Showing posts with label a fiction. Show all posts
Showing posts with label a fiction. Show all posts
"Nya, kok melamun?"
Anya tersentak, menoleh ke arah Tasha yang memergokinya terbengong, entah sudah berapa lama.
"Iya nih, aku lagi mikir."
"Mikir apaan?"
"Tiap liat pasien tua, suami istri, aku mikir, hebat juga ya cinta. Kadang suaminya udah nggak gagah, sakit parah nggak bisa apa-apa, tapi istrinya setia ngerawat dan ngejaga. Atau kalau liat nenek-nenek tua keriput udah nggak cantik lagi, tapi suaminya masih setia duduk nunggu di sebelah."
"Haha, iya.. aku juga kadang terharu liatnya. Itu cinta apa karna udah terbiasa sama-sama ya? Semacam manisfestasi dari komitmen gitu?"
"Nggak tau juga sih, Sha. Tapi yang jelas apapun itu, aku takjub. Bisa juga ya dua orang yang sebetulnya ga punya hubungan apa-apa, dua orang yang dulunya asing, lalu mutusin buat bersama. Sampe tua, sampe sakit, senang susah, sama-sama. For better for worse.
Tasha tersenyum.
Anya melanjutkan, "Aku jadi kepikiran aja kadang, apa nanti ada yang bisa kayak gitu sama aku? Hahaha."
"Duh, kamu tuh ya Nya. Apa-apa selalu dibawa perasaan pribadi hahahaha."
Anya tertawa, pipinya menyemburat dadu.
"Abisnya gimana ya Sha.. kadang aku mikir, aku ini banyak kurangnya. Pinter nggak juga, tinggi nggak juga, cantik nggak juga. Serba pas-pasan hahaha."
"Hahaha...mulai deh pesimis. Duh Nya, kamu tuh lucu ya. Biasanya optimis banget tapi kalo lagi kambuh pesimisnya kayak idup kamu tuh susah banget hahaha." Tasha menggeleng-gelengkan kepala melihat Anya.
Anya memutar-mutar ujung stetoskopnya, pandangannya masih mengarah ke pasien tadi, "Soalnya Tasha, manusia itu pasti ada kurangnya. Aku banyak kurangnya."
Tasha tergelak, "Hahaha...Nya, inget ga, kamu pernah bilang sama aku, 'Sha, suatu saat nanti, bakalan ada orang yang menerima kita apa adanya. Dan kita terima dia apa adanya. Seseorang yang bikin kita ngerasa, waktu sama dia, kita punya kepercayaan diri. Yang bikin kita lupa kalau kita penuh kekurangan, karna apa adanya kita cukup untuk dia. Dan dia cukup untuk kita.' ...ya kan? Aku ngerasa omongan kamu bener, makanya aku inget banget. Kenapa tiba-tiba kamu jadi pesimis gini hahaha."
"Iya sih ya..." Anya memutar bola matanya, "Mungkin ini lagi masa-masanya aku jadi mikir, apa bakal beneran ada seseorang yang kayak gitu, hahaha."
"Mungkin.. emangnya nggak ada?" Tasha menjawil pipi Anya.
"Ngg.. nggak tau sih, emangnya ada?" Ia mengangkat alisnya.
Tasha tertawa, "Hahaha, yaudah deh nggak usah dipikirin. Ntar juga ada. Ayo dong, biasanya kamu yang optimis." Tasha beranjak dari duduknya, menepuk pundak Anya lantas berjalan ke arah pasien di bed seberang dari mereka duduk.

Anya menggigit bibir. Sebetulnya saat Tasha berkata tentang 'seseorang' itu, satu sosok manusia melintas di kepalanya.
Hanya beberapa detik saja.
Ia tertawa sejenak, membayangkan tawa Satrio setiap mereka bersama. Seolah-olah setiap yang ia lakukan, berharga. Seolah-olah ia tak memiliki cela. Seolah-olah kurang padanya, tak lagi ada.
Lelaki itu membuatnya merasa cukup.
Dan baginya, itu cukup.


“Pulpennya kenapa macet sih.” Anya bersungut-sungut sembari menggoyangkan pulpennya, “Tetep aja macet. Heran deh, bawa pulpen banyak banget nggak ada yang bener.” Ia mengomel sendiri.
“Kamu nulisnya di dinding, harusnya alasnya meja. Posisi pulpen kamu itu bikin tintanya susah keluar.”
Anya menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berjongkok di sebelahnya, menyandar ke dinding tempatnya menulis. Anya menoleh sekeliling, mengambil kardus bekas air minum yang disediakan panitia, merobeknya dan kemudian duduk di atasnya. Ia kemudian mengobrak-abrik isi tasnya, mencari sesuatu yang dapat dipakai sebagai alas.
“Nulis di lantai aja deh.” Gumamnya sendiri, menyadari tak ada satupun barang datar di tasnya, “Eh iya, nggak macet nih. Horee.” Soraknya.
 “Fisika dasar, hehe. Nulis itu harus vertikal, jangan horizontal. Kecuali kalau kamu pake pensil.”
Anya melirik formulir yang sedang diisi oleh lelaki di sebelahnya itu.
Fakultas     : Teknik
Jurusan      : Arsitektur.
Oh, pantes.
“Wih, calon dokter.” Ternyata lelaki itu juga melirik formulir miliknya.
“Haha, iya. Nyasar nih.”
“Kok gitu?”
“Mustinya aku masuk Fakultas Keguruan, jadi guru. Cita-cita dari dulu itu. Tapi yaudah sih udah terlanjur masuk di Kedokteran.”
“Masih belom telat kok buat ngerubah jurusan. Mulai aja belom, baru daftar ulang. Belom bayar kan?”
“Iya sih… tapi yaudah deh, males tes lagi. Capek.”
“Yaa jangan aja setahun dua tahun lagi kamu malah ngeluh capek gara-gara kuliah kedokteran lama nggak lulus-lulus.”
“Bener juga…. Tapi yaudahlah, udah terlanjur. Ini duit pendaftaran udah di tangan, masa iya dibalikin lagi.” Anya memutar bola matanya, “..apa aku bawa kabur aja ya…ke luar kota, ga balik-balik. Lumayan nih duitnya..”
Lelaki tadi tergelak, “Bisa aja..”
“Ciyee arsitek. Nanti kalo aku mau bikin rumah bisa dong minta buatin kamu?”
“Bisa..tapi harga temen justru dua kali lipat ya..”
“Lah emang kita temen?”
“Oh iya, lupa.”
“Aku suka liat arsitek, kemana-mana bawa-bawa tabung. Kayaknya keren.”
“Kamu juga keren nanti kemana-mana bawa stetoskop.”
“Ya nggak kemana-mana juga kali. Masa iya jalan ke Mall bawa stetoskop, dikira sinting nanti.”
“Ya sama. Aku nggak kemana-mana bawa tabung juga kali, sinting apa. Hahahah.”
“Ergh iya. Kok omongan kamu bener semua gitu sih.”
“Nggak semuanya, tadi itu yang temen, aku salah. Kita kan nggak temenan.”
“Oh iya, yaudah kita temenan ya. Susah ya jaman sekarang apa-apa musti dikasih label.”
“Haha, biar jelas aja. Tadi kamu sendiri kan yang bilang kita bukan temenan.”
“Ya maksudnya kan..kita baru aja ketemu. Bukan udah lama kenal. Ibaratnya nih, kalo main sims, status relationshipnya masih ‘acquintances’ belom ‘friends’. Kalo ketemu cuma senyum, kalo udah friends kan dadah-dadah.”
Ia tertawa lagi, “Hahaha, tuh itu kamu barusan ngasih label.”
“Iya sih. Duh. Kemakan omongan sendiri. Susah ya ngomong sama kamu.”
“Nggak susah, buktinya daritadi kamu ngomong terus.”
Anya memandanginya dongkol.
“Persepktif, hehe.” Lelaki tersebut mengacungkan dua jarinya, membentuk simbol peace.
“Gila ini rame banget antriannya, masih urutan 160, aku urutan 198. Nyesel deh datengnya lama.”
“Ya nggak papalah. Dibawa ngobrol juga nggak berasa.”
“Kamu urutan berapa?”
“162. Bentar lagi nih.”
“Enak ih. Harusnya ya..daftar ulang pake online aja. Kenapalah musti dateng antri begini, nyusahin aja. Sekarang jaman kan udah canggih.”
“Iya, trus websitenya down gara-gara banyak yang buka, trus ada yang telat daftar trus ga jadi masuk trus ngomel-ngomel. Salah lagi..”
“Bener juga sih..”
“Manusia itu emang susah puas sih ya.”
“Itu nyindir?” Anya mendelik sok sebal.
“Cuma ngomong, perspektif, duh.”
“Hahaha, iya-iya. Kamu asal sini?”
“Iya. Kamu?”
“Sama..”
“Tinggal di mana?”
“Di Jalan Penjara, tengah kota.”
“Kok kita nggak pernah ketemu? Aku juga daerah situ. Ahmad Dahlan.”
“Lah ini ketemu.”
“Eh iya sih, maksudnya di situ…”
“Hahaha, persepktif.” Anya terkekeh membalas.
Ia terbahak, “Jago ngebalikin omongan orang ya kamu.”
“Biarin, emangnya cuma kamu aja yang bisa hahaha.”
Mereka tertawa berbarengan.
“Eh udah nomer 161 nih, aku ke sana ya?” Lelaki tersebut berdiri, mengemaskan barang-barangnya dan mengeluarkan berkas-berkas yang diperlukan dari dalam tasnya.
“Oke.”
“Bye, Anya.”
“Kok kamu tau nama aku?”
“Lah itu..” Ia menunjuk formulir yang dipegang Anya.
“Oh iya.” Anya menepuk dahinya.
“Yaudah, bye..”
“Eh, nama kamu siapa hoy? Aku nggak ngintip formulir kamu tadi.” Teriak Anya sebelum lelaki tersebut jauh dari pandangannya.
“Satrio.”
“Oke, bye Sat.”
“Jangan dipanggil Sat, kayak ‘bangsat’. Panggil Tri aja.”
Anya beranjak dari duduk, menepuk-nepuk celana jeansnya dan merapikan blousenya. “Oke, bye Tri.”
“Eh itu kardus yang kamu pake buat duduk, padahal bisa jadi alas buat nulis tadi.” Satrio menunjuk kardus yang sedari tadi diduduki Anya.
“Oh iya. Ya ampun, nggak sadar.”
“Kadang emang pas udah nggak nyari, kita justru menemukan. Ya kan, Nya?” Satrio tersenyum.
“Ng…Iya.”
“Bye, Anya..”
“Bye, Tri..”

