Showing posts with label tiga surat. Show all posts
Showing posts with label tiga surat. Show all posts

Pontianak, 4 Februari 2013

Yang kusayangi, anak perempuanku


Sama seperti saudara lelakimu, melahirkan dirimu juga adalah hal yang paling indah yang pernah ibumu rasakan, Anakku. Begitu tangisanmu memecah dunia, ibu merasa sungguh lega. Putriku ini sungguh molek sekali parasnya. Kau mewarisi garis wajah ayahmu yang lembut, Nak. Hanya saja kau jelita sedang ayahmu itu sungguh tampan.


Ketika kau bayi, Anakku, ibu adalah orang yang tak puas-puasnya menggendongmu. Menyanyikanmu lagu, menyenandungkan shalawat, memperdengarkan murotal. Kau tak kalah berharganya dengan saudara lelakimu itu, sama sekali tidak. Cinta ibu tidak terbagi, justru bereplikasi. Bertambah. Mengganda. Ayahmu juga tampak sungguh senang akan kehadiranmu, ialah yang selalu sabar menimangmu kala engkau menangis. Aku tak pernah melihat wajah Ayahmu se-berbinar itu, Anakku. Kebahagiaan kami sungguh nyata.

Saat kau balita adalah saat-saat kau paling lekat dengan ayahmu. Sedikit-sedikit kau minta gendong, menggelendot, atau berlari menangis menenggelamkan diri saat saudara lelakimu mengganggumu. Kami hanya bisa tertawa melihatnya, lalu mengajak kalian berdua berbaikan dan bermain bersama-sama dengan rukun. Lalu saat malam hari kita sekeluarga berjalan-jalan, minum es shanghai atau makan setangkup roti bakar. Kamu adalah gadis kecil yang kuat berkhayal dan tak letih-letih menceritakan khayalanmu. Kami pun tak bosan mendengarkannya sambil sesekali bertepuk tangan atas hebatnya imajinasimu, Nak.

Memasuki sekolah, kau akan bersekolah di tempat yang sama dengan saudara lelakimu, dan ia akan jadi orang yang protektif, sedikit-sedikit mengawasimu. Takut saudara perempuannya kenapa-kenapa. Kadang kau ikut-ikutan nakal membeli jajanan sembarangan, tapi kadang justru kau yang mengomel dan berkata, "Jangan jajan lagi, nanti ibu marah.."
Dan hal itu malah membuat kalian bertengkar, walau di malam hari sebelum kalian belajar bersama, kalian akan saling menautkan jari dan meminta maaf. Sesekali kau ingin mengikuti ayahmu dan saudara lelakimu shalat di mesjid, namun akhirnya kamu lebih memilih shalat berjama'ah denganku, karena kamu tidak mau aku sendirian menjaga rumah. Lalu setelahnya kita bisa membaca Al-Qur'an dan kau mengulang-ulang hapalanmu dengan antusias.

Masa remaja adalah masa yang paling sulit, tidak hanya buatmu tapi juga untukku. Masa itu kau agak lebih sering menentangku, mengira aku tidak mengerti persoalan-persoalan yang sedang kau hadapi. Tapi aku mengerti, Nak, karena aku dulu juga sepertimu. Lalu ketika masalahmu terasa memberat barulah kau menangis meminta solusi padaku. Aku akan berusaha menjadi ibu terbaik yang mendengarkan dan memberi saran, bukan hanya melarang-larang. Diam-diam kita akan sering menghabiskan waktu hanya berdua, sekedar untuk berbagi cerita seputar apa saja.

Kau mulai tertarik dengan pria, tentu saja. Dan aku yakin ayahmu akan mencegahmu mati-matian dari lelaki yang salah. Kau akan merasa orangtuamu jadi lebih pengekang dari biasanya, tapi ketahuilah Nak, semua itu murni karena kami tak ingin engkau mengenal luka karena cinta. Meskipun begitu, kami tahu kau pada akhirnya akan bertemu dengan lelaki yang baik, yang seperti ayahmu. Yang menjagamu dan menghargaimu. Dan membuat kami rela melepasmu.

Semakin kau besar, semakin kau mandiri. Kau akan jadi wanita yang hebat yang tau benar apa yang kau inginkan dan cita-citakan. Tentu aku dan ayahmu akan mengingatkan agar dirimu tak terlalu ambisius. Kau akan sibuk berorganisasi, menambah ilmu dari mana saja, berteman dengan banyak orang, dan menjadi partner yang baik dengan saudara laki-lakimu itu. Ibu hanya akan menjadi seorang ibu yang tak lepas membuatkanmu susu hangat juga sepiring sarapan setiap pagi. Menatapmu sambil mengingat bagaimana ibu dulu.

