(bukan lagi) surat cinta

Salam berbahagia,


Kutulis surat ini untukmu sebab bagiku, kata-kata mampu lebih banyak bicara dalam bentuk tulisan daripada diucapkan. Berbicara padamu adalah satu dari sekian banyak hal yang tak mampu kulakukan -saat ini- sebab mungkin di waktu engkau membacanya, aku tengah mengurung diri dalam kamar, menangis atau sekedar menenggelamkan diri dalam sedih yang kubuat sendiri.


Ini bukan surat cinta, kau harus mengerti itu. Surat cinta mengandung kata 'cinta' di dalamnya, sementara aku telah membuang jauh-jauh cinta ketika menuliskan ini. Bertahun kujadikan cintaku seperti barang tak berharga yang kuberikan padamu cuma-cuma, namun entah cintaku yang terlalu kecil ataukah hatimu yang terlalu sempit sehingga tak sedikitpun perasaanku ini menyentuh hatimu.
Lelah cintaku menunggu dan mengetuk pintu, kau biarkan saja duduk di depan rumah, kehausan dan kelaparan. Kau isi hatimu dengan yang lain, kau biarkan cintaku merana seorang diri, sampai pada waktunya, yaitu kini, ia memutuskan untuk pergi.


Memendam cinta sedemikian lama tak pernah jadi pekerjaan yang menyenangkan, tahu?


Aku sadar bukan segenapnya salahmu perkara tak membalas sedikitpun perasaanku. Aku sadar pula bukan salahmulah aku menjatuhkan cintaku kepadamu. Namun tak bisa kusalahkan pula diriku sendiri sebab aku yang menanggung perasaan ini. Mencintaimu itu menghidupkanku. Saraf-saraf sensorik-motorikku bangkit berdiri, otakku menulis ratusan puisi. Tak usah kau tanyakan betapa aku bisa melakukan banyak hal yang kukira tak kuasa kulakukan, atas nama cinta. Namun sayangku (yang tak menyayangiku), mencintaimu pun mematikan. Membunuh segala harapan, menikam segala angan, ketika aku sampai pada titik menyadari, tak mungkin kau kumiliki.


Atas itulah kulayangkan surat ini. Bukan maksud melimpahkan segala-gala rasa ini padamu, namun sebagai caraku memberitahu bahwa telah sekian lama, hatiku tersimpan untukmu saja.
Namun sebagaimana yang telah kau isyaratkan dari perkataanmu, dari caramu memperlakukanku, dari pilihan hatimu yang tak suah memilihku, aku paham sepaham-pahamnya, bahwa rasa ini hanyalah sepihak.


Maka biarkan aku meminta perasaanku lagi 'tuk kusimpan sendiri. Sampai hilang ditelan tahun, windu, dasawarsa, atau jika tetap ada pun ya biarlah kutelan untukku saja. Aku hanya ingin kau tahu dari diriku langsung, bahwa aku memang mencintaimu.


Berbahagialah bersamanya, jika yang kalian rasakan itu cinta. Aku tak mengapa, bukankah tak ada ketentuan mencintai itu bersambung dengan memiliki? Kalian salah dua yang beruntung, keberuntunganku mungkin lain kali, maka tenanglah, aku akan baik-baik saja entah esok atau lusa atau nanti.


Aku hanya tak mampu menyakiti diri sendiri lebih jauh. Cukup sampai disini.


Selamat sore, dan semoga cinta selalu menyertaimu meski tak ada lagi cinta dalam surat ini.


Dari aku, yang menyayangimu diam-diam
lalu memutuskan untuk tak hanya diam.

2 comments:

  1. woah, kamu mau nyatain cinta?? woawoawoawoawaoaw
    semoga sukses yak. :D
    -ika, tukangpos

    ReplyDelete
  2. heheh bukan aku kaak, ini cuma fiksi sajaaahh :P

    ReplyDelete

hey, you should leave a trace :D