Keduanya tersenyum, saling melambaikan tangan.



You feel at best when you’re home, they said. Let me scratch that specific phrase, a home. Not a house. Because a house, your house, is not always your home. House is a building while home is a soul.
Bukan kataku, itu kata Anya. Perempuan yang membuatku duduk menunggu di atas motor saat ini, menantinya selesai mengajar. Aku melihat ke arah jam tangan, ia seharusnya sudah selesai sekarang namun tak ada tanda-tanda kelasnya akan berakhir. Ia pasti keasyikan di dalam. Tak masalah, aku lebih senang menunggu di sini, memerhatikan anak-anak yang bermain setelah kelas usai, atau para orangtua yang menunggui anaknya dengan sabar dibandingkan harus mendekam di rumah.

Walaupun aku anak rumahan, lagi-lagi menurut Anya. Anak rumahan yang tak suka di rumah, kalau boleh kutambahkan.

“Kenapa sih emangnya? Kenapa nggak suka di rumah?”
Aku mengingat pertanyaan wanita bertubuh mungil itu. I didn’t have a precise answer at that moment she asked the question. But now I do.
I don’t feel like home at my very house. I dislike it, going through the front door to a wide empty living room, with a 42-inch-size flat TV. Lengkap dengan TV kabel dan DVD set sehingga aku bisa menonton siaran apapun yang kumau. To cold kitchen and vacant dining, tanpa nasi panas yang mengepul dari dalam dandang. I always have meals outside. Oh, wait, bukan cuma aku, my whole family does.
Sorry nih sebelumnya, but I really want to ask. Kamu dari keluarga broken home?”
Masih dapat kubayangkan wajah takut-takut-penasaran Anya ketika menanyakan pertanyaan itu untuk pertama kalinya setelah aku bercerita tentang ketidak-sukaanku akan rumah.
No, I am not. My parents have a wonderful marriage. They rarely fight about anything, you know.”
I thought it’s a good thing, no?”
Yes, and they thought so. But how should they fight, they don’t even talk to each other.”
Ekspresi wajah Anya berubah drastis. For a big girl, she’s quite expressive. Lucu.
Never?”
Ever. They’ve stopped talking since long time ago. My Dad is busy being busy. My Mom became so lonely that she’s busy trying to look busy.” Aku memberi penekanan pada kata ‘trying’, “So busy that they forgot I’m not that busy.” Aku tertawa di akhir kalimat. Ironical laughter.
Why did that happen? Kalo boleh tahu loh.”
“Hmm…. My Mom married my Dad because he looks good on paper. He fits her criteria. Dua puluh tujuh tahun, lulusan universitas bagus, pengusaha muda, dari keluarga baik-baik. Dan bokap nggak jelek juga kan, haha. And my Dad married her because she meets his requirements as a wife. Perempuan baik-baik, pinter, bisa masak, cantik. Kurang apa?”
Dia tak menjawab, masih menyimak.
“Mereka emang nggak ada kekurangan, kecuali kurang cocok. Ya..gitu.” Aku mengakhiri sesi curhat, merasakan aura simpati Anya menguar-nguar dari matanya. God, she’s bad at hiding feelings.
"I feel sorry. Dan maaf aku tanya kayak gitu, sekarang jadi nyesel. Maaf ya?”
“Oh, tenang aja. Nggak papa. I’ve got used to it. You don’t have to feel sorry.”
“Eh, aku keliatan jadi kayak ngasihanin kamu ya? Duh, maaf, aku nggak bermaksud.”
“Hahaha, nggak. Really, it’s okay. I pity myself sometimes, jadi mau dikasihanin juga nggak papa, ya karena emang kasihan…. ya kecuali kamu udah nggak punya belas kasih haha..”
Dia tertawa, namun binar mata itu tidak hilang. Binar mata khawatir.

Here’s the funny thing, I don’t tell people about my family. Telling my background stories is not my thing.
 

But this one is different. She, is different. I want her to know. I want her to understand. I want her to get why I do what I did, why I decide what I decided.
Kalo aku cerita ini ke cewek-cewek lain, mereka mungkin udah kasi gesture buat pelukan ala teletubbies, atau paling nggak nepuk-nepuk lenganku, berusaha bikin beban aku hilang. But she’s not doing any of those. She just listens and concludes. And that’s enough.
That’s what I need.

Sejak saat itu, rasanya lebih mudah bercerita tentang segala hal kepadanya. Tentang kesukaanku, sudut pandangku, tentang remeh-temeh harian, tentang kebiasaanku. Afterall, she has seen me deeper than anybody else, I don’t mind talking those things to her. I trust her. A lot.
And apparently, she trusts me too.
Dih, geer ya? Haha.

Tapi memang benar, terbukti dari percakapan kala itu, yang dimulai dengan pertanyaannya “Kenapa arsitek?”
Aku menjawab, “Oh, aku perlu masuk ke jurusan yang bikin sibuk. It is my family’s little tradition, being busy.”
It was half a joke, but she didn’t laugh. She just smiled.
“Kamu kenapa masuk kedokteran? Bukannya kamu pernah bilang kamu dulu pengen banget jadi guru?” Tanyaku, penasaran juga.
“Hehe karena…guru nggak bisa jadi dokter, tapi dokter bisa jadi guru.”
“Bener juga sih.”
She paused. Setelah beberapa lama diam –yang kuyakin ia berpikir keras apakah harus bercerita atau tidak– ia lantas melanjutkan, “Being a doctor is not an option for me. It never was. But my parent wants a child who is a doctor. Dan ya…kamu tahulah dua abang dan satu adik perempuanku kayak gimana. Ngarepin mereka jadi dokter ya sama aja ngarepin salju turun di sini.”
Oh ya, aku tahu soal dua abang dan satu adik perempuannya itu. Satu abangnya menikah muda dan lebih suka berwirausaha, satu abangnya lagi senang di alam bebas, lebih suka jalan-jalan keliling Indonesia dan jadi blogger wisata. Sementara adik perempuannya....gimana yah menjelaskannya? Si rapuh yang sering sakit-sakitan, pokoknya begitu kata Anya. She has told me all those things waay before this conversation happened.
Jadi kesimpulannya, dia juga percaya sama aku. We’re in the same boat.

Begitulah seterusnya, selama bertahun-tahun. Sudah berapa lama ya? Lima..enam…tujuh? Iya, tujuh tahun dari pertama kali kami dekat. Pertama kali kami berbicara satu sama lain. Pertama kalinya aku tahu bahwa ada ratusan hal yang bergelimpang di kepalanya. Pertama kalinya aku tahu ia memiliki banyak sudut pandang yang tidak dimiliki perempuan-perempuan lain yang pernah kukenal. Pertama kalinya aku merasa, ternyata ada toh perempuan yang bisa diajak duduk berjam-jam tanpa habis bahan omongan. Meskipun dia jauh dari kriteria wanita idamanku. Jauh.

Tapi apalah artinya kriteria yang seabrek-abrek itu kalau tak bisa diajak bercakap? I don’t want my children going back to an empty house like I do.
I want my future house to be a home.

“Udah nunggu lama, eh?” sapaan Anya membuyarkan pikiranku. Kulihat jam tangan –ternyata sepuluh menit tadi kuhabisi dengan melamun. Aku melepas earpieceku –fyi, ini senjata paling ampuh untuk menghindar dari percakapan basa-basi yang tak perlu. Aku meresponnya dengan menaikkan alisku yang berarti ‘Iya, udah lama sampe aku mati bosen’ –I don’t need words, she’ll understand. Kutatap wajahnya yang dihiasi bulir-bulir peluh namun tampak bahagia, terlihat dari senyumnya yang tak putus-putus. Senyumnya yang hangat, bak perapian di rumahku yang kadangkala kunyalakan hanya agar rumahku seperti ada kehidupan.

Dan binar matanya mengingatkanku akan lampu gantung di ruang tengah rumah. Ruang kosong yang harusnya penuh. Ruang sepi yang mestinya ramai.

Suddenly, I feel like I'm home.
Suddenly, I want to take her home.

di sepuluh menit

by on 3:26:00 PM
You feel at best when you’re home, they said. Let me scratch that specific phrase, a home. Not a house. Because a house, your house, is...




