Showing posts with label anyasatrio. Show all posts
Showing posts with label anyasatrio. Show all posts
Serendipity. Akhir-akhir ini Anya sering sekali mendengar istilah itu digaungkan di mana-mana; judul novel, twitter, blog, artikel, tumblr. Many people think that word is somehow romantic. Finding something good without actually looking. An unexpected beautiful meeting.
Seperti sebuah pertemuan yang tidak direncanakan.. How romantic.
Bah.
Menurut Anya, si hopeless romantic yang ujung-ujungnya cuma hopeless ini, the word 'Serendipity' is overrated. Terlalu diagung-agungkan. Alasannya jelas. Karena menurutnya:
Pertama, kita nyaris setiap hari bertemu orang baru di dalam hidup kita, dan berani taruhan, lebih dari 80% tidak ada yang direncanakan. Most of meetings are unexpected. Emangnya kita bangun tidur berencana gitu buat ketemu mamang sate di simpang jalan? Atau dengan sengaja punya plan untuk ketemu sama temen SMP di salah satu booth di mall? Kecuali reunian, ngedate, meeting sesungguhnya alias rapat, all meetings count as 'unexpected'.
Jadi apanya yang romantis sih?
Dua, serendipity is a word that gives a false hope to hopeless people who haven't meet 'the one'. That someday, they will unexpectedly meet the love of their life beautifully. Ini yang menurut dia paling ngga bener. Sama ngga benernya dengan fairy tales ala disney princess bahwa suatu saat that prince charming would actually show up. Well, sejujurnya, dia sendiri adalah korban. All her life, she always wonder on how she's gonna meet that 'person'. Itu juga alasan dulu ia sering sekali mengikuti feeds Instagram '@thewaywemet; because she believes on that 'special meeting'. Tapi sekarang, ia yakin bahwa hanya sebagian kecil orang di dunia ini bakalan mengalami those kind of cute-meets. Sisanya...ya standar. Ketemu dan menikah karna udah waktunya, dikenalin temen, dijodohin lah, atau yang lagi ngetrend..ketemu via dating apps.
Well, she believes she bears no such lucks.
Tiga, ini alasan yang sebenarnya Anya tambah-tambahin. Bahwa ada 'pity' dalam Serendipity. And she just doesnt like the word. 
Intinya, dia merasa, Serendipity itu ngga seindah kedengarannya.

Until she met Satrio.

Pertemuan pertama dan keduanya dengan Satrio adalah sesuatu yang di luar perencanaan. Tidak ada dalam planning hidupnya..saat ini. But they meet anyway. Not once, but twice. And both of them are unexpected as ever. At least for her.

Dan tau, apa hal paling menyebalkan dari itu semua? The fact that now she wants more. It's been happening twice, siapa tau dewi keberuntungan berbaik hati padanya dan memberi mereka pertemuan ketiga, kan?

Anya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hush. Apa-apaan sih.

"Haloo. Ini kepencet apa gimana ya, Nya?" Suara di seberang telepon membuyarkan pikirannya.

Oh no.
No way.
What have I done?? 

Anya mengernyitkan dahinya. Tertegun tak percaya melihat layar tabnya yang menampilkan whatssap call dengan wajah dan nama Satrio terpampang di depan matanya.

Gue abis ngapain???? Paniknya

"Halooooo...aku matiin ya?"

"Eh. Sat. Halo. Sorry-sorry. Tadi kepencet."

"Oh. Udah kuduga. Padahal aku seneng banget akhirnya kamu nelponin aku juga."

"Hahaha... Maunya. Tunggu...ini gimana kok bisa-bisanya ada kontak kamu sih di tab aku?"

"Hahaha oke, aku ngaku..abang-abang counter tempat kamu ganti tempered glass itu Nya.. He's a friend of mine. Trus pas dia pasang-pasang itu aku suruh diem-diem save-in nomer aku ke tab kamu hahaha."

Buset.
Speechless gueh.....Batin Anya

"Nya? Kamu ga marah kan ya? Maaf ya jadinya lancang. I was just trying on my luck. Siapa tau suatu saat kamu liat trus kepikiran untuk ngajak ketemu gitu."

"Ngg..."

"Kok diem Nya?"

"Gimana ya... Aku..speechless aja bisa-bisanya kamu kepikiran buat kayak gitu."

Kalo aja Satrio tau betapa kagetnya Anya waktu ujug-ujug di kontak whatssap tab nya tertera nama "Tri Satrio Arsitek". Dari 6 kontak whatssapnya. Karena kontak whatssap tabnya itu memang khusus hanya berisikan keluarganya saja.

Ketambahan satu orang tentu saja terlihat jelas di matanya.

" I just dont know whether I'll meet you again or not Nya."

"Dan kenapa gitu kita harus ketemu banget?"

"Hahaha gini Nya. Aku ngga lagi memuji atau ngomong manis atau yaa ngegombalin kamu ya. I'm just trying to be honest. Aku suka mengamati orang-orang. Dan dengan mengamati, aku jadi tau mana yang ke depannya aku bakal senangi dan mana yang nggak."

"Lalu?"

"Sebutlah kamu termasuk orang yang menarik buat aku. Menurut aku, menarik itu menyenangkan. Jadi ya, begitu."

Gila ni manusia, dalam hati Anya.
Sadar ga sih ngomong kayak gitu bisa bikin hati cewe normal kebat-kebit ngga karuan? Untung gue ngga baperan, batinnya lagi.

"Oke..... Menurut aku itu creepy, Sat."

"Tri, please."

"Iya whatever. Yaudahlah ya, sori tadi kepencet."

"Loh, ga jadi nongkrong ngopi di manaa gitu?"

"Loh, ada ya aku ngajakin?"

"Nggak ada sih hahaha."

Ketawanya, plis dikontrol, nggak usah ngebass betul... batin Anya.

"Well, kalo dibalik, kalo aku yang ajak, gimana? Tonight?"

Anya mengeluarkan 'hmmm' panjang sebelum akhirnya menjawab, "Okay, tonight."

"Great. Ketemu atau aku jemput?"

"Hmmmmmmmm......jemput? Deket kan ya?"

"Okay."

"Okay."
Hening sesaat, hampir saja Anya mematikan panggilannya.

"Eh.. Alamat lengkap kamu, Nya?"

"Oh...hahaha. Tadinya kukira kamu tau. Siapa tau sekalian kamu minta temen kamu itu buat ngotak-atik tab aku buat nyari alamat akuu gituuu...." Ejek Anya.