Ah, berkaca-kaca mata ibu menuliskan ini semua. Sungguh banyak anakku, banyak yang tak tersampaikan hanya lewat pena. Namun di atas segalanya, ayah dan ibu adalah sepasang orang tua yang beruntung. Karena kau adalah putri kami yang sangat berharga. Selamanya.
Pontianak, 3 Februari 2013


Teruntuk anak lelakiku,


Nak, sebelum aku mengawali surat ini, aku ingin memberitahu bahwa engkau adalah anak lelakiku yang tampan. Melahirkanmu adalah salah satu kebahagiaan terbesarku dalam hidup. Mendengarkan tangisanmu pertama kali, membuat jerih payahku sebelumnya sirna. Kamu adalah hal yang membuat aku dan ayahmu lengkap. Kau membawa senyum baru dalam keluarga kecil kita.


Ketika kau masih bayi, aku akan jadi orang yang paling intens memperhatikan satu demi satu pertumbuhan dan perkembanganmu. Aku mungkin akan rajin mencatat kapan pertama kali kau tiarap, duduk, berdiri, berjalan. Akulah yang akan membuatkanmu lagu-lagu pengantar tidur, seperti yang dulu dilakukan nenekmu pada ibumu ini. Aku orang yang ketat akan asupan makanan yang kamu dapatkan, sampai-sampai ayahmu mungkin akan gemas melihat ibumu ini begitu cerewet dalam mengasuhmu.


Ketika kau sudah memasuki usia balita, aku akan jadi ibu paling bahagia yang melihatmu mulai berceloteh sana-sini dan senang berlari kesana kemari. Ayahmu akan jadi orang paling repot menjagamu, tapi sekaligus sangat senang melihatmu tumbuh begitu sehat dan lincah. Kami akan jadi orang tua paling beruntung. Rasa-rasanya kami ingin mengajarimu semuanya, dari bermain bola, membaca buku cerita bergambar, main catur, berenang, bersepeda, sampai memanjat pohon..!

Ketika kau mulai bersekolah, kami akan jadi orang tua yang paling repot dan heboh mempersiapkan, namun kamu adalah anak lelaki yang pintar dan cerdas dan mudah menyesuaikan diri sehingga kami tidak perlu cemas bagaimana kau harus menjalani hari-harimu di sekolah. Aku akan mempersiapkanmu bekal, tentu saja, aku kurang percaya dengan jajanan-jajanan di luar sana. Tapi sekali-sekali jika kau ingin bolehlah kau beli, diam-diam pastinya tanpa sepengetahuanku. Lalu lama kelamaan kau akan mengaku karena kau tidak bisa berbohong lama dariku. Ah ya, mulailah mengikuti ayahmu ke mesjid manakala waktu shalat tiba, dan sepulangnya, belajarlah membaca Al-Qur'an didampingi oleh ayahmu. Setiap malam, kami akan membantumu mempelajari pelajaran yang sulit di sekolah. Ibumu akan mengajarimu bahasa Inggris, sementara ayah akan mengajarimu matematika.

Pesanku, Nak, jalanilah sekolahmu tanpa beban, dengan penuh kesenangan. Karena ibu dan ayah tidak memaksamu untuk menjadi murid paling pintar atau cemerlang. Ingatlah, bahwa sekolah itu bukan kewajiban, namun belajar itu adalah kebutuhanmu, untuk bekal dalam menjalani kehidupanmu kelak.

Semakin bertambah usiamu, ayahmu akan mengenalkanmu dengan tanggung jawab. Kau akan dilibatkan jika ada sesuatu yang ayahmu kerjakan. Misalnya kau akan membantu menangkap ikan ketika ayahmu membersihkan kolam ikan. Atau kau bisa bersepeda ke warung untuk membeli kecap ketika ibumu ini lupa bahwa kecap sudah habis ketika tengah sibuk memasak. Kau akan melakukan semuanya dengan senang hati, karena kau senang dapat membantu ayah ibumu meskipun hanya bantuan sederhana. Kau juga akan memiliki adik atau kakak perempuan. Kau akan menjadi saudara lelaki yang lembut dan penyayang seperti bagaimana dua pamanmu menyayangi ibumu ini.