"Udah nunggu lama, eh?” aku menyapanya dari belakang. Ia sontak menoleh, melepas earphone di telinganya yang kutahu hanya asesori agar ia punya alasan untuk tak berbicara dengan orang lain. He doesn’t bother talking to stranger, so he always uses his earphone eventhough there are no songs playing on his phone.
Sigh, I know him too well.
Ia menaikkan alis –bukannya mengangguk– yang berarti ‘Iya, udah lama sampe aku mati bosen.’ But none of those words came from his mouth. He hardly complain. Hell, he never does.
“Maaf ya, tadi muridku ada yang telat dijemput, trus mereka ngajak ngegames. Trus heboh pada nggak mau pulang.” Aku menjelaskan alasan keterlambatanku, bukan untuk dia mengerti, tapi hanya agar dia tahu.
“Ga papa, I like being here anyway. Jadi, ke mana kita sekarang?” Jawabnya santai.
“Aku lapar.”
“Oke, yuk makan. Hmm, sate kambing?”
“Sate kambing.” Aku mengangguk setuju.
Cukup sepuluh menit di perjalanan dan kami pun sampai di kedai sate favorit kami. Iya, kami. Meskipun ia ‘semi-vegetarian’ –begitu kataku, karena ia tak terlalu suka makan daging– , tapi sate di sini memang enak, dan kurasa ia pun menyukainya.
“Sate kambing setengah porsi, sate ayam seporsi, bumbu kacang.” Aku memesan sementara ia mencari tempat duduk. Otomatis begitu, setiap kali kami makan berdua. Ia sudah hapal pesananku, namun ia selalu bingung saat harus memesan makanan. Lagipula berbicara dengan orang lain adalah satu dari beberapa hal yang dihindarinya. Si canggung, julukku. Sedangkan aku sulit menentukan tempat duduk; kadang aku ingin di pinggir, kadang aku senang di tengah. Sehingga seringnya aku bingung sendiri. Si tidak berpendirian, juluknya.
“Aku udah lama nggak makan sate. Kangen.” Kataku sembari menarik kursi tempatku duduk.
“Bukannya minggu lalu kita baru dari sini?”
“Seminggu itu masuk kategori lama.” Jelasku, membuatnya terbahak. Tawa dengan geligi rapat dan beberapa dehem di antaranya. Tawa yang tak pernah bosan kulihat.
“Aku nggak terlalu suka daging, jadi..”
I know.” Potongku, “Dan ga suka kambing. Padahal sate kambing di sini itu sate yang paling enak sejagat raya.” Kataku, hiperbolis.
Kambing is an overpriced meat. Dan baunya nggak enak.”
Oh, here we go again with this kambing baunya nggak enak, Come on, Tri. Setelah jadi sate, baunya jadi enak”
It still smells the same.”
Aku menyerah. Kami telah berdebat mengenai ini ribuan kali. Aku jadi teringat pertama kali ia kuajak ke tempat ini, dahinya berkerut dan ia menyeletuk, “Ini tempat penyiksaan hewan.” Saat kutanya kenapa, ia menjawab, “Coba bayangkan, karena tempat ini, ada berapa ekor ayam, kambing, sapi, dibunuh setiap hari? Kasian.”
Aku ingat tertawa mengejek setelah mendengar jawaban itu, yang kutimpali dengan, “Oh, tapi aku nggak pernah liat kamu kasian waktu makan ayam goreng KFC.” Dan dia hanya mengeluarkan tampang ‘hehe, ya abisnya KFC enak..’-nya yang benar-benar manis. Sudah tujuh tahun dan masih terekam jelas di kepalaku adegan satu itu.
Pesanan kami datang dan sekejap saja argumen tadi terlupakan. Aku menatap dengan bahagia setengah porsi sate kambing di hadapanku. Satrio dengan kalem menaburi sate ayamnya dengan bawang goreng dan jeruk nipis. Oh ya, lelaki di depanku ini bernama Satrio. Ia ogah dipanggil ‘Sat’ karena itu seperti panggilan untuk ‘bangsat’, dan ia tak mau dipanggil ‘Yo’ karena dia bilang tidak ada huruf ‘y’ di namanya. Itulah kenapa aku memanggilnya ‘Tri’. Manusia satu ini memang sungguh aneh. Mempermasalahkan hal-hal yang menurut sebagian besar orang tak lazim dipermasalahkan. Tapi tak apa, aku sudah terbiasa.
“Gimana tadi ngajarnya?” Ia bertanya di sela denting-denting garpu yang beradu dengan piring-piring kami.
It was fun. It is always, fun.” Koreksiku, “Oh, tadi ada kejadian seru. Ada satu anak yang bawa sumpelan kapas dari rumah. Banyaak banget. Trus dibagi-bagiin ke seluruh anak di kelas. Waktu ditanya buat apa, dia bilang, ‘supaya kita tau rasanya jadi Denis, Miss. Jadi mereka nggak ketawa kalau Denis salah denger omongan Miss.’ Lalu dia bikin semua orang pake sumpelan kapas, dan jadilah seharian tadi aku ngajarnya teriak-teriak.”
Satrio tertawa lepas. Kali ini cukup lama sebelum ia berkomentar, “Itu Dea ya? Hahaha, masuk akal sih kalau dia gitu.”
“Whoa, kamu inget namanya?”
“Inget lah. Kan kamu pernah cerita, aku ingat karna dia Koleris banget anaknya. Hahaha.” Ia tertawa lagi.
Aku merasa kenyang cukup dengan menontonnya tertawa. Sungguh.
“Kamu selalu melabeli orang deh. Koleris lah, Melankolis lah, Phlegmatis lah.”
“Ya setiap orang punya sifat-sifat itu, dan sebagian orang punya salah satu sifat yang terlalu dominan, begitu ngeliatnya aja langsung tau.”
“Iya.. kayak kata kamu, aku sangat Sanguinis.”
“Memang.”
“Tapi aku ga suka dilabelin. Dan label dari kamu buat aku tuh terlalu banyak. Si Sanguinis, Si Tidak-Berpendirian, Si Sinis-Optimis, uhm.. apalagi ya.. oh iya, A Coffee-Cup-Possesive, cuma karna aku marah tiap ada yang pake gelas kopi aku. Dan.. ah, kamu bahkan pernah ngejulukin aku The-Miss-Yes dan Sang Ibu-Peri-Sejuta-Umat cuma gara-gara aku ga bisa nolak tiap ada yang minta tolong.” Protesku.
“Tapi emang benar kan?”
“Iya sih. Aku kan nggak enakan orangnya.”
Okay Miss-Not-So-Good-at-Arguing.” Ledeknya.
Well, here comes the new label.” Aku menghela napas.
Don’t you like it? Padahal aku mau nambah lagi satu label.” Ia tertawa geli. Wajah siap meledeknya sudah terbaca jelas.
“Apa?”
“Mrs. Satrio.”

Wait…..what?

Aku terhenyak, meletakkan setusuk sate kambing yang tadinya siap kutelan. Tenggelam dalam perasaan kaget dan senang. Kepalaku berusaha memproses dua kata yang barusan diucapkannya.
“Tunggu, kamu bilang apa tadi?”
“Oh, kurang jelas ya? Mrs. Satrio. Nyonya Satrio.”
I know what that means.”
If ‘I know what that means’ means you’re accepting my proposal and agree to be a wife of mine, than we share the same definition, Miss.
Aku masih terperangah. Laki-laki ini…..
Aku buru-buru menepis angan-angan tinggi dan menekan dalam-dalam kebahagiaan serta rasa terkejut yang belum hilang, aku berusaha logis dan mempertahankan kewarasanku, “So, you are proposing me. Just because you want to add a new label. For me. Huh?”
Yes I am proposing. And yes I want to add ‘that’ new label for you. But it is certainly not a 'just because’… aku udah mikir panjang-panjang sebelum akhirnya memutuskan akan menyemati kamu dengan label itu.”
“Mikir panjang-panjang? Kapan? Di sepuluh menit perjalanan dari sekolah ke sini?” Kataku, masih tak jelas.
“Duh, Anya. You think? Mikir panjang-panjang, sepanjang tujuh tahun kita sama-sama. Sebagai teman. Sebagai teman yang lebih dari teman –atau entah apalah menurut kamu yang kita jalani selama ini. Dan aku gak menemukan orang lain lagi yang pas buat aku selain kamu, serta yang pas buat kamu selain aku.”
“Wow, pede banget kamu.” Tanpa sadar, pipiku terasa panas, yang kuyakin akan memerah meski tak kububuh blush-on tadi sebelum mengajar.
“Bukannya pede. Tapi itu kenyataannya kan? Ya, siapa lagi sih yang siap sedia dengerin kamu ngomong berjam-jam tentang hal yang seringnya sama, tapi nggak ngeluh sedikitpun? Dan siapa lagi yang paham kalau aku bukannya sombong atau cuek, aku cuma ga senang ngomong sama orang yang menurutku pointless and ain’t worth my time. Kamu pasti tau kan tadi aku nggak muter lagu apa-apa eventhough I put my earphone on? Cuma kamu yang tau. And we still stick with each other.”
 Aku tergamam, tak dapat membantah sedikitpun kata-katanya. Seluruh ucapannya benar. Setiap kalimat, setiap kata. Aku bahkan tak bisa mengelak dari kata-kata ‘and we still stick with each other’ cause yes, after all, after these seven years, I never really leave his side. So does he.
“Jadi gimana? Is it a deal?” Katanya, memecah kesunyian yang kubangun dengan lamunan-lamunanku. Ia masih makan dengan rileks tanpa beban sementara aku masih shock hingga sate kambing favoritku tak tersentuh sedikitpun.
“Tapi….” Aku menggumam ragu.
“Tapi kenapa?” He’s looking me right at my eyes.
Napasku tertahan.
You don’t know who I am. I’m not a good person.”
I know you enough that I’ve decided you are the best for me. Dan ga ada bad person yang tahan ngajar kelas anak-anak berkebutuhan khusus.”
“Ha, and I’m not good at cooking. You said you want a wife who cooks well.”
I like your nasi goreng. You’re good at making coffee. And I know you will learn eventually, no worries.

Okay, he’s right.

And uhm, I’m needy and clingy, I thought you are aware of that.”
“You’re not. You just love to have a company.
And I am an insecure bitch, jangan lupa.”
It’s a woman’s basic need, to feel secured.” Jawabnya tenang.
Aku berdecak mendengar respon yang ia berikan, “I love how logical you are.” Tukasku, antara kesal dan kagum.
“Haha, coba buang ‘how’, ‘logical’ dan ‘are’nya. It would sound better.”
Err.. I… love you?” Jawabku, refleks.
I know. So it’s a ‘yes’ then. Congratulation us!”
Dia tersenyum puas.

setelah tujuh tahun

by on 11:27:00 AM
"Udah nunggu lama, eh?” aku menyapanya dari belakang. Ia sontak menoleh, melepas earphone  di telinganya yang kutahu hanya ase...
Salam berbahagia,


Kutulis surat ini untukmu sebab bagiku, kata-kata mampu lebih banyak bicara dalam bentuk tulisan daripada diucapkan. Berbicara padamu adalah satu dari sekian banyak hal yang tak mampu kulakukan -saat ini- sebab mungkin di waktu engkau membacanya, aku tengah mengurung diri dalam kamar, menangis atau sekedar menenggelamkan diri dalam sedih yang kubuat sendiri.