"Nya. THAT, would be creepy. Ya aku ngga gitulah hahah."

"Aku whatssap aja ya. Nanti lewat nomer whatssap aku satunya lagi aja. Nomer ini jarang kubuka."

"Oke."

"Oke."

Anya mematikan whatssap callnya. 09 menit 35 detik.

Lama ia terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Ia tertawa, pipinya tanpa sadar merona.
Ia memasukkan tabnya ke tas, mengemaskan barang-barangnya, bersiap keluar kelas untuk pulang.
Ia berjalan di lorong dengan dada berdegup agak terburu hinnga tak sengaja hampir menabrak seorang wanita yang membawa setumpuk berkas di dalam sebuah map.

"Eh. Maaf." Ia menundukkan wajahnya tanda tak enak, tak sengaja melihat map yang bercorak tulisan-tulisan semacam doodles. Ia memicingkan matanya, tersenyum sendiri saat membaca salah satu kata di situ.

Serendipity.

Ah, that overrated word. Still overrated tho. Pikirnya.

Ia kemudian mengetik sesuatu di layar handphonenya,

"Rumahku di jalan Samudra nomer 33 ya. Atap cokelat, lantai teras warna kuning tua. Ada lampu tamannya. I expect to see you by 7 ;)"

Dua centang biru.

"Ay ay captain ('o')7."

Anya berjalan ke parkiran. Senyum dikulum. Hatinya bermonolog.

Empat, batinnya
Serendipity is overrated because, well.. Why expect the unexpected? Kalau memang bisa direncanakan, kenapa sih harus mengharapkan yang tidak direncanakan? Supaya kesannya romantis gitu, tau-tau ketemu karena takdir?

Percakapannya dengan Satrio via whatssap tadi terulang kembali di kepalanya bak film pendek.

...And talking about romantic, well, itu cuma masalah cara. Ngga musti kan ya selalu bergantung rencana semesta?

Senyumnya melebar sembari ia berkendara pulang.

When we are apart from the ones we love, we could use doing little things they used to do just to make us feel like they are close to us. As easy as listening to the same radio station they used to listen every morning while being stuck on the traffic: reading the same book they used to read before sleep, using coin as its bookmark; watching the same series they have been following even when you’re not really into them. We do those things over and over until we really meet them, just because we need to feel their presence in our live.
Itulah yang sedang Anya lakukan seminggu belakangan. Menghadirkan Banyu dalam kesehariannya melalui hal-hal kecil yang biasa dilakukannya. Jika tertarik pada satu lagu, Banyu senang sekali memutar lagu tersebut di handphonenya berulang-ulang sampai muak, untuk kemudian akhirnya menyukai satu lagu lain dan mengulang siklus yang sama. Itu sebab seminggu ini Ellie Goulding – On My Mind jadi satu-satunya lagu yang menggema dari speaker ponsel Anya, dan ia belum muak. Banyu senang sekali memotong makanan kecil-kecil sebelum dimakan, apapun itu bentuk makanannya –kecuali nasi- maka Anya pun memotong kecil-kecil pisang goreng susunya sebelum memakan, walau sebetulnya Anya lebih suka menggigit dan mengunyahnya langsung. Banyu selalu menjentikkan jari sebelum mulai menulis sesuatu, maka Anya pun melakukan hal yang sama hingga akhirnya kebiasaan itu melekat padanya. Atau mengulang kata yang sering Banyu katakan semacam ‘santailaah’, dengan nada tertentu yang Anya hapal betul. Anya melakukan itu semua.
Tapi tentu saja ada beberapa hal yang Banyu biasa lakukan, yang tak bisa ia lakukan. Seperti mengedikkan kepala ke bahu –memberikan tanda buat Anya untuk bersandar di bahunya- tiap kali Anya merasa lelah dan buntu. Atau mencium rokok sebelum membakarnya, menghisapnya dua kali lalu mematikan dan membuangnya. Satu-satunya kebiasaan Banyu yang ditentang Anya. Banyu butuh nikotin sama seperti Anya butuh kafein. 
Bukan bendanya, tapi isinya. Kamu suka kopi walau kamu tau itu nggak baik buat kamu, karna kamu butuh kafeinnya bukan ngopi-nya. Ya apa bedanya sama aku, Nya?
Kalimat Banyu itu mengiang di kepala Anya; kalimat yang membuat Anya selalu kalah suara perkara kebiasaan merokok-dua-hisap itu.
Kadang Anya membalas dengan, “That is so freakin bullshit Nyu. Nikotin nggak baik buat kamu.” Yang dibantah Banyu dengan, “Kafein juga nggak baik Nya. Apalagi kalo udah addict kayak kamu.”
“Ya tapi kafein secara ilmiah udah terbukti ada efeknya ke otak. Ningkatin konsentrasi, ya wajarlah aku butuh.”
“Nikotin bikin aku tenang, Nya.”
“Itu sugesti kamu, Nyu.”
“Anyaku…,” panggilan yang tak pernah tidak membuat Anya tersenyum, omong-omong. “…kalau memang ningkatin konsentrasi cuma bisa pake kafein, mungkin hampir semua orang di dunia ini ngopi kayak minum air putih. Tapi mereka nggak, dan kamu iya. Itu bukan sugesti namanya?”
“Ya…”
“Udah ya ceramah rokok nggak baiknya. Aku tau kamu peduli sama aku, tapi cuma dua hisap bukan dua bungkus…what would probably happen to my lung, Nya? Mereka kuat kok napas buat aku sampai kita menua berdua jadi ompong sama-sama.”
Cheesy, tapi selalu berhasil menggantikan sesi debat dengan yang tawa lepas yang hangat.
Hal itulah yang tak bisa Anya lakukan, karena hanya Banyu yang bisa. Dan itu membuat Anya rindu.
Anya tidak tahu apakah ia merindukan orangnya, atau momennya.
Atau, justru rindu perasaan merindukannya.