Lalu kau akan memasuki masa remaja, kau akan mulai mengenal dunia luar lebih banyak, mengenal jenis emosi yang lebih rumit, dan mendapatkan pengalaman-pengalaman tak terduga. Aku percaya kau akan jadi remaja yang cukup baik dalam menyikapi semua itu, tentu saja ayah dan ibumu selalu ada, untuk tempatmu bertanya atau sekedar bercerita.

Saat kau sudah mulai dewasa, kau akan mempelajari apa itu cinta, dan kau akan mulai tertarik untuk menjalin sebuah hubungan dengan perempuan yang kau sukai. Pesanku, Nak, perlakukanlah wanitamu sebaik-baiknya, jangan kau kecewakan ia. Jangan pernah menyakitinya, ingatlah bahwa ibumu ini juga seorang wanita, dan tentu saja aku tak suka bila sesamaku disakiti. Maka bijaksanalah dalam berjatuh cinta dan memanajemen rasa.


Ah, tapi aku percaya kau akan jadi lelaki yang baik. Yang mampu bersikap dewasa, yang menyayangi orang tua dan menjaga saudara perempuannya dengan penuh kasih sayang. Kau akan jadi lelaki yang menggenggam masa depan di tanganmu, sekaligus suami dan ayah yang hebat dalam keluargamu kelak.


Surat ini bukan hanya sekedar pesan, Anakku. Surat ini juga adalah tanda, bahwa ibumu ini sungguh bahagia dan bangga memiliki putra sepertimu.

Suatu hari nanti, kamu akan pulang ke rumah selepas kerja dan disambut dengan tangisan bayimu. Pada saat itu engkau sungguh letih karena pekerjaanmu dan kau hanya ingin cepat - cepat berganti baju dan beristirahat, bukannya harus berhadapan dengan seorang anak bayi yang menangis karena lapar. Jadilah ayah yang baik dan gendonglah anakmu, nyanyikan ia lagu sembari aku memasakkan bubur dan membuatkan susu.


Suatu hari nanti, anak lelakimu akan bertambah usianya. Ia mulai senang berlarian di sekitar rumah. Ia juga akan sering menggelayutimu, meminta perhatianmu. Jadilah ayah yang baik dan timanglah anakmu. Ajarkan ia bermain bola, mewarnai, atau bersepeda. Manjakan ia, agar gelak tawanya tak berhenti menghangatkan dada kita.


Suatu hari nanti, anak perempuanmu pun akan bertambah usia. Pikirannya berkembang dan diisi oleh khayalan - khayalan anak - anak. Jadilah ayah yang baik dan temani ia bermain dengan bonekanya, atau sekedar duduk membacakan buku dongengnya. Biarkan ia berkreativitas dan tetaplah di sampingnya, bertepuk tangan untuk gambar - gambar atau cerita - cerita anehnya. Buatlah dirimu menjadi lelaki pertama yang dijatuhi cintanya.


Suatu hari nanti, anak - anakmu akan beranjak dewasa. Mereka mulai sibuk sendiri, mempunyai pemikiran - pemikiran baru dan mungkin satu dua kali menentang dan memberontak hingga membuatmu gusar. Jadilah ayah yang baik dan dengarkan mereka dengan sabar. Sisipkan satu demi satu pelajaran, dan berilah mereka pengertian. Kasihilah mereka tanpa membuat mereka kehilanganan rasa segan.


Suatu hari nanti, anak - anakmu mulai menentukan jalan hidupnya sendiri. Mereka memiliki mimpi dan cita - citanya masing - masing yang ingin mereka raih. Jadilah ayah yang baik dan tuntun mereka dalam menggapainya. Berikan mereka motivasi dan dukungan dengan segala cara baik yang kamu bisa. Ketika satu kala mereka jatuh dan menyerah, berilah penghiburan dan juga petuah.


Suatu hari nanti, anak - anakmu akan punya kehidupan baru dan menenggelamkan diri di dalamnya. Mereka punya keluarga, kebahagiaan, dan tawa yang tidak lagi dibagi pada kita. Jadilah ayah yang baik, yang tersenyum haru dan mengelus dada dengan bangga untuk mereka. Lalu dekaplah istrimu dan dan katakan padanya bahwa kau teramat mencintainya.


Teruntuk kamu,


Pada saatnya nanti, menikahlah denganku,
dan jadilah ayah yang baik untuk anak - anak kita.

Jadilah Ayah yang Baik

by on 5:04:00 PM
Suatu hari nanti, kamu akan pulang ke rumah selepas kerja dan disambut dengan tangisan bayimu. Pada saat itu engkau sungguh letih karena pe...