Ini bukan surat cinta, kau harus mengerti itu. Surat cinta mengandung kata 'cinta' di dalamnya, sementara aku telah membuang jauh-jauh cinta ketika menuliskan ini. Bertahun kujadikan cintaku seperti barang tak berharga yang kuberikan padamu cuma-cuma, namun entah cintaku yang terlalu kecil ataukah hatimu yang terlalu sempit sehingga tak sedikitpun perasaanku ini menyentuh hatimu.
Lelah cintaku menunggu dan mengetuk pintu, kau biarkan saja duduk di depan rumah, kehausan dan kelaparan. Kau isi hatimu dengan yang lain, kau biarkan cintaku merana seorang diri, sampai pada waktunya, yaitu kini, ia memutuskan untuk pergi.


Memendam cinta sedemikian lama tak pernah jadi pekerjaan yang menyenangkan, tahu?


Aku sadar bukan segenapnya salahmu perkara tak membalas sedikitpun perasaanku. Aku sadar pula bukan salahmulah aku menjatuhkan cintaku kepadamu. Namun tak bisa kusalahkan pula diriku sendiri sebab aku yang menanggung perasaan ini. Mencintaimu itu menghidupkanku. Saraf-saraf sensorik-motorikku bangkit berdiri, otakku menulis ratusan puisi. Tak usah kau tanyakan betapa aku bisa melakukan banyak hal yang kukira tak kuasa kulakukan, atas nama cinta. Namun sayangku (yang tak menyayangiku), mencintaimu pun mematikan. Membunuh segala harapan, menikam segala angan, ketika aku sampai pada titik menyadari, tak mungkin kau kumiliki.


Atas itulah kulayangkan surat ini. Bukan maksud melimpahkan segala-gala rasa ini padamu, namun sebagai caraku memberitahu bahwa telah sekian lama, hatiku tersimpan untukmu saja.
Namun sebagaimana yang telah kau isyaratkan dari perkataanmu, dari caramu memperlakukanku, dari pilihan hatimu yang tak suah memilihku, aku paham sepaham-pahamnya, bahwa rasa ini hanyalah sepihak.


Maka biarkan aku meminta perasaanku lagi 'tuk kusimpan sendiri. Sampai hilang ditelan tahun, windu, dasawarsa, atau jika tetap ada pun ya biarlah kutelan untukku saja. Aku hanya ingin kau tahu dari diriku langsung, bahwa aku memang mencintaimu.


Berbahagialah bersamanya, jika yang kalian rasakan itu cinta. Aku tak mengapa, bukankah tak ada ketentuan mencintai itu bersambung dengan memiliki? Kalian salah dua yang beruntung, keberuntunganku mungkin lain kali, maka tenanglah, aku akan baik-baik saja entah esok atau lusa atau nanti.


Aku hanya tak mampu menyakiti diri sendiri lebih jauh. Cukup sampai disini.


Selamat sore, dan semoga cinta selalu menyertaimu meski tak ada lagi cinta dalam surat ini.


Dari aku, yang menyayangimu diam-diam
lalu memutuskan untuk tak hanya diam.
Honestly, how do you know that too much is too much?

This may not the first time people ask that kind of question, yet I wanna ask the same to you, how do you know?

We once loved without being afraid that we might torn apart, because we were sure that we would always be in love. we fell to each other, so deep. Too deep that on one moment to another, we began to hurt. we started to grow the jealousy, the insecurity. We put our trust in shatter. later we found we were in such a big messes that we couldn’t find the way out. At that time we realized that this was too much. too much pain, too much tears, too much love that even we no longer could afford.

We did separate. we were bleeding and crying, and God knows how we tried to stitch the broken us.. but after several trials, we discovered new wounds. The wounds that created by us because we tried too much on things that didn’t work anymore.

Then we decided to leave this absurd relationship. We cut the tiny thread that connected us. We wiped our tears and said goodbyes. made me know that you had filled me with too much memories.
It was years ago. now I’m living my life again, I re-write the new chapter of the book. now we’re fine because those ‘too much’ are wiped little by little as the time goes by.

I’m meeting someone. yes, a new guy. maybe this has no correlation with you, and maybe it’s not really important, you don’t have any business with this anyway. but when  get closer to this person, you know, I start to like him a little much, and start to worry a little much. He starts to know me a little much, and somehow I’m afraid. I’m afraid that these ‘little much’ will sooner or later become too much. and I can’t lie that I’m scared I might fail this relationship again.

So please, tell me, at that time when we were still together, did you actually learn that we were ‘too much’? How did you know?


This is the reply of the letter..


To you, who have secretly written the heartbreak letters, @kebalikan

Well I was in the library, doing my assignments that caused me dying of boredom and randomly went to your blog - or how you named it now? Tumblr? Whatever - and I was surprised to read those unsent letters that you made.

Dear honey, no one would realize that they are going too far or getting and giving too much until they are lost and finally need to pay so much price of having too much. No one, underline that. If only I had that damn idea that we were too much, I would have stopped being too much because I didn't want us to lose our way. I didn't want to lose you at all. Unfortunately your question is unanswerable. Even I did have the same question. I asked God why. You know how sometimes people break up because their love is not enough. Funny is, the reason that we broke up because ours is too much.

And anyway, it's good to hear that you are now considering to create a new life. Please, fall in love once more. It's okay. You have to see yourself whenever you're in love, because that version of you is the one that I adored and admired a lot. Correction, adore and admire. Yes, it's present tense because these feelings, it's still there. It has always been there. And don't be afraid of going too much, because sometimes you need too much to be enough.

These three years brought me to this thinking, that maybe it wasn't our big problem. Maybe that 'too much' would mean nothing if only we worked it out. But we didn't. And I realized perhaps the reason was because we unconsciously shred our tolerances of each other. We argued a lot, remember? And somehow it meant it was okay to lost each other instead the arguments.

Sigh you are right. Those arguments were arise because we love too much.

So, maybe this letter has no point. But I want you to know that I am still the same me, the one who notices every breath every step you take. It's just fate that made us apart. Because yeah, I learned that people who are made for each other don't always have to be together.

And don't worry, someone will come into your life and things will work between you two. That someone will stay in love with you.

One thing that i learned from our broken relationship is... Eventually, we only need someone that makes us feel enough. Not less or more. That's how things work between me and my woman now. Yeah, have you heard that news?
We are together until this very moment because yeah... I never love her as much as I did to you. I stop being in love when once my heart say, "Okay, this is enough."
 
 
 
Both of these letters are written by me, on '30 Hari Menulis Surat Cinta', a project by @PosCinta. I used pseudo twitter account @kebalikan to post the letter. But I've deleted that account and apparently it's now taken by someone else.
 
You can read the archive here:
 
 
or the original letter(s) on my tumblr
 
 
 
 
Thanks, and see ya! xoxo
Tiga.. empat.. lima.. detik berlalu. Begitu saja. Wajahmu masih menjadi satu-satunya objek yang dapat membuatku hilang kata-kata. Cantik, dan sungguh aku ingin memandangimu terus-menerus tanpa diusik. Kepalaku rasanya ingin kutampar bolak-balik, leherku ingin kucekik.
“Hey, kenapa?” Tanyamu, membuat aku mesti susah payah menyembunyikan rasa malu.

Ah, wanita. Bahkan dua kata yang kau lontarkan membuatku merasa hendak menggenggam samudra.

“Ada yang salah ya di mukaku?” Tanyamu lagi.
“Ngg.. nggak, nggak ada. Bukunya bagus.” Jawabku, sedikit ragu. Satu-satunya hal yang salah di wajahmu adalah kenyataan bahwa Tuhan menciptakannya begitu sempurna, setidaknya begitu yang tertangkap bola mataku.
Lalu kau tertawa dan melanjutkan membaca. Aku menundukkan kepala, berusaha mencerna kata demi kata yang tercetak pada buku bersampul biru tua. Seharusnya, cintaku jatuh pada buku dan tulisan saja. Lebih mudah, jelas tidak perlu rumit menghadapinya.

Sejak kapan aku jadi puitis begini, aku ingin muntah saja.


Tiga.. empat.. lima… menit berlalu. Kita masih bisu menenggelamkan diri dalam tumpuk demi tumpuk buku. Koreksi, hanya kau, tidak aku. Karena mataku sesekali diam-diam mencuri lihat sosokmu. Sesekali ingin kuserapah perputaran dunia, sebab menjatuhkan kamu di tempat ini – yang dulunya kusebut surga. Kini, aku harus melihatmu setidaknya seminggu dua kali, dan sejak itu aku mengklaim, perpustakaan ini adalah jelmaan neraka.

Ya Tuhan, memendam rasa tidak pernah menjadi pekerjaan yang menyenangkan.

Namun rupanya dunia tak berhenti bermain sampai di situ saja, kau tahu? Entah sebab apa, kala itu kau menegurku. Kau bilang tertarik dengan buku yang kupegang, dan meminta izin untuk meminjamnya setelahku. Tentu saja aku langsung mengangguk bak kerbau dicucuk hidung, dan hatiku tanpa diperintah seketika bersenandung. Dan itulah hari dimana pertama kali kita membuat janji untuk bertemu di tempat ini lagi. Yang sesekali memaksa kita lanjut berjalan kaki menuju kedai kopi, menceritakan inci demi inci buku yang tadi kita kuliti. Membahasnya satu persatu seolah tidak ada hal lain yang bisa dibicarakan selain karakter-karakter mempesona, ending-ending mengejutkan, bait demi bait kata yang membuatmu berdecak kagum sepenuh ujung kaki hingga kepala.

Wahai nona, mencintaimupun membuat aku merasakan hal yang sama.
Tiga, empat, lima… jam berlalu. Aku tak habis pikir bagaimana bisa kau begitu betah hanya duduk dan membaca saja. Ya, memang ada kalanya kau tiba-tiba meletakkan bukumu dan beralih ke layar telepon genggam, mungkin penat dengan lembar-lembar kertas yang terus-terus kau pandangi. Atau ada orang yang harus kau hubungi, mungkin memberi tahu bahwa kau masih akan tinggal di sini sebentar lagi. Entahlah, apa yang kutahu tentang kau selain fakta bahwa kau adalah gadis yang sungguh gila membaca.