***

Stuck ya? Kamu mikirnya pendek sih. Main solitaire jangan buru-buru. Nya.”
Komentar itu membuat Anya terkesiap. Ia menoleh ke arah belakang, sumber suara itu datang. Suara yang nyaris tak pernah didengarnya lagi sama sekali, dan yang ia kira tak akan pernah didengarnya lagi.
“Kok bengong? Itu loh, coba kamu pindahin jack nya ke atas dulu. Terus kamu pindahin delapan jambunya ke sembilan wajik. Nah, tujuh keriting turunin deh. Habis itu..”
Wait wait,” Anya menarik handphonenya, “Kok jadi nyelak aku gini sih? Aku kan lagi main. Kok jadi nimbrung?” repetnya sok galak.
Yang diomel malah tertawa, “Hahaha.. Nya, aku gemes liatnya. Restart game berkali-kali tapi langkah yang diambil itu-itu lagi. Coba sini aku mau liat game statsnya, pasti kamu banyakan kalahnya daripada menang.”
“Sori yeee,” secara spontan Anya menunjukkan game statsnya, menampilkan Score: 72, Wins: 76, Losses: 52, Rate: 59%, Win streaks: 13., “Ini 56 kali kalah semuanya karna aku nggak konsen. Sama kayak sekarang, lagi ga konsen makanya kalah terus.”
“Hmm iya..iya percaya. Pasti 76 kali menang bukan kamu yang main.”
Anya baru saja akan menjawab, lelaki itu buru-buru mengacungkan 2 jari membentuk tanda peace, “Becanda, Anya. Hahaha.. kayak nggak kenal aku aja.”
We barely know each other, please deh. Anya membatin.
“Ngapain di sini Nya?”
“Ganti tempered glass tab. Tau tuh lama banget mbak-mbaknya. Ampe bosen, yaudah maenan solitaire.”
“Hahaha.. segitu serius main sampe nggak sadar ya aku daritadi ngeliatin?”
Gila ni orang gombalnya. Anya membatin lagi. “Kamu ngapain emangnya?”
“Aku ke sini nyinggah beli pulsa, eh ada kamu lagi khusyuk kan jadi pengen gangguin.”
“Hahaha.. iya makasih ya udah ganggu, aku seneng banget.”
“Hahaha.. so, why solitaire, Nya?”
“Maksudnya?”
“Ada banyak yang bisa dilakukan kalo lagi nunggu sesuatu, tapi baru kali ini aku ngeliat orang nunggu sambil main solitaire.”
“Oh…” Anya menaikkan alisnya. Karna ini kebiasaannya si Banyu. Dan iya sih yang biasanya mainin solitairenya juga dia, hence the win streaks…
Tapi tentu saja itu tak keluar dari mulut Anya, “Adanya ini doang di handphone.”
 “I was expecting a wiser answer tadinya hahahaha, ternyata..”
“Hahaha what wiser answer?”
“Misalnya, karna kamu tau filosofinya gitu.”
“Loh ada filosofinya emang?”
“Loh kamu ga tau?”
Anya menggeleng kuat, penasaran.
“Aku juga nggak tau. Nyebut aja tadi.”
Anya hampir saja melayangkan tinjunya; lelaki di depannya membuat tameng menggunakan kedua lengannya kemudian tertawa.
“Hahaha.. becanda, Nya becanda. Iya itu ada filosofinya. Jadi game solitaire itu dulunya disebut patience. Karena mainnya butuh kesabaran. Sama kayak nunggu, jadi yaa aku pikir gitulah. Nunggu, solitaire, sama-sama butuh sabar. Begitu.”
“Ini kamu becanda?”
Do I look like joking?” Ia tertawa, “Gila ini aku serius aja kamu bilang becanda Nya..”
“Ya abisnya… tapi serius itu gitu filosofinya?”
“Iya, ya ampun ga percaya banget deh. Cek deh di internet kalo nggak percaya.”
“Iya iya aku percaya.”
“Jadi..gimana kedokteran, Nya? Seru?”
Anya otomatis menghela nafas berat, “Haaah…seru kalo kamu rela masa muda kamu diisi dengan ujian tiap dua minggu sekali. Dan otak kamu diisi sama hapalan sebanyak ratusan, eh, ribuan materi kuliah.”
“Tapi nanti kalo udah jadi dokter kan enak Nya.”
“Iya, naaaantiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.” Jawab Anya, membuka tangannya lebar-lebar, menunjukkan bahwa waktu nanti itu masih sangat lama.
“Hahaha, berarti sekolah kedokteran itu kurang lebih main solitaire ya? Butuh sabar.”
“Ya, bisa bisa hahaha. Kamu gimana? Udah puas begadang selama kuliah arsitek?”
“Yaaa…begitulah. Udah nggak tidur bikin project trus pas dipresentasiin eh disuruh ulang. Nggak tidur lagi, nggak tidur terus. Siklus hidup lagi gitu aja.”
“Ckckckck, nasib kamu deh ya.”
“Nggak papa sih. Nya. I like it, tho. Biar ada yang dikerjain di rumah. Lagian yang namanya tugas mah, enak nggak enak harus dilakuin. Dibawa enjoy aja sih jadi ga berasa.”
Anya memberi applause kecil, “Wiih.. hebat ya bapak, speech yang luar biasa.”
Mereka berdua tertawa.
“Eh Nya, itu kayaknya tabletnya udah selesai deh.”
Anya menoleh ke belakang, melihat ke arah mbak-mbak memberi kode bahwa tabletnya sudah selesai dikerjakan.
“Eh iya, bentar ya.”
Anya mengecek tabletnya, mengusap-usap layar tabletnya yang kini terlihat bersih, membayar dan memberi ucapan terima kasih.
“Mau cabut nih. Kamu nggak balik? Mau kerja di sini apa gimana?”
Lelaki tersebut tertawa, “Ya nggaklah, hahaha. Ini mau balik juga. Duluan aja Nya, aku nyari earphone dulu.” Katanya sembari mengorek isi tas punggung berwarna abu-abu hitamnya.
“Oke deh, byee.”
“Byee.”
Anya melambaikan tangan, berjalan menuju pintu luar, membuka pintunya..
“Nya..”
Ia sontak berbalik, “Yaa?”
Long time no see ya? Padahal rumah deket.”
Err…what does that mean?
“Hahaha iya… mungkin itu filosofinya.” Jawab Anya.
“Maksudnya?”
“Nggak kerasa udah tiga bulan dari kita ketemu pas daftar ulang. Rumah deket, satu universitas. Mungkin emang disuruh nunggu buat bisa ketemu lagi.”
“Iya.. filosofinya?”
 “Patience, grasshopper.” Anya tertawa kecil. Good things come to those who wait. Sambungnya dalam hati, mengutip quotes Cassandra Clare dalam buku City of Glass; buku yang akhir-akhir ini dibacanya berkali-kali sampai kumal saking senangnya ia dengan buku ketiga dari serial The Mortal Instrument tersebut.
“Bye, Nya.”
“Bye.”
“Lain kali mainnya jangan buru-buru ya Nya, bebasin dulu AS sama angka yang kecil-kecil. Jangan main pindah-pindahin aja.”
“Iya makasih ya nasihatnya. Berguna banget.” Sahutnya dengan nada menyindir.
“Hahaha….daah.”
“Daah.” Anya menarik nafas, “Kali ini terakhir, daah.” Ia melambaikan tangannya, berbalik, membuka pintu dan tak lagi melihat ke belakang.
Senyumnya mengembang. Sebetulnya ia sungguh ingin.

