabar.” Kata-kata Satrio masih menggaung di kepala Anya beberapa hari setelah pertemuan mereka. Ia tercenung memandangi pisang goreng susu yang dipotong-potongnya untuk sarapan pagi ini, melayangkankan pikirannya pada Banyu. Mengingat cintanya itu.
Menunggu, solitaire – keduanya sama-sama tak mungkin tidak membuatnya teringat akan lelaki yang dicintainya bertahun-tahun itu. Lelaki pecinta solitaire yang ia cintai sampai mau mati, yang dengan seenaknya pergi dari kehidupannya. Tanpa tedeng aling-aling.  Lelaki yang minggu-minggu ini memenuhi segenap sel otaknya, yang tak menyediakan sehela napas pun tanpa membuatnya merindu.
Atau, yang ia pikir begitu.
Pertemuannya dengan Satrio tempo lalu membuatnya berpikir, jika ia perlu ‘menghadirkan Banyu’ dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan kecilnya, bukankah itu berarti sebetulnya Banyu sudah ‘pergi’? Sudah ‘tidak ada lagi’?
Dan cara terbaik untuk mengetahui seseorang telah terusir dalam hati adalah ketika ada orang lain masuk dengan atau tanpa permisi.
Bagi Anya, Satrio adalah orangnya. Si kurang ajar yang sudah ‘kulonuwun’ tanpa ia sadari.
Good things come to those people who wait. Selama ini Anya selalu berpikir, Banyu adalah ‘good things’ yang pantas ia tunggu. Karena itu ia menunggu.
Namun kesabarannya, ternyata membuahkan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang jauh lebih baik.
Koreksi, seseorang.

3 months after

by on 2:00:00 AM
When we are apart from the ones we love, we could use doing little things they used to do just to make us feel like they are close to us. A...