Gadis yang rupa-rupanya sanggup menyerap atensiku sejiwa seraga.

Tiga.. empat.. lima.. ha……, ah, hari, Tiga empat lima hari aku akan menemuimu kembali. Dan kepalaku akan memutar lagu yang sama, memainkan tiga empat lima berikutnya, tentu saja hanya di benakku sendiri. Yang sekejap menjadi tiga, empat, lima minggu dalam satu kedipan. Tiga, empat, lima, bulan. Terus begitu, hingga entah kapan lelah ini tak mampu lagi menahan.
Tak bisa kukatakan segenap rasa ini juwita, sebab kekasihmu tak pernah sekalipun alpa menjemputmu, tepat ketika buku terakhirmu genap dibaca. Aku, si bodoh ini, hanya akan menjadi lelaki yang mencintaimu sambil berhitung tiga, empat, lima.

Sebab saat bersamamu, rasa-rasanya aku lupa segenap angka, dan hanya mengingat tiga, empat, dan lima.

tiga, empat, lima

by on 9:40:00 PM
Tiga .. empat .. lima .. detik berlalu . B egitu saja. Waja hmu masih menjadi s atu-satunya objek yang dapat membuatku hilang kata-kat...
Langit mulai gerimis.

"Hujan selalu menyebalkan!" batin Rei sambil melintasi ruang kelas Kikan. Langkahnya mendadak terhenti ketika melihat Kikan berduaan dengan Danu. Perutnya mendadak terasa panas. Ia lantas mengamati mereka yang asyik membincangkan sesuatu. Mungkin karya ilmiah mereka, terlihat dari buku - buku yang bertebaran di meja Kikan. Rei hanya diam dan menunggu mereka selesai berbincang.

Lima menit kemudian, Danu keluar dari kelas. Pulang. Rei sontak bersembunyi di balik pilar, tak ingin ketahuan sudah memata - matai.
Setelah Danu jauh dari pandangan mata, ia kembali 'mengintai' Kikan yang kini sibuk membereskan buku - buku tadi. Menumpuknya.
Rei menunggu di luar, menahan rasa cemburu yang meledak - ledak di dada. Pikirannya sibuk menyusun kata - kata untuk menyerang Kikan.

"Ehm, asyik banget kayaknya tadi. sampai nggak inget bel pulang udah bunyi setengah jam lalu." sindirnya saat Kikan keluar kelas
"Apa sih?" jawab Kikan tak minat sambil memandang Rei yang bersandar di dinding. Buku - buku tadi bertumpuk di tangannya.
"Wah, pura - pura nggak tau. Itu tadi kamu asyik sama Danu." sindir Rei.
Kikan terus berjalan tanpa memandang Rei lagi. pundaknya terasa letih.
"Terserahlah, Rei." jawabnya pelan.
"Hei! tunggu! Aku cuma mau kamu jujur sekarang. Aku kan teman baik kamu, buat apa kamu sembunyikan dari aku? Kamu sama dia pasti ada apa - apanya, kan? Nggak mungkin kamu cuma temenan aja." peluru kata - kata yang tadi telah disusunnya, mulai dilesakkan satu demi satu.
"Apa sih, Rei? Kalau kamu kayak gitu terus - terusan, aku bisa nyangka kamu cemburu sama aku."
"Cemburu? mana mungkin! Aku cuma nggak suka kalau kamu sembunyiin sesuatu dari aku. Selama ini aja bilangnya cuma temen. padahal, diem - diem kamu pasti udah jadian kan sama dia? Wah, bahkan aku aja sampe nggak tau! jahat kamu, aku kan temen kamu.." suara Rei berbaur dengan deru hujan.
"Rei.. please.." Kikan sudah mulai merasa risih.
Rei tak peduli, ia melanjutkan kata - katanya yang terpotong, "..pantesan aja kamu jadi anggota KIR. pasti kamu pengen deket terus sama dia, kan? Aku udah ngira dari awal.."
"Rei, diam!"
"Kenapa? Malu ya ketauan udah naksir dia sejak lama? Kamu hebat banget udah bisa jadian sama Danu, cowok idaman.."
"Rei!"
"Kenapa nggak kasi tau semua orang aja? Kan bangga punya cowok ketua KIR..."
"Rei..." ia berhenti dan memandangi Rei lagi. Rei ikut berhenti tanpa memperhatikan kKkan dan terus saja menghujaninya dengan kata - kata.
"Wajar sih, kalau kamu suka banget sama dia. dia kan pinter, ganteng, ba..."
"YANG AKU SUKA TUH KAMU, REI! BUKAN DANU!" pekik Kikan, akhirnya. membungkam Rei dalam sekejap. Jantung Rei berdebar dua kali lebih cepat. perasaannya bercampur aduk, antara kaget dan senang. Rasa cemburu terkikis seketika.
"Nah, sekarang kamu mau bilang apa lagi?" katanya jengkel. namun, tak dipungkiri hatinya puas melihat reaksi Rei.
"Uhm..." Rei tampak salah tingkah, "Yaa.. sebenarnya itu bukan cara romantis buat nyatain cinta sih.." katanya seraya tersenyum jahil. Senyum Rei yang Kikan suka.
"Oh, ayolah Rei..." kata Kikan lelah, "Mendingan kamu bantu aku bawain buku - buku ini daripada sibuk nyeramahin aku."
Rei dengan sigap mengambil alih buku - buku di tangan Kikan. Mereka berjalan beriringan.
"Lagipula, aku nggak yakin kalau kamu punya cara yang lebih romantis buat nyatain cinta." kata Kikan. ia terkikik pelan di akhir kalimatnya.
"Oya? Siapa bilang? Gini - gini, aku juga bisa romantis, tau..!" sahut Rei.
"Hmm, kalau begitu, buktikan aja." jawab Kikan singkat. keduanya mengulum senyum. Beribu rencana beterbangan di pikiran Rei.

Hujan kian deras, tapi untuk pertama kalinya tak terasa menyebalkan bagi Rei. Sama sekali.


originally written at 24.12.2010, 577 kata

Hujan

by on 2:15:00 PM
Langit mulai gerimis. "Hujan selalu menyebalkan!" batin Rei sambil melintasi ruang kelas Kikan. Langkahnya mendadak terhenti ketik...
Yang kusayangi, (calon) agen perdamaian.


Sebenarnya saya sibuk sekali, banyak yang mesti saya urusi setiap hari. Seharusnya saya tidak sempat menulis surat balasan untuk kamu, namun karena kamu katanya sudah hopeless  jadi saya menyempatkan diri. Mungkin tidak bisa panjang - panjang, saya ada rapat dengan Komisi Perlindungan Bawah Laut setelah ini.

Kamu mau jadi agen perdamaian? Kamu salah alamat kalau mengirim surat untuk saya, mestinya kamu kirim ke presiden atau siapa saja yang kamu sebut berkuasa di tempat kamu. Siapa tahu kamu benar - benar diterima jadi agen? Kalau kamu kirim ke saya, saya bisa apa? Kecuali saya sama presiden kamu rajin BBM-an, mungkin saya bisa bantu rekomendasikan kamu.

Jadi, mohon maaf. Dengan menyesal saya beritahu, saya tidak bisa membantu banyak. Mungkin kamu akan menerima surat ini dengan kecewa, tapi daripada kamu nunggu - nunggu surat saya terus tambah hopeless? Saya prihatin sama kamu.

Begitu saja kiranya yang dapat saya informasikan. Sekian dan terima kasih telah menjalin kontak dengan saya. Baik - baik ya kamu di daratan sana.


Tertanda, Neptunus.

Ps. Kamu yakin kamu nggak tertarik jadi agen Neptunus? Setidaknya kamu bisa pake radar Neptunus untuk mencari perdamaian yang kayaknya sudah lama hilang. Pikir - pikir lagi ya, ini tawaran spesial lho.


Surat Balasan

by on 1:06:00 PM
Yang kusayangi, (calon) agen perdamaian. Sebenarnya saya sibuk sekali, banyak yang mesti saya urusi setiap hari. Seharusnya saya tidak se...
Hai Neptunus!

Perkenalkan, saya Isma. Oh tunggu dulu, surat ini bukan surat lamaran jadi agen Neptunus yang baru setelah Kugy sama Keenan pensiun loh ya...! Sempat kepikiran sih, tapi pas ditimbang - timbang saya nggak tertarik punya radar Neptunus. Kalau saya secantik Maudy Ayunda sih nggak papa, lha ini..  adanya malah dikira gila nanti.

Nus, saya pengen jadi agen. Tapi agen perdamaian. Saya sudah capek liat orang berantem. Saya capek liat air mata. Saya bosan liat huru - hara dimana - mana. Nah jadi itu kira - kira ngelamarnya ke bagian mana ya? Saya udah hopeless, nggak tau lagi mau nanya sama siapa. Jadi Nus, mohon bantuannya ya.

Dengan hormat,
(calon) agen perdamaian.

(bukan) Perahu Kertas

by on 5:04:00 PM
Hai Neptunus! Perkenalkan, saya Isma. Oh tunggu dulu, surat ini bukan surat lamaran jadi agen Neptunus yang baru setelah Kugy sama Keenan...
Untuk lelaki berjaket biru yang meminjam bukuku,


Hai, apa kabar? Baik sajakah? Aku agak cemas karena kamu menghilang beberapa waktu ini. Tidak kulihat lagi kamu duduk tenang membaca buku di sudut perpustakaan. Tidak kulihat kamu yang sesekali mendumel harus melepas jaket kesayanganmu dan menitipkannya di loket penitipan karena kebijakan perpustakaan ini  yang begitu aneh, melarang tamunya mengenakan jaket ketika membaca di dalam.

Kamu kemana? Aku butuh rekomendasi buku - buku yang harus aku baca. Biasanya kamu selalu menyarankan buku - buku terbaik yang aku tak pernah menyesal membacanya. Biasanya aku selalu mempercayaimu untuk memilihkan aku satu atau dua di antara beribu atau mungkin berjuta buku yang ada. Kamu seperti tour guide, dan aku adalah wisatawan setianya. Tak berlebihan bila aku sekarang kebingungan harus membaca apa tiap kali aku berkunjung. Kamu tidak ada.