***

“Nunggu.., solitaire...., sama-sama butuh sabar.” Kata-kata Satrio masih menggaung di kepala Anya beberapa hari setelah pertemuan mereka. Ia tercenung memandangi pisang goreng susu yang dipotong-potongnya untuk sarapan pagi ini, melayangkankan pikirannya pada Banyu. Mengingat cintanya itu.
Menunggu, solitaire – keduanya sama-sama tak mungkin tidak membuatnya teringat akan lelaki yang dicintainya bertahun-tahun itu. Lelaki pecinta solitaire yang ia cintai sampai mau mati, yang dengan seenaknya pergi dari kehidupannya. Tanpa tedeng aling-aling.  Lelaki yang minggu-minggu ini memenuhi segenap sel otaknya, yang tak menyediakan sehela napas pun tanpa membuatnya merindu.
Atau, yang ia pikir begitu.
Pertemuannya dengan Satrio tempo lalu membuatnya berpikir, jika ia perlu ‘menghadirkan Banyu’ dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan kecilnya, bukankah itu berarti sebetulnya Banyu sudah ‘pergi’? Sudah ‘tidak ada lagi’?
Dan cara terbaik untuk mengetahui seseorang telah terusir dalam hati adalah ketika ada orang lain masuk dengan atau tanpa permisi.
Bagi Anya, Satrio adalah orangnya. Si kurang ajar yang sudah ‘kulonuwun’ tanpa ia sadari.
Good things come to those people who wait. Selama ini Anya selalu berpikir, Banyu adalah ‘good things’ yang pantas ia tunggu. Karena itu ia menunggu.
Namun kesabarannya, ternyata membuahkan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang jauh lebih baik.
Koreksi, seseorang.

3 months after

by on 2:00:00 AM
When we are apart from the ones we love, we could use doing little things they used to do just to make us feel like they are close to us. A...
"Nya, kok melamun?"
Anya tersentak, menoleh ke arah Tasha yang memergokinya terbengong, entah sudah berapa lama.
"Iya nih, aku lagi mikir."
"Mikir apaan?"
"Tiap liat pasien tua, suami istri, aku mikir, hebat juga ya cinta. Kadang suaminya udah nggak gagah, sakit parah nggak bisa apa-apa, tapi istrinya setia ngerawat dan ngejaga. Atau kalau liat nenek-nenek tua keriput udah nggak cantik lagi, tapi suaminya masih setia duduk nunggu di sebelah."
"Haha, iya.. aku juga kadang terharu liatnya. Itu cinta apa karna udah terbiasa sama-sama ya? Semacam manisfestasi dari komitmen gitu?"
"Nggak tau juga sih, Sha. Tapi yang jelas apapun itu, aku takjub. Bisa juga ya dua orang yang sebetulnya ga punya hubungan apa-apa, dua orang yang dulunya asing, lalu mutusin buat bersama. Sampe tua, sampe sakit, senang susah, sama-sama. For better for worse.
Tasha tersenyum.
Anya melanjutkan, "Aku jadi kepikiran aja kadang, apa nanti ada yang bisa kayak gitu sama aku? Hahaha."
"Duh, kamu tuh ya Nya. Apa-apa selalu dibawa perasaan pribadi hahahaha."
Anya tertawa, pipinya menyemburat dadu.
"Abisnya gimana ya Sha.. kadang aku mikir, aku ini banyak kurangnya. Pinter nggak juga, tinggi nggak juga, cantik nggak juga. Serba pas-pasan hahaha."
"Hahaha...mulai deh pesimis. Duh Nya, kamu tuh lucu ya. Biasanya optimis banget tapi kalo lagi kambuh pesimisnya kayak idup kamu tuh susah banget hahaha." Tasha menggeleng-gelengkan kepala melihat Anya.
Anya memutar-mutar ujung stetoskopnya, pandangannya masih mengarah ke pasien tadi, "Soalnya Tasha, manusia itu pasti ada kurangnya. Aku banyak kurangnya."
Tasha tergelak, "Hahaha...Nya, inget ga, kamu pernah bilang sama aku, 'Sha, suatu saat nanti, bakalan ada orang yang menerima kita apa adanya. Dan kita terima dia apa adanya. Seseorang yang bikin kita ngerasa, waktu sama dia, kita punya kepercayaan diri. Yang bikin kita lupa kalau kita penuh kekurangan, karna apa adanya kita cukup untuk dia. Dan dia cukup untuk kita.' ...ya kan? Aku ngerasa omongan kamu bener, makanya aku inget banget. Kenapa tiba-tiba kamu jadi pesimis gini hahaha."
"Iya sih ya..." Anya memutar bola matanya, "Mungkin ini lagi masa-masanya aku jadi mikir, apa bakal beneran ada seseorang yang kayak gitu, hahaha."
"Mungkin.. emangnya nggak ada?" Tasha menjawil pipi Anya.
"Ngg.. nggak tau sih, emangnya ada?" Ia mengangkat alisnya.
Tasha tertawa, "Hahaha, yaudah deh nggak usah dipikirin. Ntar juga ada. Ayo dong, biasanya kamu yang optimis." Tasha beranjak dari duduknya, menepuk pundak Anya lantas berjalan ke arah pasien di bed seberang dari mereka duduk.

Anya menggigit bibir. Sebetulnya saat Tasha berkata tentang 'seseorang' itu, satu sosok manusia melintas di kepalanya.
Hanya beberapa detik saja.
Ia tertawa sejenak, membayangkan tawa Satrio setiap mereka bersama. Seolah-olah setiap yang ia lakukan, berharga. Seolah-olah ia tak memiliki cela. Seolah-olah kurang padanya, tak lagi ada.
Lelaki itu membuatnya merasa cukup.
Dan baginya, itu cukup.