Ingatkah kamu, terakhir kali kamu muncul di sini, giliran aku yang memberimu rekomendasi buku - buku yang menurutku bagus. Aku bahkan membawa tiga buku favorit milikku, yang kamu pinjam salah satunya. Buku yang paling aku sukai di antara dua yang lain. Kamu bilang kamu akan menghabiskannya dalam semalam dan besok kamu akan memberikan review terhadap buku tersebut. Kamu bahkan berkelakar akan melakukan bedah buku dan aku tertawa mengiyakan. Dalam pikiranku, kita pergi minum kopi di coffee shop tidak jauh dari sini dan berbicara panjang lebar mengenai buku tersebut. Tapi ternyata kamu tidak datang keesokan harinya.

Dan keesokannya lagi. Dan lagi.

Dan hingga hari ini, kamu tidak menampakkan diri. Sedikitpun. Tidak ada lagi jaket biru tua dengan ujung tali pengerutnya yang tergantung - gantung itu. Tidak ada lagi rambut ikalmu yang berantakkan, sampai kau risih sendiri jika jatuh menutupi wajahmu saat kamu sibuk membaca. Tidak ada lagi kamu yang menegurku, "Sudah baca buku ini? Di dalamnya kamu temui dunia kedua."

Lelaki berjaket biru yang kukagumi, tolong jawab, mengapa  kamu menghilang?

Kumohon munculah kembali. Bukan saja karena buku itu adalah buku favoritku dan akan sulit mencarinya sekarang karena itu buku tua. Tapi ada yang lebih dari itu.


Suratku sebelumnya, yang kuselipkan di dalam buku...
Aku butuh jawaban.

Iya, aku butuh jawaban.

Dimana?

by on 5:15:00 PM
Untuk lelaki berjaket biru yang meminjam bukuku, Hai, apa kabar? Baik sajakah? Aku agak cemas karena kamu menghilang beberapa waktu ini. ...
Kepada: Malam


Mohon jangan datang terlalu cepat hari ini, aku sedang menikmati senja.
Iya, berdua saja dengan dia. Kami tengah memuja - muji warna jingga.

Tolong beritahu matahari untuk tidak buru - buru menenggelamkan diri. Katakan padanya aku tengah bersandar padanya, di akhir sore yang separuhnya milik kami.


Sekali lagi, malam, jangan datang terlalu cepat. Aku tidak ingin dia pulang dan pergi. Menemui kekasihnya kala engkau tiba nanti.


Dari aku,
yang masih ingin membunuh rindu.

Pesan Kilat

by on 4:36:00 PM
Kepada: Malam Mohon jangan datang terlalu cepat hari ini, aku sedang menikmati senja. Iya, berdua saja dengan dia. Kami tengah memuja - ...
Kepada
Yth. Teman Sejawat dr. Lelaki, Sp. MBP
Spesialis Modus dan Bedah Perasaan
Jalan menuju masa depan
Pontianak

Dengan hormat,


Mohon konsultasi dan pengobatan selanjutnya untuk pasien atas nama Nona IRP, perempuan, usia 17 tahun ke atas dengan hasil pemeriksaan sering diajak jalan dan makan malam, diajak nonton, disepik dan ditemanin kalau lagi lembur. Pasien mengeluhkan kejelasan status. Diagnosa sementara terhadap pasien ialah friendzone asimtomatik. Hasil pemeriksaan laboratorium terlampir.
Penderita telah diberi terapi sementara berupa membatasi komunikasi dan menghindari faktor penyebab galau dengan dosis secukupnya. Diharapkan diberikan diagnosa pasti dan tatalaksana selanjutnya terhadap pasien.
Atas kesediaan Teman Sejawat, kami ucapkan terima kasih.


Hormat saya,



dr. Wanita
Jalan menuju kepastian
Pontianak




lampiran

HASIL LABORATORIUM

Mention dan DM: (+) 3 - 4 mention/TL/hari
SMS                 : (+) 132/1000 gratis sms/hari
Sepik               : (+)

Surat Rujuk(an)

by on 2:15:00 PM
Kepada Yth. Teman Sejawat dr. Lelaki, Sp. MBP Spesialis Modus dan Bedah Perasaan Jalan menuju masa depan Pontianak Dengan hormat, M...
Langit masih berwarna kelabu. Hujan baru saja berhenti setelah turun sederas – derasnya sejak pagi, menumpahkan tetes demi tetes air ke bumi. Bau daun – daun basah menguar, memberikan efek kesejukan jika menghirupnya.

Rena merapatkan tubuhnya. Sedikit menggigil akibat sejuk. Matanya sayu, ia sangat mengantuk. Hawa seperti ini adalah hawa yang paling ideal untuk tidur, bukannya untuk mendengarkan berbagai pemaparan teori atom mulai dari yang paling sederhana seperti yang diungkapkan Demokritus bahwa unsur terkecil suatu benda ialah atom, atau yang kompleks seperti teori atom Niels Bohr dan teori Mekanika Kuantum. Ah! Seperti mendengar dongeng sebelum tidur!


Ia lalu mengerling ke arah jam dinding. Masih lama, empat puluh menit lagi. Rasanya waktu berjalan sejuta kali lebih lambat siang ini. Pikirannya lalu bermain sendiri, berimajinasi, lalu tanpa sengaja teringat hal yang paling ia hindari…


Fathir. Mengingat nama itu saja bisa membawa beribu perasaan menyiksa. Seakan – akan semuanya memberontak di dada, ingin dikeluarkan paksa. Rena menarik nafas panjang, teringat sebuah kejadian yang masih teringat jelas di benaknya.


Malam itu seharusnya akan jadi malam yang sama seperti malam biasanya kalau saja Fathir tidak datang ke rumahnya mendadak. Tanpa memberitahu apa – apa. Rena tentu saja terkejut, walaupun ada perasaan senang yang melesak – lesak di hatinya. Fathir! Betapa ia sangat rindu padanya. Sangat – sangat rindu, hingga perasaan itu terkadang tak dapat diungkapkan lagi oleh kata – kata.


“Ada apa?” tanyanya riang setelah mempersilahkan Fathir duduk.
“Hmm, cuma numpang singgah. Tadi kebetulan lewat sini.” Jawab Fathir.
“You’re not good at lying, you know that?” Rena tertawa kecil. Basa – basi lama!
“Yeaah, I know. But you know what? I’m missing you that’s why I’m here…”


DEG!
Jantung Rena tiba – tiba saja berdetak lebih keras. Waktu serasa berhenti seketika.


Rena diam sejenak. Ia ingin sekali berkata bahwa ia juga merindukan Fathir sama besarnya. Bahkan mungkin lebih besar. Setiap hari, setiap menit, setiap detik mungkin selalu dihabiskan Rena untuk merindukannya. Tapi ia lantas teringat sesuatu.


“Hmm.. Dian tahu kamu kesini?” tanyanya hati – hati. Sekaligus takut.
“Nggak. Dia nggak tahu…” Fathir menunduk. Wajahnya semakin tak tampak.
 

Rena menghembuskan nafas berat. Hhh.. sudah disangka. Inilah yang paling ditakutkannya. Fathir… datang kesini tanpa sepengetahuan Dian. Fathir malah mengatakan hal – hal yang seharusnya tidak dikatakan kepadanya. Ini salah. Ini tidak seharusnya terjadi.
 

“Aku.. masih sayang sama kamu, Ren…” ungkap Fathir lamat – lamat.
Rena tersentak. Tak dipungkiri, batinnya bergejolak senang tapi akal sehatnya mengingatkannya kepada Dian dan perasaan bersalah kembali menyelimutinya.
 

"Aku juga sayang kamu. Tapi kamu…, Dian…” Rena sengaja menggantung kalimatnya. Membiarkan diam menyelesaikan.
 

Keduanya larut dalam diam. Semuanya sibuk dengan pikiran sendiri – sendiri. Sibuk menyusun kata – kata apa yang harus diucapkan saat itu.
 

Hati Rena gemuruh. Pikirannya berkecamuk hebat. Kata – kata Fathir tadi jelas membuatnya senang. Rasanya bahkan lebih membahagiakan dibandingkan mendapat nilai 90 di pelajaran Fisika. Tapi Fathir milik Dian, bukan miliknya lagi. Dan karna itulah, ia merasa sangat bersalah. Dia sekarang tidak punya hak apa – apa. Kata – kata tadi bukanlah miliknya, melainkan milik Dian. Tidak seharusnya tertuju padanya, tapi pada aDian..
 

Namun di sisi lain, pengharapan Rena juga kembali membunga. Ia pun tak bisa menyangkal ia masih menginginkan Fathir dan jelas ia tak rela jika Dian merebut tempat yang seharusnya menjadi miliknya. Jikalau Fathir masih menyayanginya, bukankah seharusnya ia yang bersama Fathir bukan malah Dian?

“Kamu nggak bisa putusin dia ya?” kata – kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rena. Memecah keheningan. 
Fathir diam dan terlihat berpikir keras. Rena menunggu respon dengan gugup.
 

“Ini nggak sesimpel kelihatannya, Rena. Aku nggak mau nyakitin siapapun, termasuk Dian…”
“Tapi kalau kayak gini, kamu nyakitin aku….!”
“Aku– ah.. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku bingung aku harus gimana. Dian.., dia nggak tahu apa – apa. Aku nggak akan bisa tiba – tiba ninggalin dia. Kamu tau kan posisi aku gimana…”
 

Rena jelas tahu. Tanpa perlu diberi tahu pun ia telah mengerti betul. Tapi ia juga tak terima dengan jawaban Fathir tadi. Hatinya memprotes keras. Seharusnya Fathir kembali saja padanya. Seharusnya Fathir meninggalkan Dian untuknya. Toh yang Fathir inginkan ialah dia, bukan Dian? Bukankah akan lebih baik jika kita bersama orang yang kita inginkan dan juga menginginkan kita?
 

“Aku mau kamu, Ren. Tapi aku nggak bisa putus dengan Dian gitu aja. Coba kamu yang di posisi Dian. Pasti sakit diputusin tanpa sebab. Kamu nggak salah apa – apa, nggak tau apa – apa tapi hubungan kamu berakhir gitu aja. Nggak adil kan rasanya? Dan lagi, aku harus bilang apa sama Dian? Gimana cara aku ngejelasin ke dia supaya aku bisa putus sama dia? Aku serba salah, Rena…” Fathir mencoba membuat Rena mengerti kesulitannya.
 

Rena mau tak mau mengakui bahwa ucapan Fathir memang benar. Ini tak adil buat Dian. Sama sekali.
“Hah, sudahlah. Jangan dibahas lagi.” Rena menyerah.
 

Fathir menarik nafas panjang. Ia lalu pamit untuk pulang. Sudah larut malam. Rena mengantarkannya hingga ke depan rumah. Ada perasaan berat melepaskan, seakan ada perasaan yang belum terselesaikan. Ia sebenarnya masih tak puas. Untuk apa Fathir datang kalau hanya menorehkan luka sekali lagi? Luka yang justru terasa lebih dalam.
 

Sebelum pulang, Fathir memandanginya sekali lagi, seolah – olah akan meninggalkan Rena untuk selamanya.
 

“Satu hal,” tukas Rena ketika Fathir menghidupkan motornya.
“Apa?”
“Bukan cuma kamu yang rindu. Aku juga…” ucap Rena diiringi dengan senyum dan air mata yang dipaksa setengah mati agar tak keluar. 

Fathir tersenyum. Ia menutup kaca helm, lalu melesat dengan motornya. Pergi. Ditelan malam.
 

Rena menangis sejadi – jadinya, seperti air mata diciptakan memang untuk dibuang begitu saja. Semua beban ingin dikeluarkan bersama – sama dengan air mata yang tak henti – henti menetes ke pipinya. Ia telah merasakan berbagai jenis rasa sakit, tetapi sepertinya rasa sakit inilah yang paling menusuk jiwa. 

 -0-

"Hoy! Ngelamun aja! Nggak nyatat?” tepukan kecil Nita mengejutkan Rena. Menghamburkan potongan – potongan cerita lama yang berputar dalam otaknya. Rena sontak memandangi jam. Sepuluh menit lagi bel sekolah berbunyi. Ia bahkan tak sadar apa yang terjadi di kelas selama tiga puluh menit tadi. Nita menatapnya heran.

“Eh, lo kenapa? Sakit?” tanyanya khawatir. Rena menggeleng pelan. Ia memberi isyarat pada Nita untuk kembali fokus pada penjelasan di depan. Ia pun mencoba mengembalikan konsentrasinya ke pelajaran. Sebisa mungkin dicobanya untuk mengerti penjelasan Pak Tanto yang kini sudah sampai pada spektrum atom Hidrogen. Namun ternyata sangat sulit, mengingat masih ada hal yang menjadi beban pikirannya. Tak sampai dua menit, perhatiannya tak lagi tertuju pada Pak Tanto…

-0-

Beberapa hari sudah lewat sejak peristiwa malam itu. Jujur saja, sejak kejadian mengejutkan sekaligus menyakitkan tersebut, Rena tak bisa tenang. Batinnya bimbang dan benaknya seperti selalu terbebani oleh sesuatu. Lalu datanglah hari itu..
 

Handphone Rena berbunyi, dering yang sangat Rena kenal. Dari Fathir! Rena bergegas mengangkatnya.
“Halo…?”
“Halo, Ren…”
Rena tak ingat percakapan apapun setelah itu. Basa – basi biasa yang Rena sudah lupakan. Yang membekas hanyalah satu hal. Jelas dan tegas.
“Ren, aku mau kamu lupakan peristiwa malam itu… Bisa kan?” pinta Fathir, sepertinya setelah banyak pertimbangan.
Rena tak menjawab. Tanpa diminta, air mata meluncuri pipinya. Berlomba – lomba turun, membuat matanya basah dalam waktu singkat.
“Ren? Rena..?”
Sambungan telepon diputus seketika.
 

Beberapa saat kemudian tangisnya mereda. Ia telah banyak mengambil kesimpulan dalam air mata. Ia telah memantapkan hatinya untuk membuat sebuah keputusan. Keputusan yang sebenarnya tak pernah diinginkannya. Ia lalu menghubungi Fathir balik,
 

“Halo Ren? Kamu nggak papa kan?” dari suaranya, terdengar Fathir sangat cemas.
“Fathir…”
“Ya?”
“Lupakan aja kita pernah ada. Bisa kan?” pinta Rena. Tegas dan jelas. Ia lalu memutuskan sambungan telepon sebelum Fathir sempat menjawab sepatah kata pun…


-0-

Dering bel mengejutkan Rena. Membuat angan – angannya buyar. Rena seperti baru terbangun dari tidur. Nita mengguncang – guncangkan tubuh Rena, memastikan bahwa temannya itu tidak apa – apa.
 

“Gue nggak kenapa – kenapa kok, Nit. Ini gara – gara hujan nih, jadi ngantuk banget. Gue nyaris tidur tadi.” ujar Rena seraya mengemaskan buku – bukunya.
“Ya.. kirain aja lo jadi terpesona ngeliatin Pak Tanto. Hahaha…” tukas Nita, lega temannya baik – baik saja.
“Ya nggak lah, asal banget! Lo kali tuh, sampe nggak kedip gitu ngeliatinnya…” Rena balik meledek. 

Mereka berjalan keluar kelas sambil tertawa bersama. Saling meledek dan bercanda lalu tertawa lagi. Rena sejenak lupa akan kesedihannya sampai saat tak sengaja matanya menangkap Fathir sedang berjalan dari kejauhan, ada Dian di sisinya.
 

Rena berhenti tertawa. Ia buru – buru mengalihkan perhatian pada Nita yang menyerocos tentang betapa dinginnya hari ini. Sesekali ia tertawa dan menanggapi temannya yang tak berhenti berceloteh itu.
 

Diam – diam Rena mencuri pandang ke arah Fathir dan Dian lagi. Hatinya menangis.
Mudah saja bagimu untuk melupakan peristiwa waktu itu…


"Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku"

 

***

Malam itu mungkin bisa dikatakan malam paling melankolis bagi Fathir. Pikirannya galau, melayang – layang entah kemana. Beribu kata berkecamuk di kepalanya. Ia telah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan perasaan aneh itu, tapi apapun yang ia coba lakukan tampaknya hanya memperburuk perasaannya.
 

Tak lama ia memutuskan untuk pergi keluar, menghirup udara malam. Ia mengambil kunci motor yang digantungnya di tempat biasa dan bergegas ke garasi. Ketika akan menghidupkan motor, handphonenya berbunyi. Panggilan masuk.
“Kamu lagi apa?” Dian.
“Ga lagi apa – apa kok.” jawabnya pendek.
“Hmm, udah makan?” tanya Dian lagi. Pertanyaan basi! Pikirnya malas.
“Udah. Kamu juga udah kan?”
“Belum nih, belum laper.” jawab Dian dengan nada manja, minta dibujuk.
“Makan gih sana, udah malem gini. Nanti mag kamu kambuh baru deh panik…” setengah hati ia membujuk Dian.
“Iyaa… nanti aku pasti makan kok. Kamu..”
“Dian, udahan dulu ya. Aku ngantuk banget hari ini. Aku pengen tidur…” Fathir memotong perkataan Dian.
“Oh…, gitu ya? Ya udah, kamu tidur aja. Selamat tidur ya. Miss you…”
Fathir terdiam sesaat. Beberapa detik hening, baru ia menjawab. Singkat.
“Miss you too.”
 

Pembicaraan terputus. Tanpa membuang lebih banyak waktu, ia langsung menghidupkan motornya dan melesat pergi. Sekarang ia sudah tahu harus kemana.


 -0-

Fathir memencet bel ragu. Bisa saja semua orang di rumah itu mengomelinya atau menganggapnya tidak punya jam sampai – sampai bertamu semalam ini. Ia melirik sekilas ke jam tangannya. Setengah sembilan malam. Beruntung sekali kalau ia tak sampai diusir dari sini.
 

Pintu dibuka dan keluarlah gadis yang sepertinya jadi alasan kebimbangannya selama ini.
 

“Fathir?” nyata sekali gadis itu begitu terkejut atas kedatangannya. Ia pun dipersilahkan duduk.
“Ada apa?” dari nada bicaranya, gadis itu terkesan senang.
“Hmm, cuma numpang singgah. Tadi kebetulan lewat sini.” Jawabnya mencoba berbasa – basi.
“You’re not good at lying, you know that?” Ya, gadis yang bernama Rena ini terlalu kenal dia.
“Yeaah, I know. But you know what? I’m missing you that’s why I’m here…” Fathir tidak tahu mengapa kata – kata yang selama ini menggedor – gedor hatinya itu keluar begitu saja. Tapi jujur saja, setelah mengungkapkannya, ia merasa seribu kali lebih baik.
 

 “Hmm, Dian tahu kamu kesini?” senyum Fathir lenyap seketika. Mengapa Rena harus menyinggung nama itu? keluhnya di dalam hati.
“Nggak. Dia nggak tahu.” jawabnya singkat, berharap Rena tak membicarakan Dian lagi.
 

Tapi ternyata, Rena justru jadi bungkam. Fathir pun semakin resah. Tiba – tiba saja ia merasa harus mengatakan apa yang sebetulnya tak boleh dikatakan.
 

“Aku.. masih sayang sama kamu, Ren…” ungkapnya perlahan.
“Aku juga sayang kamu. Tapi kamu…, Dian…” Fathir bisa melihat perubahan warna pada raut wajah Rena.
 