“Pulpennya kenapa macet sih.” Anya bersungut-sungut sembari menggoyangkan pulpennya, “Tetep aja macet. Heran deh, bawa pulpen banyak banget nggak ada yang bener.” Ia mengomel sendiri.
“Kamu nulisnya di dinding, harusnya alasnya meja. Posisi pulpen kamu itu bikin tintanya susah keluar.”
Anya menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berjongkok di sebelahnya, menyandar ke dinding tempatnya menulis. Anya menoleh sekeliling, mengambil kardus bekas air minum yang disediakan panitia, merobeknya dan kemudian duduk di atasnya. Ia kemudian mengobrak-abrik isi tasnya, mencari sesuatu yang dapat dipakai sebagai alas.
“Nulis di lantai aja deh.” Gumamnya sendiri, menyadari tak ada satupun barang datar di tasnya, “Eh iya, nggak macet nih. Horee.” Soraknya.
 “Fisika dasar, hehe. Nulis itu harus vertikal, jangan horizontal. Kecuali kalau kamu pake pensil.”
Anya melirik formulir yang sedang diisi oleh lelaki di sebelahnya itu.
Fakultas     : Teknik
Jurusan      : Arsitektur.
Oh, pantes.
“Wih, calon dokter.” Ternyata lelaki itu juga melirik formulir miliknya.
“Haha, iya. Nyasar nih.”
“Kok gitu?”
“Mustinya aku masuk Fakultas Keguruan, jadi guru. Cita-cita dari dulu itu. Tapi yaudah sih udah terlanjur masuk di Kedokteran.”
“Masih belom telat kok buat ngerubah jurusan. Mulai aja belom, baru daftar ulang. Belom bayar kan?”
“Iya sih… tapi yaudah deh, males tes lagi. Capek.”
“Yaa jangan aja setahun dua tahun lagi kamu malah ngeluh capek gara-gara kuliah kedokteran lama nggak lulus-lulus.”
“Bener juga…. Tapi yaudahlah, udah terlanjur. Ini duit pendaftaran udah di tangan, masa iya dibalikin lagi.” Anya memutar bola matanya, “..apa aku bawa kabur aja ya…ke luar kota, ga balik-balik. Lumayan nih duitnya..”
Lelaki tadi tergelak, “Bisa aja..”
“Ciyee arsitek. Nanti kalo aku mau bikin rumah bisa dong minta buatin kamu?”
“Bisa..tapi harga temen justru dua kali lipat ya..”
“Lah emang kita temen?”
“Oh iya, lupa.”
“Aku suka liat arsitek, kemana-mana bawa-bawa tabung. Kayaknya keren.”
“Kamu juga keren nanti kemana-mana bawa stetoskop.”
“Ya nggak kemana-mana juga kali. Masa iya jalan ke Mall bawa stetoskop, dikira sinting nanti.”
“Ya sama. Aku nggak kemana-mana bawa tabung juga kali, sinting apa. Hahahah.”
“Ergh iya. Kok omongan kamu bener semua gitu sih.”
“Nggak semuanya, tadi itu yang temen, aku salah. Kita kan nggak temenan.”
“Oh iya, yaudah kita temenan ya. Susah ya jaman sekarang apa-apa musti dikasih label.”
“Haha, biar jelas aja. Tadi kamu sendiri kan yang bilang kita bukan temenan.”
“Ya maksudnya kan..kita baru aja ketemu. Bukan udah lama kenal. Ibaratnya nih, kalo main sims, status relationshipnya masih ‘acquintances’ belom ‘friends’. Kalo ketemu cuma senyum, kalo udah friends kan dadah-dadah.”
Ia tertawa lagi, “Hahaha, tuh itu kamu barusan ngasih label.”
“Iya sih. Duh. Kemakan omongan sendiri. Susah ya ngomong sama kamu.”
“Nggak susah, buktinya daritadi kamu ngomong terus.”
Anya memandanginya dongkol.
“Persepktif, hehe.” Lelaki tersebut mengacungkan dua jarinya, membentuk simbol peace.
“Gila ini rame banget antriannya, masih urutan 160, aku urutan 198. Nyesel deh datengnya lama.”
“Ya nggak papalah. Dibawa ngobrol juga nggak berasa.”
“Kamu urutan berapa?”
“162. Bentar lagi nih.”
“Enak ih. Harusnya ya..daftar ulang pake online aja. Kenapalah musti dateng antri begini, nyusahin aja. Sekarang jaman kan udah canggih.”
“Iya, trus websitenya down gara-gara banyak yang buka, trus ada yang telat daftar trus ga jadi masuk trus ngomel-ngomel. Salah lagi..”
“Bener juga sih..”
“Manusia itu emang susah puas sih ya.”
“Itu nyindir?” Anya mendelik sok sebal.
“Cuma ngomong, perspektif, duh.”
“Hahaha, iya-iya. Kamu asal sini?”
“Iya. Kamu?”
“Sama..”
“Tinggal di mana?”
“Di Jalan Penjara, tengah kota.”
“Kok kita nggak pernah ketemu? Aku juga daerah situ. Ahmad Dahlan.”
“Lah ini ketemu.”
“Eh iya sih, maksudnya di situ…”
“Hahaha, persepktif.” Anya terkekeh membalas.
Ia terbahak, “Jago ngebalikin omongan orang ya kamu.”
“Biarin, emangnya cuma kamu aja yang bisa hahaha.”
Mereka tertawa berbarengan.
“Eh udah nomer 161 nih, aku ke sana ya?” Lelaki tersebut berdiri, mengemaskan barang-barangnya dan mengeluarkan berkas-berkas yang diperlukan dari dalam tasnya.
“Oke.”
“Bye, Anya.”
“Kok kamu tau nama aku?”
“Lah itu..” Ia menunjuk formulir yang dipegang Anya.
“Oh iya.” Anya menepuk dahinya.
“Yaudah, bye..”
“Eh, nama kamu siapa hoy? Aku nggak ngintip formulir kamu tadi.” Teriak Anya sebelum lelaki tersebut jauh dari pandangannya.
“Satrio.”
“Oke, bye Sat.”
“Jangan dipanggil Sat, kayak ‘bangsat’. Panggil Tri aja.”
Anya beranjak dari duduk, menepuk-nepuk celana jeansnya dan merapikan blousenya. “Oke, bye Tri.”
“Eh itu kardus yang kamu pake buat duduk, padahal bisa jadi alas buat nulis tadi.” Satrio menunjuk kardus yang sedari tadi diduduki Anya.
“Oh iya. Ya ampun, nggak sadar.”
“Kadang emang pas udah nggak nyari, kita justru menemukan. Ya kan, Nya?” Satrio tersenyum.
“Ng…Iya.”
“Bye, Anya..”
“Bye, Tri..”