Nama itu lagi! Fathir memaki dalam hati. Pikirannya mendadak kembali kacau. Mereka jadi sama – sama diam. Canggung.
“Kamu nggak bisa putusin dia ya?” Jantung Fathir seperti ditarik paksa. Ia tahu, lama – kelamaan pertanyaan ini akan ditanyakan Rena dan sampai saat ini ia masih tak tahu harus menjawab apa.
“Ini nggak sesimpel kelihatannya, Rena. Aku nggak mau nyakitin siapapun, termasuk Dian…” ia berusaha agar tak terlihat gugup.
“Tapi kalau kayak gini, kamu nyakitin aku….!” nada suara Rena sedikit naik.

“Aku– ah.. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku bingung aku harus gimana. Dian.., dia nggak tahu apa – apa. Aku nggak akan bisa tiba – tiba ninggalin dia. Kamu tau kan posisi aku gimana…” tiba -  tiba saja wajah Dian membayanginya. Menghantuinya. Tiba – tiba ia jadi merasa sangat bersalah. Merasa tak seharusnya ini terjadi. Tiba – tiba ia terbayang Dian yang terluka apabila ia tahu tentang semua ini. Ia memang tak punya rasa yang lebih dalam untuk Dian sedalam rasanya pada Rena, tapi ia tetap tak suka perasaan tidak enak apabila ia menyakiti hati siapapun, apalagi Dian yang tak tahu apa – apa. Dian yang tak sengaja terseret dalam kehidupannya.
 

“Aku mau kamu, Ren. Tapi aku nggak bisa putus dengan Dian gitu aja. Coba kamu yang di posisi Dian. Pasti sakit diputusin tanpa sebab. Kamu nggak salah apa – apa, nggak tau apa – apa tapi hubungan kamu berakhir gitu aja. Nggak adil kan rasanya? Dan lagi, aku harus bilang apa sama Dian? Gimana cara aku ngejelasin ke dia supaya aku bisa putus sama dia? Aku serba salah, Rena…”
 

Fathir tahu Rena tak akan menerima penjelasannya. Ia menyumpah – nyumpah dirinya sendiri karena telah menyakiti hati gadis yang sangat disayanginya itu. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksanya untuk bersikap demikian.
 

“Hah, sudahlah. Jangan dibahas lagi.” tolak Rena lemah.
Sesungguhnya, Fathir berharap Rena memukuli atau memakinya saja.
 

Ia melihat jam tangannya, sudah sangat malam. Fathir permisi untuk pulang dengan perasaan tak lebih baik dari seorang pengecut dan pecundang. Ia memandang Rena, mencoba menunjukkan perasaan bersalah dari sorot matanya. Berharap dalam hati semoga Rena tak memutuskan kontak dengannya setelah ini.
 

 “Satu hal,” baru saja Fathir menstarter motornya.
 “Apa?” ia menoleh ke Rena dengan cemas.
 “Bukan cuma kamu yang rindu. Aku juga…”
 

Hatinya mendadak berbunga. Ia lantas tersenyum dan pergi. Jauh meninggalkan Rena. Berharap dapat melupakan pancaran lembut matanya. Tapi yang dirasa hanyalah kepahitan.
 

-0-
Beberapa hari setelahnya, Fathir semakin galau. Namun ia tetap bersikap tak ubahnya pacar yang sempurna bagi Dian. Ia tetap menelepon Dian, menyuruhnya makan, mendengarkan ceritanya dan berbagi cerita sehari – hari sekedarnya. Berkata ‘tidak ada apa – apa’ setiap kali Dian merasa ada kejanggalan dari tingkah lakunya. Fathir jadi merasa semakin bersalah. Ia terkadang mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa berterus terang pada Dian dan mengakhiri kepura – puraannya saja. Ia tak bisa, ia terlanjur masuk dalam kehidupan Dian. Ia terlanjur membuat Dian sayang padanya, dan ia tak bisa merusak begitu saja kebahagiaan seseorang, apalagi seseorang itu adalah pacarnya…
 

Lalu hari itu, ia memutuskan untuk menelepon Rena.
 

“Halo?”
“Halo Ren..”
Basa basi biasa, lalu ia langsung pada inti pembicaraan. Ia tak boleh menunda – nunda lagi. Sebelum ia kembali merasa berat untuk mengatakannya.

“Ren, aku mau kamu lupakan peristiwa malam itu… Bisa kan?” pintanya setelah berkali – kali menghela nafas panjang.
 

Lama Fathir menunggu reaksi dari Rena, tapi lawan bicaranya di seberang itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya diam.
“Ren? Rena..?” panggilnya. Memastikan komunikasi itu bukanlah komunikasi searah.
Tut.. tut.. tut… Telepon diputus.
 

Inilah yang Fathir takutkan. Ia telah menyiapkan sejuta argumen dan alasan untuk berbagai tanggapan yang kemungkinan akan dilontarkan Rena. Tapi ia tak punya persiapan apa – apa jika Rena menanggapinya dengan cara seperti ini. Dengan membungkam. Ia ingin menelpon Rena lagi tapi takut panggilannya hanya sia – sia. Ia memutuskan untuk menunggu saja, sambil memikirkan harus berbuat apa ketika tak lama handphonenya berdering. Rena menelponnya balik.
 

Ragu, dijawabnya telepon dari Rena penuh bimbang, “Halo Ren? Kamu nggak papa kan?”
“Fathir…”
“Ya?”
“Lupakan aja kita pernah ada. Bisa kan?”
Permintaan Rena ini terdengar seperti teriakan skak mat baginya.


-0-

“Kita mau makan dimana?” Dian memandangnya dengan tatapan sayang.
“Hmm, di tempat kemarin juga enak. Terserah kamu sih, kamu lagi pengen makan apa. Aku fleksibel kok.” jawabnya lembut.
“Oke deh. Makan sushi aja ya. Aku lagi ngidam nih.” Dian mencoba bergurau.
“Ngidam? Kayak ibu – ibu hamil aja…” Fathir tertawa kecil, menanggapi gurauan Dian. Ia berusaha menampilkan senyuman termanis. Setelah Dian tak memperhatikannya,
ia mengedarkan pandangan ke penjuru sekolah lalu secara spontan memusatkan perhatiannya ke arah kelas Rena. Tanpa sadar, matanya mencari – cari sosok gadis itu. Ia menoleh lagi ke belakang. Melihat Rena yang sedang bersenda gurau dengan Nita. Menikmati cara tertawa Rena yang lepas sambil berharap ia juga dapat tertawa lepas seperti itu tiap kali Dian membuatnya berada di dalam situasi yang mengharuskannya untuk tertawa.
 

Pikirannya memutar kembali kenangan – kenangan bersama Rena, dan entah mengapa hatinya terasa perih luar biasa.
Mudah saja bagimu menganggap kita tidak pernah ada…


"Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku"



(Sheila On 7 - Mudah Saja)   

mudah saja

by on 5:04:00 PM
Langit masih berwarna kelabu. Hujan baru saja berhenti setelah turun sederas – derasnya sejak pagi, menumpahkan tetes demi tetes air ke bumi...
hari itu, aku berjalan sendirian. tidak tahu jalan, tidak pula tahu arah.
hari itu, aku melihat ke depan, sejauh yang bisa kupandang hanyalah jejalan kosong dan sepi menyelimuti sesisian.
hari itu, aku tidak pernah menduga bahwa perjalananku tak akan pernah menjadi sama.

hari itu, kita berpapas jalan.

dengan sebuah cara yang tidak biasa, karna kukira jalanku pada awalnya lurus, tanpa persimpangan.

"kau mau kemana?" tanyaku
"hmm, tidak tahu. kau?" kau malah balik tanya.
"kurasa aku akan lurus saja." jawabku.
"baiklah, aku ikut."

aku mengangguk kepala. tidak apalah, setidaknya aku tak sendirian.

lalu kita berjalan bersama, bersisian.

"kenapa kau sendirian?" katamu.
"entahlah, aku hanya belum bertemu teman seperjalanan yang tepat.'
"oh ya? tidak apa aku menyertaimu?" tanyamu, seperti menginterogasi.
"tak apa." aku tersenyum.


dan percakapan kita kemudian membumbung di sepanjang perjalanan. kau, dengan idealismemu. aku, dengan realistisku.
kau memaksa aku membentuk pola pikir baru, tentang 'teman seperjalanan', tentang hubungan, sama halnya aku memaksamu melihat dari kacamataku tentang bagaimana teman seperjalanan dapat perlahan pergi meninggalkan, dan pahitnya kembali berjalan sendirian.
tetiba jalanan yang biasa kulihat lurus, satu demi satu membuka. memperlihatkan rupa ujungnya. kau serta merta melukisi masa depan, untukku.

"terimakasih." katamu
"untuk apa?"
"menjadi teman perjalanan yang baik."
"aku pun berterimakasih, kalau begitu."

pada menit kau mengatakannya, kau memulas senyum. kupikir aku tau dengan siapa aku akan menghabiskan sisa perjalanan ini.
aku melihat ke depan,
"tak jauh lagi." pikirku, dalam hati.

sampai beberapa detik setelahnya,
"hei, ada persimpangan."
ujarmu, seperti tahu bahwa memang akan ada cabang pada jalan kita.

"aku harus berbelok." kau melanjutkan.
"kenapa?" aku gelisah.
"lihat ke ujung jalan itu. ada seseorang yang menungguku. dia minta ditemani. akulah teman seperjalanannya." matamu berbinar - binar.
"lalu kenapa kemarin kau berbelok ke jalanku?" tanyaku, heran.
"entahlah, terkadang ada masanya kau ingin mengambil jalan yang berlainan."

aku hanya diam.
kau pergi.
dan aku hanya diam..


"terimakasih ya." kau sempat menoleh.
"tidak perlu." jawabku. ya, sembari tersenyum.

aku memandangi jalanku lagi, perlahan lukisan yang telah kami deskripsikan bersama, memudar satu per satu..


di titik itu, aku tahu, mungkin ini saatnya untuk berhenti.
bukan pemberhentian karena aku berada di ujung perjalanan.

hanya sebuah koma,
aku ingin berhenti sejenak, aku lelah.

sebuah koma

by on 9:09:00 AM
hari itu, aku berjalan sendirian. tidak tahu jalan, tidak pula tahu arah. hari itu, aku melihat ke depan, sejauh yang bisa kupandang hanyala...