Keduanya tersenyum, saling melambaikan tangan.



You feel at best when you’re home, they said. Let me scratch that specific phrase, a home. Not a house. Because a house, your house, is not always your home. House is a building while home is a soul.
Bukan kataku, itu kata Anya. Perempuan yang membuatku duduk menunggu di atas motor saat ini, menantinya selesai mengajar. Aku melihat ke arah jam tangan, ia seharusnya sudah selesai sekarang namun tak ada tanda-tanda kelasnya akan berakhir. Ia pasti keasyikan di dalam. Tak masalah, aku lebih senang menunggu di sini, memerhatikan anak-anak yang bermain setelah kelas usai, atau para orangtua yang menunggui anaknya dengan sabar dibandingkan harus mendekam di rumah.

Walaupun aku anak rumahan, lagi-lagi menurut Anya. Anak rumahan yang tak suka di rumah, kalau boleh kutambahkan.

“Kenapa sih emangnya? Kenapa nggak suka di rumah?”
Aku mengingat pertanyaan wanita bertubuh mungil itu. I didn’t have a precise answer at that moment she asked the question. But now I do.
I don’t feel like home at my very house. I dislike it, going through the front door to a wide empty living room, with a 42-inch-size flat TV. Lengkap dengan TV kabel dan DVD set sehingga aku bisa menonton siaran apapun yang kumau. To cold kitchen and vacant dining, tanpa nasi panas yang mengepul dari dalam dandang. I always have meals outside. Oh, wait, bukan cuma aku, my whole family does.
Sorry nih sebelumnya, but I really want to ask. Kamu dari keluarga broken home?”
Masih dapat kubayangkan wajah takut-takut-penasaran Anya ketika menanyakan pertanyaan itu untuk pertama kalinya setelah aku bercerita tentang ketidak-sukaanku akan rumah.
No, I am not. My parents have a wonderful marriage. They rarely fight about anything, you know.”
I thought it’s a good thing, no?”
Yes, and they thought so. But how should they fight, they don’t even talk to each other.”
Ekspresi wajah Anya berubah drastis. For a big girl, she’s quite expressive. Lucu.
Never?”
Ever. They’ve stopped talking since long time ago. My Dad is busy being busy. My Mom became so lonely that she’s busy trying to look busy.” Aku memberi penekanan pada kata ‘trying’, “So busy that they forgot I’m not that busy.” Aku tertawa di akhir kalimat. Ironical laughter.
Why did that happen? Kalo boleh tahu loh.”
“Hmm…. My Mom married my Dad because he looks good on paper. He fits her criteria. Dua puluh tujuh tahun, lulusan universitas bagus, pengusaha muda, dari keluarga baik-baik. Dan bokap nggak jelek juga kan, haha. And my Dad married her because she meets his requirements as a wife. Perempuan baik-baik, pinter, bisa masak, cantik. Kurang apa?”
Dia tak menjawab, masih menyimak.
“Mereka emang nggak ada kekurangan, kecuali kurang cocok. Ya..gitu.” Aku mengakhiri sesi curhat, merasakan aura simpati Anya menguar-nguar dari matanya. God, she’s bad at hiding feelings.
"I feel sorry. Dan maaf aku tanya kayak gitu, sekarang jadi nyesel. Maaf ya?”
“Oh, tenang aja. Nggak papa. I’ve got used to it. You don’t have to feel sorry.”
“Eh, aku keliatan jadi kayak ngasihanin kamu ya? Duh, maaf, aku nggak bermaksud.”
“Hahaha, nggak. Really, it’s okay. I pity myself sometimes, jadi mau dikasihanin juga nggak papa, ya karena emang kasihan…. ya kecuali kamu udah nggak punya belas kasih haha..”
Dia tertawa, namun binar mata itu tidak hilang. Binar mata khawatir.

Here’s the funny thing, I don’t tell people about my family. Telling my background stories is not my thing.
 

But this one is different. She, is different. I want her to know. I want her to understand. I want her to get why I do what I did, why I decide what I decided.
Kalo aku cerita ini ke cewek-cewek lain, mereka mungkin udah kasi gesture buat pelukan ala teletubbies, atau paling nggak nepuk-nepuk lenganku, berusaha bikin beban aku hilang. But she’s not doing any of those. She just listens and concludes. And that’s enough.
That’s what I need.

Sejak saat itu, rasanya lebih mudah bercerita tentang segala hal kepadanya. Tentang kesukaanku, sudut pandangku, tentang remeh-temeh harian, tentang kebiasaanku. Afterall, she has seen me deeper than anybody else, I don’t mind talking those things to her. I trust her. A lot.
And apparently, she trusts me too.
Dih, geer ya? Haha.

Tapi memang benar, terbukti dari percakapan kala itu, yang dimulai dengan pertanyaannya “Kenapa arsitek?”
Aku menjawab, “Oh, aku perlu masuk ke jurusan yang bikin sibuk. It is my family’s little tradition, being busy.”
It was half a joke, but she didn’t laugh. She just smiled.
“Kamu kenapa masuk kedokteran? Bukannya kamu pernah bilang kamu dulu pengen banget jadi guru?” Tanyaku, penasaran juga.
“Hehe karena…guru nggak bisa jadi dokter, tapi dokter bisa jadi guru.”
“Bener juga sih.”
She paused. Setelah beberapa lama diam –yang kuyakin ia berpikir keras apakah harus bercerita atau tidak– ia lantas melanjutkan, “Being a doctor is not an option for me. It never was. But my parent wants a child who is a doctor. Dan ya…kamu tahulah dua abang dan satu adik perempuanku kayak gimana. Ngarepin mereka jadi dokter ya sama aja ngarepin salju turun di sini.”
Oh ya, aku tahu soal dua abang dan satu adik perempuannya itu. Satu abangnya menikah muda dan lebih suka berwirausaha, satu abangnya lagi senang di alam bebas, lebih suka jalan-jalan keliling Indonesia dan jadi blogger wisata. Sementara adik perempuannya....gimana yah menjelaskannya? Si rapuh yang sering sakit-sakitan, pokoknya begitu kata Anya. She has told me all those things waay before this conversation happened.
Jadi kesimpulannya, dia juga percaya sama aku. We’re in the same boat.

Begitulah seterusnya, selama bertahun-tahun. Sudah berapa lama ya? Lima..enam…tujuh? Iya, tujuh tahun dari pertama kali kami dekat. Pertama kali kami berbicara satu sama lain. Pertama kalinya aku tahu bahwa ada ratusan hal yang bergelimpang di kepalanya. Pertama kalinya aku tahu ia memiliki banyak sudut pandang yang tidak dimiliki perempuan-perempuan lain yang pernah kukenal. Pertama kalinya aku merasa, ternyata ada toh perempuan yang bisa diajak duduk berjam-jam tanpa habis bahan omongan. Meskipun dia jauh dari kriteria wanita idamanku. Jauh.

Tapi apalah artinya kriteria yang seabrek-abrek itu kalau tak bisa diajak bercakap? I don’t want my children going back to an empty house like I do.
I want my future house to be a home.

“Udah nunggu lama, eh?” sapaan Anya membuyarkan pikiranku. Kulihat jam tangan –ternyata sepuluh menit tadi kuhabisi dengan melamun. Aku melepas earpieceku –fyi, ini senjata paling ampuh untuk menghindar dari percakapan basa-basi yang tak perlu. Aku meresponnya dengan menaikkan alisku yang berarti ‘Iya, udah lama sampe aku mati bosen’ –I don’t need words, she’ll understand. Kutatap wajahnya yang dihiasi bulir-bulir peluh namun tampak bahagia, terlihat dari senyumnya yang tak putus-putus. Senyumnya yang hangat, bak perapian di rumahku yang kadangkala kunyalakan hanya agar rumahku seperti ada kehidupan.

Dan binar matanya mengingatkanku akan lampu gantung di ruang tengah rumah. Ruang kosong yang harusnya penuh. Ruang sepi yang mestinya ramai.

Suddenly, I feel like I'm home.
Suddenly, I want to take her home.

di sepuluh menit

by on 3:26:00 PM
You feel at best when you’re home, they said. Let me scratch that specific phrase, a home. Not a house. Because a house, your house, is...




"Udah nunggu lama, eh?” aku menyapanya dari belakang. Ia sontak menoleh, melepas earphone di telinganya yang kutahu hanya asesori agar ia punya alasan untuk tak berbicara dengan orang lain. He doesn’t bother talking to stranger, so he always uses his earphone eventhough there are no songs playing on his phone.
Sigh, I know him too well.
Ia menaikkan alis –bukannya mengangguk– yang berarti ‘Iya, udah lama sampe aku mati bosen.’ But none of those words came from his mouth. He hardly complain. Hell, he never does.
“Maaf ya, tadi muridku ada yang telat dijemput, trus mereka ngajak ngegames. Trus heboh pada nggak mau pulang.” Aku menjelaskan alasan keterlambatanku, bukan untuk dia mengerti, tapi hanya agar dia tahu.
“Ga papa, I like being here anyway. Jadi, ke mana kita sekarang?” Jawabnya santai.
“Aku lapar.”
“Oke, yuk makan. Hmm, sate kambing?”
“Sate kambing.” Aku mengangguk setuju.
Cukup sepuluh menit di perjalanan dan kami pun sampai di kedai sate favorit kami. Iya, kami. Meskipun ia ‘semi-vegetarian’ –begitu kataku, karena ia tak terlalu suka makan daging– , tapi sate di sini memang enak, dan kurasa ia pun menyukainya.
“Sate kambing setengah porsi, sate ayam seporsi, bumbu kacang.” Aku memesan sementara ia mencari tempat duduk. Otomatis begitu, setiap kali kami makan berdua. Ia sudah hapal pesananku, namun ia selalu bingung saat harus memesan makanan. Lagipula berbicara dengan orang lain adalah satu dari beberapa hal yang dihindarinya. Si canggung, julukku. Sedangkan aku sulit menentukan tempat duduk; kadang aku ingin di pinggir, kadang aku senang di tengah. Sehingga seringnya aku bingung sendiri. Si tidak berpendirian, juluknya.
“Aku udah lama nggak makan sate. Kangen.” Kataku sembari menarik kursi tempatku duduk.
“Bukannya minggu lalu kita baru dari sini?”
“Seminggu itu masuk kategori lama.” Jelasku, membuatnya terbahak. Tawa dengan geligi rapat dan beberapa dehem di antaranya. Tawa yang tak pernah bosan kulihat.
“Aku nggak terlalu suka daging, jadi..”
I know.” Potongku, “Dan ga suka kambing. Padahal sate kambing di sini itu sate yang paling enak sejagat raya.” Kataku, hiperbolis.
Kambing is an overpriced meat. Dan baunya nggak enak.”
Oh, here we go again with this kambing baunya nggak enak, Come on, Tri. Setelah jadi sate, baunya jadi enak”
It still smells the same.”
Aku menyerah. Kami telah berdebat mengenai ini ribuan kali. Aku jadi teringat pertama kali ia kuajak ke tempat ini, dahinya berkerut dan ia menyeletuk, “Ini tempat penyiksaan hewan.” Saat kutanya kenapa, ia menjawab, “Coba bayangkan, karena tempat ini, ada berapa ekor ayam, kambing, sapi, dibunuh setiap hari? Kasian.”
Aku ingat tertawa mengejek setelah mendengar jawaban itu, yang kutimpali dengan, “Oh, tapi aku nggak pernah liat kamu kasian waktu makan ayam goreng KFC.” Dan dia hanya mengeluarkan tampang ‘hehe, ya abisnya KFC enak..’-nya yang benar-benar manis. Sudah tujuh tahun dan masih terekam jelas di kepalaku adegan satu itu.
Pesanan kami datang dan sekejap saja argumen tadi terlupakan. Aku menatap dengan bahagia setengah porsi sate kambing di hadapanku. Satrio dengan kalem menaburi sate ayamnya dengan bawang goreng dan jeruk nipis. Oh ya, lelaki di depanku ini bernama Satrio. Ia ogah dipanggil ‘Sat’ karena itu seperti panggilan untuk ‘bangsat’, dan ia tak mau dipanggil ‘Yo’ karena dia bilang tidak ada huruf ‘y’ di namanya. Itulah kenapa aku memanggilnya ‘Tri’. Manusia satu ini memang sungguh aneh. Mempermasalahkan hal-hal yang menurut sebagian besar orang tak lazim dipermasalahkan. Tapi tak apa, aku sudah terbiasa.
“Gimana tadi ngajarnya?” Ia bertanya di sela denting-denting garpu yang beradu dengan piring-piring kami.
It was fun. It is always, fun.” Koreksiku, “Oh, tadi ada kejadian seru. Ada satu anak yang bawa sumpelan kapas dari rumah. Banyaak banget. Trus dibagi-bagiin ke seluruh anak di kelas. Waktu ditanya buat apa, dia bilang, ‘supaya kita tau rasanya jadi Denis, Miss. Jadi mereka nggak ketawa kalau Denis salah denger omongan Miss.’ Lalu dia bikin semua orang pake sumpelan kapas, dan jadilah seharian tadi aku ngajarnya teriak-teriak.”
Satrio tertawa lepas. Kali ini cukup lama sebelum ia berkomentar, “Itu Dea ya? Hahaha, masuk akal sih kalau dia gitu.”
“Whoa, kamu inget namanya?”
“Inget lah. Kan kamu pernah cerita, aku ingat karna dia Koleris banget anaknya. Hahaha.” Ia tertawa lagi.
Aku merasa kenyang cukup dengan menontonnya tertawa. Sungguh.
“Kamu selalu melabeli orang deh. Koleris lah, Melankolis lah, Phlegmatis lah.”
“Ya setiap orang punya sifat-sifat itu, dan sebagian orang punya salah satu sifat yang terlalu dominan, begitu ngeliatnya aja langsung tau.”
“Iya.. kayak kata kamu, aku sangat Sanguinis.”
“Memang.”
“Tapi aku ga suka dilabelin. Dan label dari kamu buat aku tuh terlalu banyak. Si Sanguinis, Si Tidak-Berpendirian, Si Sinis-Optimis, uhm.. apalagi ya.. oh iya, A Coffee-Cup-Possesive, cuma karna aku marah tiap ada yang pake gelas kopi aku. Dan.. ah, kamu bahkan pernah ngejulukin aku The-Miss-Yes dan Sang Ibu-Peri-Sejuta-Umat cuma gara-gara aku ga bisa nolak tiap ada yang minta tolong.” Protesku.
“Tapi emang benar kan?”
“Iya sih. Aku kan nggak enakan orangnya.”
Okay Miss-Not-So-Good-at-Arguing.” Ledeknya.
Well, here comes the new label.” Aku menghela napas.
Don’t you like it? Padahal aku mau nambah lagi satu label.” Ia tertawa geli. Wajah siap meledeknya sudah terbaca jelas.
“Apa?”
“Mrs. Satrio.”

Wait…..what?

Aku terhenyak, meletakkan setusuk sate kambing yang tadinya siap kutelan. Tenggelam dalam perasaan kaget dan senang. Kepalaku berusaha memproses dua kata yang barusan diucapkannya.
“Tunggu, kamu bilang apa tadi?”
“Oh, kurang jelas ya? Mrs. Satrio. Nyonya Satrio.”
I know what that means.”
If ‘I know what that means’ means you’re accepting my proposal and agree to be a wife of mine, than we share the same definition, Miss.
Aku masih terperangah. Laki-laki ini…..
Aku buru-buru menepis angan-angan tinggi dan menekan dalam-dalam kebahagiaan serta rasa terkejut yang belum hilang, aku berusaha logis dan mempertahankan kewarasanku, “So, you are proposing me. Just because you want to add a new label. For me. Huh?”
Yes I am proposing. And yes I want to add ‘that’ new label for you. But it is certainly not a 'just because’… aku udah mikir panjang-panjang sebelum akhirnya memutuskan akan menyemati kamu dengan label itu.”
“Mikir panjang-panjang? Kapan? Di sepuluh menit perjalanan dari sekolah ke sini?” Kataku, masih tak jelas.
“Duh, Anya. You think? Mikir panjang-panjang, sepanjang tujuh tahun kita sama-sama. Sebagai teman. Sebagai teman yang lebih dari teman –atau entah apalah menurut kamu yang kita jalani selama ini. Dan aku gak menemukan orang lain lagi yang pas buat aku selain kamu, serta yang pas buat kamu selain aku.”
“Wow, pede banget kamu.” Tanpa sadar, pipiku terasa panas, yang kuyakin akan memerah meski tak kububuh blush-on tadi sebelum mengajar.
“Bukannya pede. Tapi itu kenyataannya kan? Ya, siapa lagi sih yang siap sedia dengerin kamu ngomong berjam-jam tentang hal yang seringnya sama, tapi nggak ngeluh sedikitpun? Dan siapa lagi yang paham kalau aku bukannya sombong atau cuek, aku cuma ga senang ngomong sama orang yang menurutku pointless and ain’t worth my time. Kamu pasti tau kan tadi aku nggak muter lagu apa-apa eventhough I put my earphone on? Cuma kamu yang tau. And we still stick with each other.”
 Aku tergamam, tak dapat membantah sedikitpun kata-katanya. Seluruh ucapannya benar. Setiap kalimat, setiap kata. Aku bahkan tak bisa mengelak dari kata-kata ‘and we still stick with each other’ cause yes, after all, after these seven years, I never really leave his side. So does he.
“Jadi gimana? Is it a deal?” Katanya, memecah kesunyian yang kubangun dengan lamunan-lamunanku. Ia masih makan dengan rileks tanpa beban sementara aku masih shock hingga sate kambing favoritku tak tersentuh sedikitpun.
“Tapi….” Aku menggumam ragu.
“Tapi kenapa?” He’s looking me right at my eyes.
Napasku tertahan.
You don’t know who I am. I’m not a good person.”
I know you enough that I’ve decided you are the best for me. Dan ga ada bad person yang tahan ngajar kelas anak-anak berkebutuhan khusus.”
“Ha, and I’m not good at cooking. You said you want a wife who cooks well.”
I like your nasi goreng. You’re good at making coffee. And I know you will learn eventually, no worries.

Okay, he’s right.

And uhm, I’m needy and clingy, I thought you are aware of that.”
“You’re not. You just love to have a company.
And I am an insecure bitch, jangan lupa.”
It’s a woman’s basic need, to feel secured.” Jawabnya tenang.
Aku berdecak mendengar respon yang ia berikan, “I love how logical you are.” Tukasku, antara kesal dan kagum.
“Haha, coba buang ‘how’, ‘logical’ dan ‘are’nya. It would sound better.”
Err.. I… love you?” Jawabku, refleks.
I know. So it’s a ‘yes’ then. Congratulation us!”
Dia tersenyum puas.

setelah tujuh tahun

by on 11:27:00 AM
"Udah nunggu lama, eh?” aku menyapanya dari belakang. Ia sontak menoleh, melepas earphone  di telinganya yang kutahu hanya ase...